Magelang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Magelang kembali menggelar tradisi Gerebeg Ketupat yang menjadi agenda tahunan pascaIdulfitri, sekaligus menjadi simbol eratnya hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat.

Bupati Magelang Grengseng Pamuji di Magelang, Sabtu, menyampaikan, Kerebeg Ketupat tidak hanya menjadi tradisi budaya, tetapi juga bagian dari upaya menyatukan pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan daerah.

"Gerebeg ketupat ini menjadi salah satu bentuk hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat yang menyatu menjadi satu kesatuan dalam rangka mewujudkan visi misi Kabupaten Magelang,” katanya.

Dari sisi filosofis, katanya, ketupat memiliki makna mendalam bagi masyarakat, khususnya dalam suasana Idulfitri. Tradisi ini menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri.

“Ketupat ini melambangkan ‘ngaku lepat’ atau mengakui kesalahan. Ini menjadi modal kita, termasuk pemerintah daerah, untuk terus memperbaiki diri dalam pembangunan ke depan,” katanya.

Namun demikian, tingginya antusiasme masyarakat yang berebut ketupat dalam acara tersebut menjadi perhatian tersendiri. Pemerintah daerah menilai perlu adanya evaluasi terhadap tata kelola pelaksanaan kegiatan agar ke depan lebih tertib dan aman.

“Kita melihat antusias masyarakat sangat tinggi, tetapi tata kelolanya perlu diperbaiki. Jangan sampai ada risiko seperti terinjak atau hal lain yang tidak diinginkan. Ini sudah diatur waktunya, kapan masyarakat bisa menggrebeg agar semuanya aman,” katanya.

Ia menuturkan, evaluasi akan difokuskan pada pengaturan teknis di lapangan agar kegiatan dapat berjalan lebih nyaman dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Terkait jumlah ketupat, pemerintah daerah tidak menjadikannya sebagai fokus utama. Sebaliknya, jumlah gunungan ketupat menjadi perhatian karena memiliki makna simbolis.

"Angka tujuh pada gunungan itu melambangkan ‘pitulungan’ atau pertolongan, serta ‘pitutur’ atau nasihat. Ini menjadi harapan kita bersama agar Kabupaten Magelang selalu mendapatkan limpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa," katanya.

Pemerintah Kabupaten Magelang berharap, melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya merasakan kemeriahan budaya, tetapi juga nilai-nilai kebersamaan, keselamatan, dan spiritualitas yang terkandung di dalamnya.

Baca juga: Wamensos: Gerebeg Ketupat momentum kebangkitan masyarakat Magelang