Waspadai modus pencurian data priibadi melalui phishing
Kamis, 28 Maret 2024 12:07 WIB
Foto bersama pada kegiatan Gali Ilmu Literasi Digital di Kota Denpasar pada Jumat (22/3/2024) dengan tema Makin Cakap Digital dengan 4 Pilar Literasi Digital dan Produktivitas di Era Digital. ANTARA/Ist
Semarang (ANTARA) - Modus pencurian data pribadi melalui phishing adalah kejahatan dunia digital yang berbahaya dan akhir-akhir ini marak terjadi melalui media sosial, salah satunya melalui pesan whatsapp. Banyak kasus phishing terjadi dengan mengirimkan link yang tidak terverifikasi melalui pesan whatsapp tersebut, karenanya harus diwaspadai.
“Semisal bapak dan ibu menerima link paket untuk dilacak atau pun surat undangan, jangan langsung diklik, karena jika bapak dan ibu mengklik link tersebut, maka data pribadi bapak dan ibu dicuri,” kata Ketua Tim Literasi Digital Adya Foundation I Komang Suartama.
Komang menambahkan, verifikasi terhadap sumber link dan memeriksa kredibilitas dari pengirim pesan adalah hal yang wajib dilakukan. Bukan hanya itu, sikap kita dalam menghadapi hal semacam itu juga menjadi faktor penting.
“Harus dapat menjaga emosi, jangan panik, periksa apakah linknya aman atau tidak, kenali ciri-ciri link yang berbahaya,” lanjutnya.
Menurut Komang, edukasi terkait digital skill menjadi hal yang krusial bagi masyarakat Serangan. Hal itu karena masyarakat juga harus turut serta berperan aktif dalam mengantisipasi adanya kejahatan-kejahatan yang muncul sebagai side effect kemajuan teknologi. Tidak hanya soal phishing, hoaks masih pula menjadi momok menakutkan bagi pesatnya digitalisasi.
“Biasanya kita dapat informasi di media digital lebih cepat daripada di koran. Hal itu adalah keunggulan pertama yang kita dapatkan dari mengakses media digital. Kemudian informasi bisa tersebar secara luas dan cepat, sehingga memudahkan kita dalam berbagi,” jelasnya.
Pada saat sebelum membagikan informasi, lanjut Komang, kita perlu memeriksa kredibilitas sumber berita. Masyarakat diharapkan dapat mengetahui berita mana yang layak dibagikan dan mana yang tidak.
“Apabila kemudian ditemukan berita yang mencurigakan, bapak dan ibu dapat melaporkan berita tersebut melalui aduan konten atau turnbackhoax.id,” pungkas Komang.
Bincang-bincang soal hoaks, Dosen Universitas Primakara Putri Anugrah Cahaya Dewi juga turut memaparkan pendapatnya. Menurut Putri, hoaks itu layaknya virus di mana jika kita ikut menyebarkan, virus itu bisa merebak ke berbagai arah.
“Jika kita mendapati berita itu tidak benar, maka kita harus menghentikan virus itu di kita agar kemudian tidak semakin menyebar,” katanya.
Saat ada yang kita kenal menyebarkan berita, lanjut Putri, perlu ditanyakan lagi keabsahan berita kepada yang bersangkutan. Jika dirasa sumber yang tertera tidak kredibilitas atau bahkan mencurigakan, hentikan di kita.
“Apapun yang kita sebarkan, kita memiliki andil di situ, sehingga kita harus tahu apa konsekuensinya. Jejak digital adalah hal yang nyata, sebabnya perlu kehati-hatian di media sosial,” lanjutnya.
Etika digital kemudian menjadi unsur yang penting dalam proses menyebarkan berita dan mengunggah konten. Hal itu adalah salah satu bentuk kontribusi
masyarakat dalam menjaga keseimbangan dan keamanan di ruang digital.
“Berkomunikasi di media sosial, harus hati-hati dengan apa yang kita posting, kritis terhadap berita yang kita terima, sebutkan sumber kita mau sharing data, jaga tata bahasa, dan jaga emosi di ruang digital,” pungkasnya.
Kegiatan Gali Ilmu Literasi Digital di Kota Denpasar pada Jumat (22/3/2024) dengan tema “Makin Cakap Digital dengan 4 Pilar Literasi Digital dan Produktivitas di Era Digital” tersebut merupakan rangkaian kegiatan program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).
“Semisal bapak dan ibu menerima link paket untuk dilacak atau pun surat undangan, jangan langsung diklik, karena jika bapak dan ibu mengklik link tersebut, maka data pribadi bapak dan ibu dicuri,” kata Ketua Tim Literasi Digital Adya Foundation I Komang Suartama.
Komang menambahkan, verifikasi terhadap sumber link dan memeriksa kredibilitas dari pengirim pesan adalah hal yang wajib dilakukan. Bukan hanya itu, sikap kita dalam menghadapi hal semacam itu juga menjadi faktor penting.
“Harus dapat menjaga emosi, jangan panik, periksa apakah linknya aman atau tidak, kenali ciri-ciri link yang berbahaya,” lanjutnya.
Menurut Komang, edukasi terkait digital skill menjadi hal yang krusial bagi masyarakat Serangan. Hal itu karena masyarakat juga harus turut serta berperan aktif dalam mengantisipasi adanya kejahatan-kejahatan yang muncul sebagai side effect kemajuan teknologi. Tidak hanya soal phishing, hoaks masih pula menjadi momok menakutkan bagi pesatnya digitalisasi.
“Biasanya kita dapat informasi di media digital lebih cepat daripada di koran. Hal itu adalah keunggulan pertama yang kita dapatkan dari mengakses media digital. Kemudian informasi bisa tersebar secara luas dan cepat, sehingga memudahkan kita dalam berbagi,” jelasnya.
Pada saat sebelum membagikan informasi, lanjut Komang, kita perlu memeriksa kredibilitas sumber berita. Masyarakat diharapkan dapat mengetahui berita mana yang layak dibagikan dan mana yang tidak.
“Apabila kemudian ditemukan berita yang mencurigakan, bapak dan ibu dapat melaporkan berita tersebut melalui aduan konten atau turnbackhoax.id,” pungkas Komang.
Bincang-bincang soal hoaks, Dosen Universitas Primakara Putri Anugrah Cahaya Dewi juga turut memaparkan pendapatnya. Menurut Putri, hoaks itu layaknya virus di mana jika kita ikut menyebarkan, virus itu bisa merebak ke berbagai arah.
“Jika kita mendapati berita itu tidak benar, maka kita harus menghentikan virus itu di kita agar kemudian tidak semakin menyebar,” katanya.
Saat ada yang kita kenal menyebarkan berita, lanjut Putri, perlu ditanyakan lagi keabsahan berita kepada yang bersangkutan. Jika dirasa sumber yang tertera tidak kredibilitas atau bahkan mencurigakan, hentikan di kita.
“Apapun yang kita sebarkan, kita memiliki andil di situ, sehingga kita harus tahu apa konsekuensinya. Jejak digital adalah hal yang nyata, sebabnya perlu kehati-hatian di media sosial,” lanjutnya.
Etika digital kemudian menjadi unsur yang penting dalam proses menyebarkan berita dan mengunggah konten. Hal itu adalah salah satu bentuk kontribusi
masyarakat dalam menjaga keseimbangan dan keamanan di ruang digital.
“Berkomunikasi di media sosial, harus hati-hati dengan apa yang kita posting, kritis terhadap berita yang kita terima, sebutkan sumber kita mau sharing data, jaga tata bahasa, dan jaga emosi di ruang digital,” pungkasnya.
Kegiatan Gali Ilmu Literasi Digital di Kota Denpasar pada Jumat (22/3/2024) dengan tema “Makin Cakap Digital dengan 4 Pilar Literasi Digital dan Produktivitas di Era Digital” tersebut merupakan rangkaian kegiatan program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).
Pewarta : Nur Istibsaroh
Editor : Edhy Susilo
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mispersepsi AI, dosen UMS tekankan adaptasi teknologi dan literasi kritis
21 February 2026 16:42 WIB
OJK dan penyuluh agama tingkatkan literasi keuangan syariah di wilayah Jateng-DIY
18 February 2026 15:51 WIB
Mahasiswa KKN-Dik UMS hadirkan Lapak Baca tumbuhkan semangat literasi generasi muda
11 February 2026 15:42 WIB
Mahasiswa KKN-Dik UMS gelar sosialisasi literasi hoaks di Kelurahan Langkai Palangka Raya
07 February 2026 14:46 WIB
Mahasiswa KKN-Dik FKIP UMS dorong literasi digital di MTs Muhammadiyah 5 Jumantono
04 February 2026 15:02 WIB
Teknik Elektro UMS komitmen perkuat literasi kampus sejak dini lewat kunjungan pelajar
04 February 2026 14:44 WIB
Terpopuler - Pendidikan
Lihat Juga
Dekan SV Undip tekankan integritas dan profesionalisme pada first gathering BEM
13 March 2026 13:18 WIB
Mahasiswa asing UMS gaungkan dakwah internasional di SD Muhammadiyah PK Baturan Colomadu
12 March 2026 19:32 WIB
Yayasan Nur Hidayah Surakarta perkuat peran dalam pendidikan, dakwah, dan kemanusiaan
11 March 2026 21:43 WIB
Mendiktisaintek RI kunjungi UMS bahas penguatan riset dan pengembangan kampus PTMA
11 March 2026 17:32 WIB