Logo Header Antaranews Jateng

Pemprov Jateng dukung penguatan gizi dan literasi Al Quran untuk santri

Senin, 9 Maret 2026 17:05 WIB
Image Print
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, bersama jajaran PBNU saat peluncuran program Gerakan Alquran dan Gizi untuk Santri (AGUS) Pondok Pesantren Al Uswah, Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (8/3/2026). (ANTARA/HO-Pemprov Jateng)

Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengapresiasi peluncuran program Gerakan Alquran dan Gizi untuk Santri (AGUS) yang diinisiasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Program tersebut dinilai menjadi langkah konkret untuk memperkuat kualitas santri, baik dari sisi pendidikan Al Quran maupun pemenuhan gizi.

Apresiasi itu disampaikan Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen saat menghadiri peluncuran program AGUS di Pondok Pesantren Al Uswah, Gunungpati, Kota Semarang, Minggu.

Menurut dia, program tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus mendukung program nasional pemenuhan gizi masyarakat.

"Kami mengapresiasi PBNU dan seluruh jaringan NU yang ikut menyukseskan dua program ini, yaitu penguatan pembelajaran Al Quran melalui distribusi mushaf, serta dukungan terhadap pemenuhan makanan bergizi," katanya.

Ia mengatakan Pemprov Jateng selama ini juga memberikan perhatian terhadap pendidikan Al Quran, dengan memberikan tali asih kepada para penghafal Al Quran sebagai bentuk penghargaan dan motivasi bagi generasi muda untuk terus mencintai serta mempelajari Al Quran.

"Dengan adanya distribusi mushaf ini, kami berharap semakin banyak santri yang terdorong untuk mempelajari, menghafal, dan mengamalkan Al Quran," kata Gus Yasin, sapaan akrabnya.

Program AGUS diluncurkan dengan distribusi 100 ribu mushaf Al Quran senilai sekitar Rp10 miliar serta bantuan 20 ton telur bagi pesantren. Inisiatif ini digagas oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU bekerja sama dengan Yayasan Al Fatihah.

Manajer Program AGUS Ulun Nuha menjelaskan bahwa kebutuhan terhadap dukungan bagi santri masih cukup besar.

Berdasarkan data Kementerian Agama, terdapat lebih dari 28 ribu pesantren yang berafiliasi dengan NU dengan sekitar 1,6 juta santri mukim, bahkan diperkirakan mencapai lima juta santri secara keseluruhan.

Ia menyebutkan di sejumlah pesantren masih ditemukan keterbatasan mushaf Al Quran sehingga santri harus bergantian saat belajar.

Selain itu, sejumlah riset juga menunjukkan masih adanya persoalan gizi di kalangan santri, termasuk temuan penelitian yang menyebut lebih dari 50 persen santri perempuan mengalami kekurangan gizi.

"Santri adalah masa depan kita. Oleh karena itu RMI PBNU bekerja sama dengan yayasan Al Fatihah meluncurkan program Gerakan Alquran dan Gizi untuk Santri," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf mengatakan program AGUS juga menjadi bagian dari ikhtiar organisasi untuk memperkuat kontribusi pesantren dalam mendukung program pemenuhan gizi nasional.

PBNU telah menjalin kerja sama dengan pemerintah untuk membantu pembangunan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di berbagai daerah yang hingga kini hampir 200 titik telah diresmikan, dan lebih dari 300 lainnya sedang dalam proses.

Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan semakin banyak santri yang mendapatkan akses terhadap makanan bergizi sekaligus dukungan sarana belajar Al Quran yang memadai.



Pewarta:
Editor: Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026