Pengamat: Perkuat prokes ketat di seluruh objek wisata
Jumat, 17 Desember 2021 8:54 WIB
Pengamat pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Chusmeru. ANTARA/Wuryanti Puspitasari.
Purwokerto (ANTARA) - Pengamat pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Chusmeru mengingatkan mengenai perlunya memperkuat protokol kesehatan ketat di seluruh objek wisata dalam rangka menyambut libur Natal dan Tahun Baru.
"Pemerintah daerah perlu secepatnya menyiapkan dan memastikan penerapan protokol kesehatan yang ketat sebagai syarat masuk bagi pengunjung, seperti tempat mencuci tangan, pengukuran suhu tubuh pengunjung hingga mewajibkan pemakaian masker," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jumat.
Dia menjelaskan hal itu perlu dilakukan guna menyikapi kebijakan pemerintah yang telah memberikan keleluasaan untuk tetap membuka destinasi wisatanya selama libur Natal dan Tahun Baru.
"Meskipun angka kasus COVID-19 di berbagai daerah mulai melandai, kewaspadaan tetap diperlukan agar tidak terjadi lonjakan kasus di daerah saat libur Natal dan Tahun Baru," katanya.
Sementara itu, dia juga mengapresiasi kebijakan pemerintah yang membatasi jumlah wisatawan hanya sebesar 75 persen dari kapasitas biasanya guna mengantisipasi terjadinya penumpukan dan kerumunan di objek wisata.
"Hal ini sangat tepat karena kemungkinan objek wisata di destinasi favorit akan kebanjiran wisatawan," katanya.
Kendati demikian, kata dia, dengan adanya pembatasan wisatawan sehingga yang boleh masuk hanya sebesar 75 persen dari kapasitas biasanya maka dikhawatirkan akan terjadi luberan wisatawan yang tidak tertampung pada objek wisata tersebut.
"Karena tidak semua wisatawan dapat masuk akibat objek wisata hanya dibatasi 75 persen, maka akibatnya akan terjadi luberan wisatawan, wisatawan yang tidak tertampung pada objek wisata andalan di daerah akan berusaha mencari objek wisata lain di sekitar destinasi tersebut, seperti taman rekreasi maupun desa wisata baru," katanya.
Hal tersebut, kata dia, tentu menguntungkan bagi daerah yang memiliki taman rekreasi desa wisata yang selama ini belum banyak dikunjungi wisatawan.
"Meski demikian, kewaspadaan tetap perlu diperhatikan. Pemda perlu memastikan taman rekreasi dan desa wisata telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat, terutama bagi yang belum tersertifikasi Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE)," katanya.
Selain itu, kata dia, perlu diperhatikan desa wisata yang mungkin belum menerapkan aplikasi PeduliLindungi sebagai syarat masuk, karena keterbatasan akses internet.
"Selain itu perlu juga diperhatikan keterbatasan sarana dan prasarana untuk menerapkan protokol kesehatan," katanya.
"Pemerintah daerah perlu secepatnya menyiapkan dan memastikan penerapan protokol kesehatan yang ketat sebagai syarat masuk bagi pengunjung, seperti tempat mencuci tangan, pengukuran suhu tubuh pengunjung hingga mewajibkan pemakaian masker," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jumat.
Dia menjelaskan hal itu perlu dilakukan guna menyikapi kebijakan pemerintah yang telah memberikan keleluasaan untuk tetap membuka destinasi wisatanya selama libur Natal dan Tahun Baru.
"Meskipun angka kasus COVID-19 di berbagai daerah mulai melandai, kewaspadaan tetap diperlukan agar tidak terjadi lonjakan kasus di daerah saat libur Natal dan Tahun Baru," katanya.
Sementara itu, dia juga mengapresiasi kebijakan pemerintah yang membatasi jumlah wisatawan hanya sebesar 75 persen dari kapasitas biasanya guna mengantisipasi terjadinya penumpukan dan kerumunan di objek wisata.
"Hal ini sangat tepat karena kemungkinan objek wisata di destinasi favorit akan kebanjiran wisatawan," katanya.
Kendati demikian, kata dia, dengan adanya pembatasan wisatawan sehingga yang boleh masuk hanya sebesar 75 persen dari kapasitas biasanya maka dikhawatirkan akan terjadi luberan wisatawan yang tidak tertampung pada objek wisata tersebut.
"Karena tidak semua wisatawan dapat masuk akibat objek wisata hanya dibatasi 75 persen, maka akibatnya akan terjadi luberan wisatawan, wisatawan yang tidak tertampung pada objek wisata andalan di daerah akan berusaha mencari objek wisata lain di sekitar destinasi tersebut, seperti taman rekreasi maupun desa wisata baru," katanya.
Hal tersebut, kata dia, tentu menguntungkan bagi daerah yang memiliki taman rekreasi desa wisata yang selama ini belum banyak dikunjungi wisatawan.
"Meski demikian, kewaspadaan tetap perlu diperhatikan. Pemda perlu memastikan taman rekreasi dan desa wisata telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat, terutama bagi yang belum tersertifikasi Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE)," katanya.
Selain itu, kata dia, perlu diperhatikan desa wisata yang mungkin belum menerapkan aplikasi PeduliLindungi sebagai syarat masuk, karena keterbatasan akses internet.
"Selain itu perlu juga diperhatikan keterbatasan sarana dan prasarana untuk menerapkan protokol kesehatan," katanya.
Pewarta : Wuryanti Puspitasari
Editor : Mugiyanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Boyolali ajak masyarakat terapkan prokes selama liburan akhir tahun
27 December 2022 9:41 WIB, 2022
Cegah COVID-19, Dinkes Boyolali ingatkan masyarakat jaga prokes selama liburan Natal
20 December 2022 8:50 WIB, 2022
Jelang libur Natal, Pemkot Pekalongan ingatkan warga tetap jaga prokes
08 December 2022 15:09 WIB, 2022
Universitas Muria Kudus terapkan kuliah tatap muka secara penuh dengan prokes ketat
18 November 2022 13:52 WIB, 2022
Dinkes Boyolali minta masyarakat waspadai pergerakan naiknya kasus COVID-19
15 November 2022 14:07 WIB, 2022
Hari Kesehatan Nasional, Dinkes Boyolali ingatkan masyarakat tetap terapkan prokes
09 November 2022 8:56 WIB, 2022
Asa berantas stunting di tengah kebiasaan menjaga prokes selama pandemi
21 October 2022 17:18 WIB, 2022