Akademisi: Pandemi ubah pola suplai dan akses makanan
Minggu, 31 Januari 2021 13:17 WIB
Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Dian Armanda (kiri). ANTARA/HO-CitiGrower
Semarang (ANTARA) - Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Dian Armanda mengemukakan pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) telah mengubah pola food supply (suplai makanan) dan food access (akses makanan) dunia, termasuk Indonesia.
"Hal itu terkait dengan adanya pembatasan ekspor, permudah impor, serta memacu produksi lokal sayuran dan buah," kata Dian Armanda di Semarang, Minggu pagi.
Sebelumnya, kandidat doktor dari Institute of Environmental Science, Leiden University, Belanda ini memaparkan peran tanah sehat dalam Webinar Urban Farming Series III bertajuk "Optimalkan Tanah Sehat dan Pupuk Organik: Modal Urban Farming Alami" di Semarang, Sabtu (30/1) malam.
Dalam webinar yang diselenggarakan Citigrower, Dian menjelaskan bahwa tanah sehat menyediakan rumah ideal bagi mikrobia dan organisme lain di tanah.
Selain itu, tanah subur mengandung mikrobia yang mampu menyerap karbon di atmosfer (di udara) penyebab global warming, mengembalikan karbon-karbon itu ke tanah.
Ia menyebutkan tanah bisa menyimpan setidaknya (4.000 gigaton) lebih banyak karbon daripada atmosfer dan seluruh tanaman yang tumbuh di permukaan tanah (1.700 gigaton).
Menyinggung Bumi makin panas, Dian mengatakan bahwa hal itu akibat gas rumah kaca hasil buangan berbagai kegiatan manusia, termasuk kegiatan pertanian dan kehutanan yang menyumbang 24 persen gas rumah kaca penyebab pemanasan global.
Seharusnya, menurut dia, menanam menghasilkan rumah bagi lebih banyak mikrobia. Namun, masih ada pertanian di Tanah Air sekarang ini serakah yang ingin menghasilkan panen sebanyak-banyaknya dan secepat mungkin.
Ia mengungkap. sebagian dari petani lantas memakai metode-metode yang merusak tanah dan membunuh mikrobia tanah, misalnya membajak tanah, memakai pupuk, dan pestisida kimia sintetik.
"Jadi, kalau berkebun caranya benar natural, mikrobia tidak mungkin rusak, malah membantu membalikkan global warming," kata pendiri start up CitiGrower, inisiatif urban farming berbasis digital.
Dalam webinar itu juga menampilkan Duta Petani Milenial Shofyan Adi Cahyono. Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Citra Muda ini mengutarakan bahwa pertanian organik adalah sistem produksi yang menopang kesehatan tanah, ekosistem, dan manusia.
Namun, lanjut dia, hal itu bergantung pada proses ekologis, keanekaragaman hayati, dan siklus yang disesuaikan dengan kondisi lokal daripada penggunaan input dengan efek buruk.
Dijelaskan pula bahwa pertanian organik menggabungkan tradisi, inovasi, dan ilmu pengetahuan untuk menguntungkan lingkungan bersama dan mempromosikan hubungan yang adil dan kualitas hidup yang baik untuk semua yang terlibat.
"Hal itu terkait dengan adanya pembatasan ekspor, permudah impor, serta memacu produksi lokal sayuran dan buah," kata Dian Armanda di Semarang, Minggu pagi.
Sebelumnya, kandidat doktor dari Institute of Environmental Science, Leiden University, Belanda ini memaparkan peran tanah sehat dalam Webinar Urban Farming Series III bertajuk "Optimalkan Tanah Sehat dan Pupuk Organik: Modal Urban Farming Alami" di Semarang, Sabtu (30/1) malam.
Dalam webinar yang diselenggarakan Citigrower, Dian menjelaskan bahwa tanah sehat menyediakan rumah ideal bagi mikrobia dan organisme lain di tanah.
Selain itu, tanah subur mengandung mikrobia yang mampu menyerap karbon di atmosfer (di udara) penyebab global warming, mengembalikan karbon-karbon itu ke tanah.
Ia menyebutkan tanah bisa menyimpan setidaknya (4.000 gigaton) lebih banyak karbon daripada atmosfer dan seluruh tanaman yang tumbuh di permukaan tanah (1.700 gigaton).
Menyinggung Bumi makin panas, Dian mengatakan bahwa hal itu akibat gas rumah kaca hasil buangan berbagai kegiatan manusia, termasuk kegiatan pertanian dan kehutanan yang menyumbang 24 persen gas rumah kaca penyebab pemanasan global.
Seharusnya, menurut dia, menanam menghasilkan rumah bagi lebih banyak mikrobia. Namun, masih ada pertanian di Tanah Air sekarang ini serakah yang ingin menghasilkan panen sebanyak-banyaknya dan secepat mungkin.
Ia mengungkap. sebagian dari petani lantas memakai metode-metode yang merusak tanah dan membunuh mikrobia tanah, misalnya membajak tanah, memakai pupuk, dan pestisida kimia sintetik.
"Jadi, kalau berkebun caranya benar natural, mikrobia tidak mungkin rusak, malah membantu membalikkan global warming," kata pendiri start up CitiGrower, inisiatif urban farming berbasis digital.
Dalam webinar itu juga menampilkan Duta Petani Milenial Shofyan Adi Cahyono. Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Citra Muda ini mengutarakan bahwa pertanian organik adalah sistem produksi yang menopang kesehatan tanah, ekosistem, dan manusia.
Namun, lanjut dia, hal itu bergantung pada proses ekologis, keanekaragaman hayati, dan siklus yang disesuaikan dengan kondisi lokal daripada penggunaan input dengan efek buruk.
Dijelaskan pula bahwa pertanian organik menggabungkan tradisi, inovasi, dan ilmu pengetahuan untuk menguntungkan lingkungan bersama dan mempromosikan hubungan yang adil dan kualitas hidup yang baik untuk semua yang terlibat.
Pewarta : D.Dj. Kliwantoro
Editor : Mugiyanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BRI Peduli tegaskan komitmen dukung ketahanan pangan melalui panen raya BRInita
18 October 2025 12:00 WIB
Pjs wali kota sebut B2SA-Situmpang solusi kembangkan pertanian perkotaan
31 October 2024 14:22 WIB, 2024
Para pelajar pamerkan aneka kreasi makanan hasil "urban farming" di Jambore Petani Cilik
12 August 2024 21:32 WIB, 2024
Mahasiswa KKN Unpad Semarang ajak masyarakat maksimalkan lahan kosong dengan urban farming
28 July 2024 17:20 WIB, 2024