Gubernur Jateng apresiasi tempat pengungsian warga Merapi
Jumat, 6 November 2020 20:15 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berbincang dengan salah satu pengungsi warga lereng Gunung Merapi di tempat pengungsian di Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. ANTARA/Heru Suyitno
Magelang (ANTARA) - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengapresiasi Pemkab Magelang yang telah menyiapkan tempat pengungsian warga kawasan Gunung Merapi dengan memperhatikan protokol kesehatan.
Ganjar saat mengunjungi lokasi pengungsian di Magelang, Jumat, merasa senang karena tempat pengungsian yang dibuat di gedung pertemuan Desa Deyangan dan Desa Banyurojo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang itu telah dibuat dengan standar protokol kesehatan ketat.
Di tempat pengungsian itu, ruangan luas disekat-sekat menggunakan triplek setinggi sekitar 1,5 meter dan lebar 2 meter persegi. Masing-masing ruang sekat, digunakan oleh pengungsi yang terdiri dari satu keluarga.
Di dua lokasi itu, ratusan warga lerang Merapi sudah mengungsi. Mereka yang mengungsi di Desa Deyangan adalah warga Desa Krinjing Kecamatan Dukun. Kemudian pengungsi di Desa Banyurojo adalah warga Desa Paten Kecamatan Dukun.
Mulai Jumat ini mereka sudah meninggalkan desanya untuk mengungsi. Mereka akan mengungsi sampai kondisi Merapi dinyatakan aman.
"Ini bagus ya, jadi antar keluarga bisa dibatasi. Dengan cara itu, meskipun Merapi aktif dan mereka mengungsi, tapi di posisi pengungsian mereka aman karena protokol kesehatan terjaga. Tadi ketika mereka masuk, semuanya juga dites cepat," kata Ganjar.
Menurut dia penerapan protokol kesehatan di tempat pengungsian sangat penting. Apalagi, banyak pengungsi yang masuk dalam kelompok rentan, karena sudah lanjut usia dan banyak anak-anak.
"Banyak di antara mereka para pengungsi ini yang masuk golongan rentan, maka cara ini yang paling bagus dan semoga menginspirasi daerah lainnya," katanya.
Ia menyampaikan daerah lain yang masuk zona rawan bencana, supaya segera menyiapkan tempat pengungsian seperti di Magelang ini.
Menurut Ganjar, jika memang tidak bisa pembatasan pakai triplek, maka pembatasan bisa dilakukan dengan cara digambar atau dikotaki pakai kardus.
"Kalau bisa seperti ini, sangat bagus sekali, tapi kalau tidak ya bisa pakai kardus atau digambar. Makanya, saya tadi ke sini, karena ini the best dan sampai sekarang belum ada yang buat seperti ini. Maka kalau ini dijadikan contoh, ini keren dan bisa mengantisipasi di saat pandemi," katanya.
Seorang pengungsi, Samini (50) mengatakan merasa nyaman dengan kondisi pengungsian yang disiapkan ini, karena masing-masing keluarga dipisahkan sekat.
Samini yang tahun 2010 juga pernah mengungsi menyatakan, pembatasan dengan sekat membuat dia dan keluarganya lebih nyaman.(LHP)
Ganjar saat mengunjungi lokasi pengungsian di Magelang, Jumat, merasa senang karena tempat pengungsian yang dibuat di gedung pertemuan Desa Deyangan dan Desa Banyurojo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang itu telah dibuat dengan standar protokol kesehatan ketat.
Di tempat pengungsian itu, ruangan luas disekat-sekat menggunakan triplek setinggi sekitar 1,5 meter dan lebar 2 meter persegi. Masing-masing ruang sekat, digunakan oleh pengungsi yang terdiri dari satu keluarga.
Di dua lokasi itu, ratusan warga lerang Merapi sudah mengungsi. Mereka yang mengungsi di Desa Deyangan adalah warga Desa Krinjing Kecamatan Dukun. Kemudian pengungsi di Desa Banyurojo adalah warga Desa Paten Kecamatan Dukun.
Mulai Jumat ini mereka sudah meninggalkan desanya untuk mengungsi. Mereka akan mengungsi sampai kondisi Merapi dinyatakan aman.
"Ini bagus ya, jadi antar keluarga bisa dibatasi. Dengan cara itu, meskipun Merapi aktif dan mereka mengungsi, tapi di posisi pengungsian mereka aman karena protokol kesehatan terjaga. Tadi ketika mereka masuk, semuanya juga dites cepat," kata Ganjar.
Menurut dia penerapan protokol kesehatan di tempat pengungsian sangat penting. Apalagi, banyak pengungsi yang masuk dalam kelompok rentan, karena sudah lanjut usia dan banyak anak-anak.
"Banyak di antara mereka para pengungsi ini yang masuk golongan rentan, maka cara ini yang paling bagus dan semoga menginspirasi daerah lainnya," katanya.
Ia menyampaikan daerah lain yang masuk zona rawan bencana, supaya segera menyiapkan tempat pengungsian seperti di Magelang ini.
Menurut Ganjar, jika memang tidak bisa pembatasan pakai triplek, maka pembatasan bisa dilakukan dengan cara digambar atau dikotaki pakai kardus.
"Kalau bisa seperti ini, sangat bagus sekali, tapi kalau tidak ya bisa pakai kardus atau digambar. Makanya, saya tadi ke sini, karena ini the best dan sampai sekarang belum ada yang buat seperti ini. Maka kalau ini dijadikan contoh, ini keren dan bisa mengantisipasi di saat pandemi," katanya.
Seorang pengungsi, Samini (50) mengatakan merasa nyaman dengan kondisi pengungsian yang disiapkan ini, karena masing-masing keluarga dipisahkan sekat.
Samini yang tahun 2010 juga pernah mengungsi menyatakan, pembatasan dengan sekat membuat dia dan keluarganya lebih nyaman.(LHP)
Pewarta : Heru Suyitno
Editor : Mugiyanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wagub: Layanan aduan warga Jateng kini didekatkan ke daerah lewat cabang dinas
14 February 2026 22:11 WIB
Wagub Jateng: : Program speling dekatkan layanan dokter spesialis ke desa
14 February 2026 16:28 WIB
Terpopuler - Bencana Alam
Lihat Juga
Pemprov Jateng kaji geologi lahan huntara korban tanah gerak di Kabupaten Tegal
10 February 2026 11:31 WIB
Gubernur pastikan korban tanah gerak di Desa Padasari Tegal dapat hunian tetap
06 February 2026 21:31 WIB
Wapres minta warga terdampak tanah bergerak di Kabupaten Tegal tinggalkan rumah
06 February 2026 21:26 WIB
Wapres Gibran dan Gubernur Jateng kunjungi pengungsi korban tanah gerak di Tegal
06 February 2026 14:06 WIB
Pemkab Tegal: Pergerakan tanah masih bersifat dinamis berdampak ratusan rumah
04 February 2026 21:01 WIB