Penelitian: Produk semprotan hidung hambat corona
Senin, 28 September 2020 12:16 WIB
Para ilmuwan bekerja di dalam fasilitas Biotek CSL setelah CSL mengumumkan telah menyetujui untuk mengembangkan vaksin penyakit virus corona (COVID-19) yang dapat tersedia di Australia pada awal 2021, di Melbourne, Australia (7/9/2020). ANTARA/REUTERS/AAP Image/James Ross/aa. REUTERS/STRINGER
Sydney (ANTARA) - Perusahaan bioteknologi Australia Ena Respiratory mengatakan bahwa produk semprotan hidung, yang dikembangkan untuk meningkatkan sistem kekebalan manusia untuk melawan flu biasa dan flu secara signifikan, mengurangi pertumbuhan virus corona dalam sebuah penelitian baru-baru ini pada hewan.
Sebuah penelitian terhadap musang menunjukkan bahwa produk semprotan hidung yang diberi nama INNA-051, yang dapat digunakan sebagai pelengkap vaksin, menurunkan tingkat virus corona yang menyebabkan COVID-19 hingga 96 persen, kata pihak Ena Respiratory.
Penelitian tersebut dipimpin oleh badan pemerintah Inggris Public Health England.
Ena Respiratory mengatakan akan siap untuk menguji INNA-051 dalam uji klinis pada manusia dalam waktu kurang dari empat bulan, yakni bergantung pada penelitian toksisitas yang berhasil dan persetujuan peraturan.
Perusahaan itu telah mengumpulkan dana sebesar 8,24 juta dolar AS (sekitar Rp123,18 miliar) untuk pengembangan produk semprotan hidung tersebut.
Para investor untuk pengembangan produk semprotan hidung itu termasuk perusahaan modal ventura Brandon Capital Ltd, pemerintah federal Australia, badan dana pensiun, dan perusahaan raksasa bioteknologi CSL Ltd.
Beberapa perusahaan di seluruh dunia sedang mengejar pengembangan vaksin virus corona.
Australia telah menandatangani perjanjian dengan beberapa perusahaan obat yang menginvestasikan miliaran untuk mengamankan persediaan vaksin potensial untuk COVID-19, yakni penyakit yang telah menewaskan lebih dari 992.000 orang di seluruh dunia.
Australia sejauh ini melaporkan 875 kematian akibat COVID-19 dan lebih dari 27.000 kasus infeksi virus corona. Angka tersebut jauh lebih sedikit daripada jumlah kasus COVID-19 yang dilaporkan di sejumlah negara maju lainnya.
Sumber: Reuters
Sebuah penelitian terhadap musang menunjukkan bahwa produk semprotan hidung yang diberi nama INNA-051, yang dapat digunakan sebagai pelengkap vaksin, menurunkan tingkat virus corona yang menyebabkan COVID-19 hingga 96 persen, kata pihak Ena Respiratory.
Penelitian tersebut dipimpin oleh badan pemerintah Inggris Public Health England.
Ena Respiratory mengatakan akan siap untuk menguji INNA-051 dalam uji klinis pada manusia dalam waktu kurang dari empat bulan, yakni bergantung pada penelitian toksisitas yang berhasil dan persetujuan peraturan.
Perusahaan itu telah mengumpulkan dana sebesar 8,24 juta dolar AS (sekitar Rp123,18 miliar) untuk pengembangan produk semprotan hidung tersebut.
Para investor untuk pengembangan produk semprotan hidung itu termasuk perusahaan modal ventura Brandon Capital Ltd, pemerintah federal Australia, badan dana pensiun, dan perusahaan raksasa bioteknologi CSL Ltd.
Beberapa perusahaan di seluruh dunia sedang mengejar pengembangan vaksin virus corona.
Australia telah menandatangani perjanjian dengan beberapa perusahaan obat yang menginvestasikan miliaran untuk mengamankan persediaan vaksin potensial untuk COVID-19, yakni penyakit yang telah menewaskan lebih dari 992.000 orang di seluruh dunia.
Australia sejauh ini melaporkan 875 kematian akibat COVID-19 dan lebih dari 27.000 kasus infeksi virus corona. Angka tersebut jauh lebih sedikit daripada jumlah kasus COVID-19 yang dilaporkan di sejumlah negara maju lainnya.
Sumber: Reuters
Pewarta : Yuni Arisandy Sinaga
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Hidung tersumbat di tengah corona? lakukan ini agar bisa tidur nyenyak
27 March 2020 14:52 WIB, 2020
Jual gadis Rp20 juta ke pria hidung belang di hotel, dua orang ditangkap
23 October 2019 16:13 WIB, 2019
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
Wagub Jateng: : Program speling dekatkan layanan dokter spesialis ke desa
14 February 2026 16:28 WIB
Pemkab Kudus beri jaminan pengobatan gratis bagi peserta PBI JK APBN nonaktif
09 February 2026 14:12 WIB