Merapi lima kali gempa guguran, warga jangan terpancing rumor erupsi
Rabu, 12 Februari 2020 12:44 WIB
Gunung Merapi pada Januari 2019. ANTARA
Yogyakarta (ANTARA) - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah mengalami lima kali gempa guguran selama periode pengamatan pada Rabu, mulai pukul 00:00-06:00 WIB.
Kepala BPPTKG Hanik Humaida melalui keterangan resmi di Yogyakarta, menyebutkan lima gempa guguran itu memiliki amplitudo 2-8 mm dan berlangsung selama 15.24-45.44 detik.
BPPTKG juga mengingatkan warga kritis terhadap informasi yang beredar karena belakangan ini merebak desas-desus atau rumor melalui media sosial tentang adanya erupsi Merapi.
Selain gempa guguran, Gunung Merapi juga mengalami dua kali gempa low frekuensi dengan amplitudo 5 mm selama 31.6-31.8 detik, lima kali gempa hybrid atau gempa fase banyak dengan amplitudo 2-6 mm selama 6.48-7.96 detik.
Selanjutnya, satu kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo 10 mm selama 40.4 detik, serta dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 5-8 mm selama 61.8-100.28 detik.
Baca juga: Merapi luncurkan awan panas guguran, hujan abu landa Cepogo Boyolali
Berdasarkan pengamatan visual, asap kawah Merapi teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 400 meter di atas puncak kawah.
Sedangkan angin di gunung itu bertiup lemah ke arah timur. Suhu udara tercatat mencapai 14.5-20.9 derajat Celsius dengan kelembaban udara 57-89 persen dan tekanan udara 629.55-709.5 mmHg.
BPPTKG tidak mencatat adanya guguran lava yang terpantau secara visual pada periode pengamatan itu.
Hingga saat ini, BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada Level II atau Waspada, dan untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana.
BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Sehubungan dengan potensi guguran lava dan awan panas yang dapat menimbulkan hujan abu, maka masyarakat di sekitar Gunung Merapi diimbau untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik.
Masyarakat juga diminta tidak terpancing desas-desus mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi, media sosial BPPTKG atau ke Kantor BPPTKG.
Baca juga: Jalur pendakian Merbabu-Merapi dijaga ketat
Kepala BPPTKG Hanik Humaida melalui keterangan resmi di Yogyakarta, menyebutkan lima gempa guguran itu memiliki amplitudo 2-8 mm dan berlangsung selama 15.24-45.44 detik.
BPPTKG juga mengingatkan warga kritis terhadap informasi yang beredar karena belakangan ini merebak desas-desus atau rumor melalui media sosial tentang adanya erupsi Merapi.
Selain gempa guguran, Gunung Merapi juga mengalami dua kali gempa low frekuensi dengan amplitudo 5 mm selama 31.6-31.8 detik, lima kali gempa hybrid atau gempa fase banyak dengan amplitudo 2-6 mm selama 6.48-7.96 detik.
Selanjutnya, satu kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo 10 mm selama 40.4 detik, serta dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 5-8 mm selama 61.8-100.28 detik.
Baca juga: Merapi luncurkan awan panas guguran, hujan abu landa Cepogo Boyolali
Berdasarkan pengamatan visual, asap kawah Merapi teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 400 meter di atas puncak kawah.
Sedangkan angin di gunung itu bertiup lemah ke arah timur. Suhu udara tercatat mencapai 14.5-20.9 derajat Celsius dengan kelembaban udara 57-89 persen dan tekanan udara 629.55-709.5 mmHg.
BPPTKG tidak mencatat adanya guguran lava yang terpantau secara visual pada periode pengamatan itu.
Hingga saat ini, BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada Level II atau Waspada, dan untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana.
BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Sehubungan dengan potensi guguran lava dan awan panas yang dapat menimbulkan hujan abu, maka masyarakat di sekitar Gunung Merapi diimbau untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik.
Masyarakat juga diminta tidak terpancing desas-desus mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi, media sosial BPPTKG atau ke Kantor BPPTKG.
Baca juga: Jalur pendakian Merbabu-Merapi dijaga ketat
Pewarta : Luqman Hakim
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KKN MMK Posko 3 UIN Walisongo gelar aksi ekologi, tanam ratusan bibit di Curug Sedandang Gunung Setlerep
17 February 2026 6:10 WIB
Akademisi Unsoed: Kuatkan destana di sekitar Gunung Slamet untuk hadapi ancaman bencana
28 January 2026 16:49 WIB
Pemprov Jateng: Bencana longsor area Gunung Slamet bukan karena penambangan
28 January 2026 16:11 WIB
DLH Banyumas imbau untuk membatasi pemanfaatan air sungai pascabanjir bandang
28 January 2026 13:23 WIB
Seorang peziarah Gunung Tidar tewas tertimpa pohon, ini langkah Pemkot Magelang
24 January 2026 23:07 WIB
Pemkab catat 30 kali terjadi longsor susulan di Bukit Gunung Beser Pekalongan
23 January 2026 17:47 WIB
Terpopuler - Bencana Alam
Lihat Juga
Gubernur Jateng instruksikan pembangunan jembatan aramco di jalan Grobogan-Semarang dipercepat
17 February 2026 20:07 WIB
Gubernur Jateng minta penanganan longsor Ungaran Timur tuntas dalam sepekan
17 February 2026 15:54 WIB
Tim gabungan dan warga gotong royong atasi tanggul Sungai Tuntang Demak yang jebol
17 February 2026 15:51 WIB