Sepatu batik 4 in 1 karya mahasiswa UMM diminati Jepang
Kamis, 23 Mei 2019 15:41 WIB
Tiga mahasiswa Prodi Manajemen UMM dengan hasil karyanya sepatu 4 in 1 yang diminati Jepang (istimewa)
Malang (ANTARA) - Sepatu "for in one" atau 4 in 1 karya tiga mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) diminati Jepang dengan menjadi reseller sepatu tersebut di Negeri Sakura.
Salah seorang anggota tim, Syahmi Kafin Fahreza di Malang, Kamis, mengemukakan sepatu four in one (4 in 1) tersebut diberi label Setiawan Mungil alias Sepatu Batik Four in One Multifungsi. Karya ketiga mahasiswa ini akan dipasarkan di Jepang.
"Saat kami melakukan survei untuk memastikan kualitas sepatu di sejumlah negara, ada pemuda asal Jepang yang menawarkan diri menjadi reseller dan sepatu 4 in 1 itu akan dihargai lebih mahal," kata Syahmi.
Harga sepasang sepatu 4 in 1 dibanderol Rp700 ribu, namun pemuda asal Jepang yang akan reseller itu memberikan harga lebih tinggi dan di Jepang akan dijual seharga Rp1,5 juta sepasang.
"Jepang memang sangat berminat terhadap produk-produk inovasi, terlebih produk 4 in 1 atau Setiawan Mungil yang tidak meninggalkan kekhasan dan menyentuh unsur budaya Indonesia, yakni batik.
Saat ini, kata Syahmi, ada beragam jenis alas kaki berdasarkan situasi dan kondisi yang dihadapi. Hal tersebut memungkinkan sebagian wanita untuk memiliki beberapa jenis alas kaki. Jika dihadapkan pada situasi yang berbeda dengan selang waktu yang berdekatan, akan merepotkan penggunannya untuk membawa banyak alas kaki.
Berangkat dari kondisi tersebut, tiga mahasiswa dari Prodi Manajemen itu, yakni Syahmi Kafin Fahreza, Dita Fomara Tuasikal, dan Muhammad Fitrah Ashary Bangun, membuat produk Sepatu Batik Four in One Multifungsi yang juga diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa–Kewirausahaan (PKM-K) Ristekdikti 2019.
Syahmi mengaku ide itu muncul ketika ada keluhan dari konsumen wanita, yang jika berpergian selalu membawa banyak macam sepatu dan sandal. "Ya kenapa tidak kita coba untuk membantu memberi solusi all in one," paparnya.
Selain memiliki keunggulan dalam menjalankan empat bentuk dan fungsi sebagai sneaker, wedje, boot dan sandal, sepatu ini juga menggunakan pesona batik untuk menyasar pasar internasional. Oleh karena itu, mereka melakukan survei ke mancanegara dan mendapatkan hasil yang positif.
Tidak hanya dibuktikan melalui survei saja, produk mereka juga beberapa kali diikutsertakan dalam perlombaan. Penghargaan yang pernah diterima di antaranya adalah Juara 1 National Bussines Plan Asia Andalas 2019, Juara 1 Expo National Bussines Plan Festival Universitas Kristen Satya Wacana 2019.
Setelah lolos pendanaan PKM-K dan mendapat dana hibah sebesar Rp7, 8 juta, dana tersebut digunakan untuk memproduksi dua puluh sepatu yang akan diikutsertakan pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2019.
Salah seorang anggota tim, Syahmi Kafin Fahreza di Malang, Kamis, mengemukakan sepatu four in one (4 in 1) tersebut diberi label Setiawan Mungil alias Sepatu Batik Four in One Multifungsi. Karya ketiga mahasiswa ini akan dipasarkan di Jepang.
"Saat kami melakukan survei untuk memastikan kualitas sepatu di sejumlah negara, ada pemuda asal Jepang yang menawarkan diri menjadi reseller dan sepatu 4 in 1 itu akan dihargai lebih mahal," kata Syahmi.
Harga sepasang sepatu 4 in 1 dibanderol Rp700 ribu, namun pemuda asal Jepang yang akan reseller itu memberikan harga lebih tinggi dan di Jepang akan dijual seharga Rp1,5 juta sepasang.
"Jepang memang sangat berminat terhadap produk-produk inovasi, terlebih produk 4 in 1 atau Setiawan Mungil yang tidak meninggalkan kekhasan dan menyentuh unsur budaya Indonesia, yakni batik.
Saat ini, kata Syahmi, ada beragam jenis alas kaki berdasarkan situasi dan kondisi yang dihadapi. Hal tersebut memungkinkan sebagian wanita untuk memiliki beberapa jenis alas kaki. Jika dihadapkan pada situasi yang berbeda dengan selang waktu yang berdekatan, akan merepotkan penggunannya untuk membawa banyak alas kaki.
Berangkat dari kondisi tersebut, tiga mahasiswa dari Prodi Manajemen itu, yakni Syahmi Kafin Fahreza, Dita Fomara Tuasikal, dan Muhammad Fitrah Ashary Bangun, membuat produk Sepatu Batik Four in One Multifungsi yang juga diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa–Kewirausahaan (PKM-K) Ristekdikti 2019.
Syahmi mengaku ide itu muncul ketika ada keluhan dari konsumen wanita, yang jika berpergian selalu membawa banyak macam sepatu dan sandal. "Ya kenapa tidak kita coba untuk membantu memberi solusi all in one," paparnya.
Selain memiliki keunggulan dalam menjalankan empat bentuk dan fungsi sebagai sneaker, wedje, boot dan sandal, sepatu ini juga menggunakan pesona batik untuk menyasar pasar internasional. Oleh karena itu, mereka melakukan survei ke mancanegara dan mendapatkan hasil yang positif.
Tidak hanya dibuktikan melalui survei saja, produk mereka juga beberapa kali diikutsertakan dalam perlombaan. Penghargaan yang pernah diterima di antaranya adalah Juara 1 National Bussines Plan Asia Andalas 2019, Juara 1 Expo National Bussines Plan Festival Universitas Kristen Satya Wacana 2019.
Setelah lolos pendanaan PKM-K dan mendapat dana hibah sebesar Rp7, 8 juta, dana tersebut digunakan untuk memproduksi dua puluh sepatu yang akan diikutsertakan pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2019.
Pewarta : Endang Sukarelawati
Editor : Edhy Susilo
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Berkat pemberdayaan BRI, Batik Malessa ubah kain perca hingga fashion premium
14 December 2025 11:08 WIB
Pemkot Pekalongan komitmen perkuat ekonomi kerakyatan di Festival BTK dan Pekan Batik Nusantara
02 December 2025 15:35 WIB
15.000 penari di Magelang tampilkan 2.000 motif batik, pecahkan rekor MURI
26 October 2025 15:35 WIB
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Lihat Juga
Peneliti ungkap spesies baru Nepenthes dari Kalbar, terpantau awal via medsos
24 January 2026 14:38 WIB
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB
Dosen UIN Walisongo paparkan metode melihat hilal yang lebih efisien dan tepat sasaran
30 October 2025 12:03 WIB