Magelang (ANTARA) - Pemerintah Kota Magelang akan membangkitkan kepariwisataan sejarah guna meningkatkan kunjungan wisata ke daerah itu dan memperluas ilmu pengetahuan tentang masa lampau, terutama untuk kalangan anak muda.

"Destinasi ini diharapkan bisa menambah kunjungan wisatawan ke Kota Magelang serta menambah ilmu pengetahuan bagi generasi muda," kata Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina di sela kegiatan "Gerakan Melek Sejarah (Gemes) 2019 di Gedung eks-Keresidenan Kedu di Kota Magelang, Jumat.

Ia mengaku terinspirasi kegiatan Gemes (28-31 Maret 2019) tentang Pangeran Diponegoro di kota itu yang diselenggarakan Direktorat Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sejarah mencatat bahwa Pangeran Diponegoro memimpin pasukan dalam Perang Jawa (1825-1830) melawan kolonial Belanda. Ia antara lain berunding dengan Jenderal de Kock di Gedung Keresidenan Kedu di Kota Magelang. Dalam perundingan di tempat itu, Diponegoro ditangkap pasukan kolonial, dibawa ke Batavia, dan selanjutnya dipenjara di Manado (Sulawesi Selatan), lalu dipindahkan ke Makassar (Sulawesi Selatan) hingga wafat serta dimakamkan di kota itu.

"Kota Magelang tempat bersejarah, terutama tentang perjuangan Pangeran Diponegoro," ujar dia dalam keterangan tertulis Humas Pemkot Magelang.

Pangeran Diponegoro yang kemudian diangkat sebagai pahlawan nasional itu, kata dia, pernah menempuh perjalanan dari Gedung Keresidenan Kedu menuju Kampung Meteseh, Kampung Bojong, hingga Secang (Kabupaten Magelang).

Ia mengemukakan tentang adanya rute Pangeran Diponegoro yang bisa menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik kunjungan wisata.

"Saat ini marak wisata budaya dan religi, maka wisata sejarah perlu dibangkitkan," katanya.

Ia mengharapkan dukungan Kemendikbud dalam menggali lebih dalam tentang sejarah yang bisa diintegrasikan dengan paket wisata di kota dengan tiga kecamatan dan 17 kelurahan itu.

Upaya menggali sejarah kota itu, ujarnya, juga untuk edukasi kepada masyarakat, terutama kalangan pelajar dan generasi muda.

"Apalagi jika dikemas dengan menarik, seperti balon digital, e-book, dan teatrikal (rangkaian kegiatan Gemes, red.)," kata Windarti.

Melalui Gemes 2019, Direktorat Sejarah Kemendikbud antara lain memamerkan sekitar 50 judul buku sejarah bangsa Indonesia di Museum BPK RI Magelang, pameran lukisan bertema Pangeran Diponegoro, termasuk dua lukisan "masterpiece" karya Haris Purnomo dan Ronald Manullang.

Selain itu, ditampilkan beberapa alat pembelajaran interaktif, seperti aplikasi atlas, buku digital, dan film pendek, termasuk zona khusus untuk mengenal lebih dekat sosok Pangeran Diponegoro.

"Kita pamerkan beragam buku sejarah dari berbagai bidang, seperti pendidikan, sosial, ekonomi, dan lainnya. Sasarannya anak-anak milenial agar lebih mengenal sejarah bangsanya,” ujar Direktur Sejarah Ditjen Kebudayaan Kemendikbud Triana Wulandari. (hms).
 

Pewarta : Hari
Editor : Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2024