Beternak ayam kalkun menguntungkan
Sabtu, 1 Desember 2018 20:42 WIB
Seorang peternak ayam kalkun tengah memberi makan. (Foto: Akhmad Nazaruddin Lathif)
Kudus (Antaranews Jateng) - Pembudi daya ayam kalkun mulai bermunculan di Kabupaten Kudus, menyusul banyaknya peminat hewan ternak yang bisa dijadikan hewan peliharaan maupun untuk kuliner.
"Peminat ayam kalkun di Kabupaten Kudus secara perlahan memang mulai meningkat. Hal sangat potensial untuk dikembangkan," kata Didik Prabowo , peternak ayam kalkun asal Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Sabtu.
Didik Prabowo mengatakan bahwa perawatan ayam kalkun juga cukup mudah, seperti halnya ayam kampung.
Makanan yang bisa diberikan mulai dari dedak ditambah kosentrat, sayuran enceng gondok, hingga kangkung.
Selain bisa dijadikan ayam hias dan kuliner, bulu dan telur ayam impor itu juga laku dijual, bahkan setiap bulunya laku antara Rp1.500,00 dan Rp2.000,00.
Hingga saat ini, selain banyak bermunculan peternak ayam kalkun, mereka juga membentuk kelompok peternak ayam kalkun.
"Kelompok tersebut sudah berkembang di beberapa kecamatan di Kudus dan jenis ayam kalkun yang dipelihara juga beraneka ragam," kata Didik Prabowo.
Didik Prabowo menyebutkan ada ayam kalkun jenis bronze, golden palm, pencilled palm, white holland, black spanish, dan beberapa jenis lainnya.
Ayam kalkun ketika dikelola secara baik akan mendatangkan keuntungan yang besar meskipun tidak setenar dengan ayam potong. Akan tetapi, ayam kalkun memiliki harga jual hingga lima kali lipat dari ayam biasanya. Harga ayam kalkun di pasaran berkisar antara Rp300 ribu dan Rp1,5 juta, atau bergantung pada jenisnya.
Pemasarannya sendiri, lanjut dia, untuk lokal Kudus untuk suplai rumah makan, kemudian dijual ke sejumlah daerah di luar Jawa, seperti Bali dan Balikpapan.
Suyatno, peternak lainnya asal Desa Undaan Tengah, tertarik beternak ayam kalkun karena selain harga jualnya yang mahal, makananya juga tidak harus membeli karena bisa memanfaatkan tanaman sekitar.
Menurut Suyatno, bisa memanfaatkan tanaman enceng gondok atau kangkung serta bekatul yang mudah ditemui di sekitar tempat tinggalnya.
Berbeda dengan ayam kampung, makanannya harus membeli semua sehingga membutuhkan biaya yang mahal, kata pemilik 50-an ekor ayam kalkun dari berbagai jenis itu.
Harga ayam kalkun per ekornya, kata Suyatno, berkisar Rp300 ribu hingga Rp350 ribu dengan berat sekitar 8 kg.
"Peminat ayam kalkun di Kabupaten Kudus secara perlahan memang mulai meningkat. Hal sangat potensial untuk dikembangkan," kata Didik Prabowo , peternak ayam kalkun asal Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Sabtu.
Didik Prabowo mengatakan bahwa perawatan ayam kalkun juga cukup mudah, seperti halnya ayam kampung.
Makanan yang bisa diberikan mulai dari dedak ditambah kosentrat, sayuran enceng gondok, hingga kangkung.
Selain bisa dijadikan ayam hias dan kuliner, bulu dan telur ayam impor itu juga laku dijual, bahkan setiap bulunya laku antara Rp1.500,00 dan Rp2.000,00.
Hingga saat ini, selain banyak bermunculan peternak ayam kalkun, mereka juga membentuk kelompok peternak ayam kalkun.
"Kelompok tersebut sudah berkembang di beberapa kecamatan di Kudus dan jenis ayam kalkun yang dipelihara juga beraneka ragam," kata Didik Prabowo.
Didik Prabowo menyebutkan ada ayam kalkun jenis bronze, golden palm, pencilled palm, white holland, black spanish, dan beberapa jenis lainnya.
Ayam kalkun ketika dikelola secara baik akan mendatangkan keuntungan yang besar meskipun tidak setenar dengan ayam potong. Akan tetapi, ayam kalkun memiliki harga jual hingga lima kali lipat dari ayam biasanya. Harga ayam kalkun di pasaran berkisar antara Rp300 ribu dan Rp1,5 juta, atau bergantung pada jenisnya.
Pemasarannya sendiri, lanjut dia, untuk lokal Kudus untuk suplai rumah makan, kemudian dijual ke sejumlah daerah di luar Jawa, seperti Bali dan Balikpapan.
Suyatno, peternak lainnya asal Desa Undaan Tengah, tertarik beternak ayam kalkun karena selain harga jualnya yang mahal, makananya juga tidak harus membeli karena bisa memanfaatkan tanaman sekitar.
Menurut Suyatno, bisa memanfaatkan tanaman enceng gondok atau kangkung serta bekatul yang mudah ditemui di sekitar tempat tinggalnya.
Berbeda dengan ayam kampung, makanannya harus membeli semua sehingga membutuhkan biaya yang mahal, kata pemilik 50-an ekor ayam kalkun dari berbagai jenis itu.
Harga ayam kalkun per ekornya, kata Suyatno, berkisar Rp300 ribu hingga Rp350 ribu dengan berat sekitar 8 kg.
Pewarta : Akhmad Nazaruddin
Editor : Kliwon
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sumanto ajak petani Karanganyar beternak ayam untuk tingkatkan penghasilan
01 October 2025 18:21 WIB
Anggota DPR RI ajak pembudidaya lele di Temanggung beternak secara modern
30 July 2022 0:15 WIB, 2022
Kisah mitra binaan Pertamina, gagal beternak ayam malah mujur berbisnis jamur
09 November 2021 10:04 WIB, 2021
Terpopuler - Makro
Lihat Juga
HNSI Jatim ingatkan pengembangan energi pesisir harus cegah de-nelayanisasi
22 January 2026 3:13 WIB