BKKBN Jateng akui minimnya petugas Penyuluh KB
Kamis, 29 November 2018 17:04 WIB
Kepala BKKBN Jateng Wagino di sela acara peringatan HUT-47 KORPRI di Semarang, Kamis (29/11). (Foto: Nur Istibsaroh)
Semarang (Antaranews Jateng) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Tengah mengakui hingga saat ini jumlah petugas penyuluh Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) masih minim, sehingga harus mengoptimalkan petugas yang ada.
"Idealnya di Jateng membutuhkan 4.500 penyuluh KB, tetapi yang ada hanya 1.850 penyuluh," kata Kepala BKKBN Jateng Wagino di sela acara peringatan HUT-47 KORPRI di Semarang, Kamis.
Minimnya petugas Penyuluh KB tersebut menjadikan satu petugas harus menangani 10 hingga 15 desa, contohnya di Kabupaten Pati yang seharusnya terdapat 100 penyuluh KB, tetapi hanya terdapat 40 penyuluh.
Terbatasnya petugas yang ada tersebut, lanjut Wagino, menjadikan para penyuluh KB harus menggandeng pihak lain seperti tokoh masyarakat dan agama desa setempat.
Wagino menambahkan tinggi beban pekerja bagi penyuluh KB tersebut diharapkan dapat terpenuhi dengan meningkatnya kesejahteraan baik gaji dan uang makan.
"Penyuluh KB golongan 4a dan 4b lumayan sudah besar sekitar Rp5 jutaan, sedangkan golongan terendah bisa dapat Rp2 juta. Uang makan juga lancar," katanya.
Terkait dengan tahun politik, Wagino kembali mengingatkan kepada seluruh penyuluh KB agar netral atau tidak memihak salah satu pasangan calon presiden.
"Saya berkali-kali berpesan kepada para penyuluh KB jangan berpihak kepada salah satu pasangan calon. Mereka harus fokus bekerja dan akan ada sanksi bagi yang terbukti melanggar," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, juga dilakukan penyerahan SK kenaikan pangkat untuk 50 pegawai Penyuluh KB dan PLKB se-Jateng (periode April-Oktober 2018).
"Idealnya di Jateng membutuhkan 4.500 penyuluh KB, tetapi yang ada hanya 1.850 penyuluh," kata Kepala BKKBN Jateng Wagino di sela acara peringatan HUT-47 KORPRI di Semarang, Kamis.
Minimnya petugas Penyuluh KB tersebut menjadikan satu petugas harus menangani 10 hingga 15 desa, contohnya di Kabupaten Pati yang seharusnya terdapat 100 penyuluh KB, tetapi hanya terdapat 40 penyuluh.
Terbatasnya petugas yang ada tersebut, lanjut Wagino, menjadikan para penyuluh KB harus menggandeng pihak lain seperti tokoh masyarakat dan agama desa setempat.
Wagino menambahkan tinggi beban pekerja bagi penyuluh KB tersebut diharapkan dapat terpenuhi dengan meningkatnya kesejahteraan baik gaji dan uang makan.
"Penyuluh KB golongan 4a dan 4b lumayan sudah besar sekitar Rp5 jutaan, sedangkan golongan terendah bisa dapat Rp2 juta. Uang makan juga lancar," katanya.
Terkait dengan tahun politik, Wagino kembali mengingatkan kepada seluruh penyuluh KB agar netral atau tidak memihak salah satu pasangan calon presiden.
"Saya berkali-kali berpesan kepada para penyuluh KB jangan berpihak kepada salah satu pasangan calon. Mereka harus fokus bekerja dan akan ada sanksi bagi yang terbukti melanggar," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, juga dilakukan penyerahan SK kenaikan pangkat untuk 50 pegawai Penyuluh KB dan PLKB se-Jateng (periode April-Oktober 2018).
Pewarta : Nur Istibsaroh
Editor : M Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Petugas PIPP semangat ikuti Sertifikasi Terintegrasi Pembelajaran Service Quality
08 December 2025 17:15 WIB
KAI Semarang pastikan kondisi 175 lokomotif dan gerbong siap layani libur akhir tahun
25 November 2025 8:20 WIB
Api lahap pabrik vulkanisir ban di Genuk Semarang, petugas kerahkan empat mobil damkar
11 November 2025 15:08 WIB
938 petugas parkir di Solo tercatat dalam kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan
11 November 2025 13:32 WIB
Petugas gabungan razia serentak seluruh lapas di Nusakambangan Cilacap, ini hasilnya
12 October 2025 5:24 WIB