Tiga Mahasiswa UNS Rancang Rem Elektrik
Jumat, 6 Juli 2018 17:57 WIB
Tiga mahasiswa UNS penemu alat "E-brake assist" (Foto: dokumentasi UNS)
Solo (Antaranews Jateng) - Tiga mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta merancang pembuatan "E-Brake Assist" yang merupakan rem elektrik dengan prinsip "frictionless".
"Alat ini mampu membantu proses pengereman namun tidak berisiko mengalami panas yang berlebihan, serta mampu menjadi 'back up' ketika rem utama mengalami kegagalan fungsi," kata salah satu mahasiswa Mufti Reza Aulia Putra di Solo, Jumat.
Ia mengatakan metode pembuatan "E-Brake Assist" tersebut menggunakan metode simulasi terlebih dahulu sehingga sebelum proses pembuatan, mereka sudah memiliki spesifikasi terbaik dari alat.
"Alat ini kami buat dengan memanfaatkan piringan cakram yang biasa dipakai sebagai bagian alat pengereman konvensional, kemudian membuat magnet semi permanen menggunakan trafo yang dimodifikasi di beberapa bagian dan dibuat sedemikian rupa sehingga mampu menjadi magnet yang digunakan sebagai sumber pengereman," katanya.
Menurut dia, "E-Brake Assist" memiliki kelebihan yaitu tidak menghasilkan panas yang dapat mengakibatkan kegagalan fungsi dari sistem pengereman.
"Alat ini sangat berpotensi untuk diproduksi secara masal. Selain itu, dengan alat ini maka akan menyelesaikan beberapa permasalahan sekaligus, seperti masalah rem blong pada kendaraan matic dan di kemudian hari dapat dikembangkan lagi menuju ke penggunaannya pada kendaraan listrik," katanya.
Sementara itu, dikatakannya, berdasarkan data statistik triwulan I (Januari-Maret) 2017 Corporate Communication PT Jasa Marga dari total 337 kasus kecelakaan di dalam tol, sebanyak 265 di antaranya didominasi akibat rem blong dan pecah ban.
Ia mengatakan rem pada kendaraan umumnya mengandalkan prinsip gesekan yaitu menggunakan piringan yang dijepit menggunakan kampas rem sehingga terjadi gesekan dan mengurangi laju kendaraan.
Ia mengatakan gaya gesek memiliki kekurangan yaitu menghasilkan panas sehingga apabila digunakan secara terus-menerus dapat menyebabkan panas berlebih yang dapat mengakibatkan rem mengalami kegagalan fungsi.
"Hal ini diperparah dengan gaya berkendara yang agresif dan kontur jalan yang memiliki banyak tanjakan dan turunan sehingga menyebabkan rem bekerja secara ekstrim dan menghasilkan panas berlebih," katanya.
Oleh karena itu, ia berharap agar permasalahan tersebut dapat diminimalisasi melalui alat yang dihasilkannya. Adapun selain Mufti, dua mahasiswa lain yang masuk dalam tim tersebut yaitu Muhammad Rizal Arfandi dan Ikhtiar Choirunisha.
"Alat ini mampu membantu proses pengereman namun tidak berisiko mengalami panas yang berlebihan, serta mampu menjadi 'back up' ketika rem utama mengalami kegagalan fungsi," kata salah satu mahasiswa Mufti Reza Aulia Putra di Solo, Jumat.
Ia mengatakan metode pembuatan "E-Brake Assist" tersebut menggunakan metode simulasi terlebih dahulu sehingga sebelum proses pembuatan, mereka sudah memiliki spesifikasi terbaik dari alat.
"Alat ini kami buat dengan memanfaatkan piringan cakram yang biasa dipakai sebagai bagian alat pengereman konvensional, kemudian membuat magnet semi permanen menggunakan trafo yang dimodifikasi di beberapa bagian dan dibuat sedemikian rupa sehingga mampu menjadi magnet yang digunakan sebagai sumber pengereman," katanya.
Menurut dia, "E-Brake Assist" memiliki kelebihan yaitu tidak menghasilkan panas yang dapat mengakibatkan kegagalan fungsi dari sistem pengereman.
"Alat ini sangat berpotensi untuk diproduksi secara masal. Selain itu, dengan alat ini maka akan menyelesaikan beberapa permasalahan sekaligus, seperti masalah rem blong pada kendaraan matic dan di kemudian hari dapat dikembangkan lagi menuju ke penggunaannya pada kendaraan listrik," katanya.
Sementara itu, dikatakannya, berdasarkan data statistik triwulan I (Januari-Maret) 2017 Corporate Communication PT Jasa Marga dari total 337 kasus kecelakaan di dalam tol, sebanyak 265 di antaranya didominasi akibat rem blong dan pecah ban.
Ia mengatakan rem pada kendaraan umumnya mengandalkan prinsip gesekan yaitu menggunakan piringan yang dijepit menggunakan kampas rem sehingga terjadi gesekan dan mengurangi laju kendaraan.
Ia mengatakan gaya gesek memiliki kekurangan yaitu menghasilkan panas sehingga apabila digunakan secara terus-menerus dapat menyebabkan panas berlebih yang dapat mengakibatkan rem mengalami kegagalan fungsi.
"Hal ini diperparah dengan gaya berkendara yang agresif dan kontur jalan yang memiliki banyak tanjakan dan turunan sehingga menyebabkan rem bekerja secara ekstrim dan menghasilkan panas berlebih," katanya.
Oleh karena itu, ia berharap agar permasalahan tersebut dapat diminimalisasi melalui alat yang dihasilkannya. Adapun selain Mufti, dua mahasiswa lain yang masuk dalam tim tersebut yaitu Muhammad Rizal Arfandi dan Ikhtiar Choirunisha.
Pewarta : Aris Wasita
Editor : Immanuel Citra Senjaya
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BBPVP Semarang fasilitasi pelatihan gratis perancang busana, targetkan wirausaha baru
11 June 2025 19:46 WIB
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Lihat Juga
Pangeran asal Brunei Darussalam temui Ahmad Luthfi, jajaki investasi energi terbarukan di Jateng
06 February 2026 7:55 WIB
Peneliti ungkap spesies baru Nepenthes dari Kalbar, terpantau awal via medsos
24 January 2026 14:38 WIB
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB