SMAN 1 Semarang ungkap kekerasan pengurus OSIS
Jumat, 2 Maret 2018 19:37 WIB
Semarang - Tari, orang tua almarhum Bintang, siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Semarang yang pernah menjadi korban dugaan tindak kekerasan seniornya di kepengurusan OSIS menunjukkan bukti kertas bertuliskan
Semarang (Antaranews Jateng) - Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Semarang mengungkapkan fakta terjadinya kekerasan yang dilakukan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah terhadap juniornya.
"Kami memiliki bukti berupa video rekaman kekerasan itu. Poin pelanggaran terhadap AN dan AF memang diakumulasikan dari video itu," kata Kepala SMAN 1 Semarang Endang Suyatmi di Semarang, Jumat.
Dalam kesempatan itu dihadirkan pula sejumlah orang tua korban kekerasan senior terhadap juniornya dalam kegiatan OSIS, termasuk kalangan alumni yang membenarkan adanya tindak kekerasan tersebut.
Berbagai bukti itu, kata dia, awalnya dilaporkan orang tua yang merasa resah dengan dugaan kekerasan yang menimpa anaknya yang pengurus OSIS, termasuk Tari, orang tua almarhum Bintang yang meninggal tenggelam.
SMAN 1 Semarang telah mengeluarkan dua siswanya, yakni AN dan AF karena dugaan kekerasan saat kegiatan latihan dasar kepemimpinan (LDK) OSIS, November 2017, dan menskorsing tujuh siswa pengurus OSIS.
Namun, peristiwa meninggalnya Bintang karena tenggelam di kolam renang Stadion Jatidiri Semarang, 7 Januari 2018, tidak berkaitan dengan AN dan AF, dua siswa yang dikeluarkan SMAN 1 Semarang.
"Tidak terkait Bintang. Ini dari sidak ponsel anak-anak kami di OSIS. Dari hasil rekaman kegiatan OSIS itu, AN dan AF kami putuskan untuk mengembalikan kepada orang tuanya," kata Endang.
Selain itu, Endang menambahkan, kegiatan yang dilakukan pengurus OSIS tersebut bukan LDK dan tanpa sepengetahuan sekolah karena dilakukan di luar jam sekolah sehingga bisa disebut LDK ilegal.
Sementara itu, Tari, orang tua almarhum Bintang mengaku sejak anaknya masuk pengurus OSIS selalu gelisah karena pulangnya malam-malam dan jika ditanya dari mana selalu tutup mulut.
"Sampai saya marahi terus, seragamnya juga kotor kayak habis pulang dari sawah. Yang saya heran, Bintang sampai punya keberanian meloncat dari papan loncat indah kolam renang," katanya.
Tari yakin jika Bintang tidak termotivasi atau diberikan tugas bakalan berpikir dua kali untuk meloncat dari ketinggian karena anaknya tersebut fobia ketinggian, namun belum memiliki bukti.
Setelah Bintang meninggal, ia tidak sengaja membuka ponsel anaknya itu dan menemukan beberapa rekaman dan percakapan di "Line" yang dirasanya janggal terkait dengan keaktifannya di OSIS.
"Ternyata, ada rekaman anak saya disuruh ngesot di lantai mal, pakai BH berwarna-warni, pakai rok mini keliling mal. Pendidikan mental seperti apa ini. Ajaran agama mana yang membenarkan?" ungkapnya.
Sampai suatu ketika, Tari mengundang kawan-kawan dekat Bintang saat peringatan kematiannya yang akhirnya menguak bahwa Bintang meloncat karena disuruh seniornya, tetapi temannya tidak mau menyebutkan nama.
"Saya juga temukan kertas bertuliskan `Ketinggian 6 Meter`, `Kedalaman 5,3 Meter` di jok motor Bintang. Dulu, anak saya juga pernah biru-biru di ulu hatinya, tetapi dibilangnya enggak apa-apa," kenang Tari.
Dwi, orang tua siswa lain korban "bullying" mengaku anaknya kerap pulang malam sejak mengikuti kegiatan OSIS dan ponselnya tidak bisa dihubungi, namun saat ditanya tidak menjawab apa-apa.
"Kalau pas sekolah, ponselnya masih bisa dihubungi. Namun, setelah pulang sekolah malah tidak bisa. Saya bilang, `Sekolah model opo? Pulangnya malem terus`. Namun, tidak ada jawaban memuaskan," katanya.
Selain itu, Dwi membenarkan jika anaknya juga pernah mengalami sakit sampai diperiksakan laboratorium dan hasilnya tidak apa-apa, tetapi sebagai ibu merasa pasti ada yang tidak beres.
"Kami memiliki bukti berupa video rekaman kekerasan itu. Poin pelanggaran terhadap AN dan AF memang diakumulasikan dari video itu," kata Kepala SMAN 1 Semarang Endang Suyatmi di Semarang, Jumat.
Dalam kesempatan itu dihadirkan pula sejumlah orang tua korban kekerasan senior terhadap juniornya dalam kegiatan OSIS, termasuk kalangan alumni yang membenarkan adanya tindak kekerasan tersebut.
Berbagai bukti itu, kata dia, awalnya dilaporkan orang tua yang merasa resah dengan dugaan kekerasan yang menimpa anaknya yang pengurus OSIS, termasuk Tari, orang tua almarhum Bintang yang meninggal tenggelam.
SMAN 1 Semarang telah mengeluarkan dua siswanya, yakni AN dan AF karena dugaan kekerasan saat kegiatan latihan dasar kepemimpinan (LDK) OSIS, November 2017, dan menskorsing tujuh siswa pengurus OSIS.
Namun, peristiwa meninggalnya Bintang karena tenggelam di kolam renang Stadion Jatidiri Semarang, 7 Januari 2018, tidak berkaitan dengan AN dan AF, dua siswa yang dikeluarkan SMAN 1 Semarang.
"Tidak terkait Bintang. Ini dari sidak ponsel anak-anak kami di OSIS. Dari hasil rekaman kegiatan OSIS itu, AN dan AF kami putuskan untuk mengembalikan kepada orang tuanya," kata Endang.
Selain itu, Endang menambahkan, kegiatan yang dilakukan pengurus OSIS tersebut bukan LDK dan tanpa sepengetahuan sekolah karena dilakukan di luar jam sekolah sehingga bisa disebut LDK ilegal.
Sementara itu, Tari, orang tua almarhum Bintang mengaku sejak anaknya masuk pengurus OSIS selalu gelisah karena pulangnya malam-malam dan jika ditanya dari mana selalu tutup mulut.
"Sampai saya marahi terus, seragamnya juga kotor kayak habis pulang dari sawah. Yang saya heran, Bintang sampai punya keberanian meloncat dari papan loncat indah kolam renang," katanya.
Tari yakin jika Bintang tidak termotivasi atau diberikan tugas bakalan berpikir dua kali untuk meloncat dari ketinggian karena anaknya tersebut fobia ketinggian, namun belum memiliki bukti.
Setelah Bintang meninggal, ia tidak sengaja membuka ponsel anaknya itu dan menemukan beberapa rekaman dan percakapan di "Line" yang dirasanya janggal terkait dengan keaktifannya di OSIS.
"Ternyata, ada rekaman anak saya disuruh ngesot di lantai mal, pakai BH berwarna-warni, pakai rok mini keliling mal. Pendidikan mental seperti apa ini. Ajaran agama mana yang membenarkan?" ungkapnya.
Sampai suatu ketika, Tari mengundang kawan-kawan dekat Bintang saat peringatan kematiannya yang akhirnya menguak bahwa Bintang meloncat karena disuruh seniornya, tetapi temannya tidak mau menyebutkan nama.
"Saya juga temukan kertas bertuliskan `Ketinggian 6 Meter`, `Kedalaman 5,3 Meter` di jok motor Bintang. Dulu, anak saya juga pernah biru-biru di ulu hatinya, tetapi dibilangnya enggak apa-apa," kenang Tari.
Dwi, orang tua siswa lain korban "bullying" mengaku anaknya kerap pulang malam sejak mengikuti kegiatan OSIS dan ponselnya tidak bisa dihubungi, namun saat ditanya tidak menjawab apa-apa.
"Kalau pas sekolah, ponselnya masih bisa dihubungi. Namun, setelah pulang sekolah malah tidak bisa. Saya bilang, `Sekolah model opo? Pulangnya malem terus`. Namun, tidak ada jawaban memuaskan," katanya.
Selain itu, Dwi membenarkan jika anaknya juga pernah mengalami sakit sampai diperiksakan laboratorium dan hasilnya tidak apa-apa, tetapi sebagai ibu merasa pasti ada yang tidak beres.
Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor : Edhy Susilo
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bupati: Pers lakukan peran mitra pembangunan dan kontrol sosial bagi pemerintah
12 February 2026 16:34 WIB
Seribu pedagang siap ramaikan tradisi Pasar Dandangan Kudus sambut Ramadhan
06 February 2026 11:48 WIB
BGN hentikan sementara operasional SPPG Purwosari 1 Kudus sampai dapatkan pemeriksaan
02 February 2026 19:50 WIB
FKIP UMS dorong transformasi digital, mahasiswa KKN gelar pelatihan AI di SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri
02 February 2026 16:46 WIB