84 Persen Siswa di Semarang Korban "Bullying"
Jumat, 15 September 2017 19:13 WIB
Semarang - Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi melihat aktivitas di ruang bermain anak di Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) Semarang yang baru saja diresmikan, Jumat (15/9) (Foto: ANTARAJATENG.COM/dok Humas Setda Kota Semarang)
Semarang, 15/9 (Antara) - Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyebutkan 84 persen siswa dari sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah atas (SMA) di ibu kota Provinsi Jawa Tengah itu pernah menjadi korban "bullying" di sekolah.
"Data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Semarang, 84 persen siswa SD-SMP pernah jadi korban `bullying`," katanya, usai meresmikan Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) Kota Semarang, Jumat.
Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi mengungkapkan "bullying" yang dialami siswa itu bervariasi, mulai dilakukan kawan-kawannya, seperti diejek, diolok-olok, hingga tindak kekerasan yang dilakukan gurunya.
Sebagai contoh, kata dia, sekitar sebulan lalu ada orang tua yang menghadap sembari menangis karena merasa anaknya diperlakukan tidak adil oleh gurunya gara-gar terlambat mengikuti ekstrakurikuler basket.
"Orang tua itu mengetahui anaknya pulang dengan baju sobek-sobek. Ternyata, gara-gara anaknya datang terlambat, dihukum `push up` oleh gurunya, tetapi tidak mau sehingga bajunya ditarik hingga sobek," katanya.
Tak cukup itu, kata dia, ternyata oknum guru di sekolah favorit itu juga melakukan kekerasan yang dibuktikan dengan visum, dan sudah dilakukan koordinasi dengan dinas terkait, termasuk Dinas Pendidikan Kota Semarang.
Persoalannya, kata politikus PDI Perjuangan itu, "bullying" yang dilakukan tidak begitu saja selesai, sebab ternyata membekas di hati anak yang membuatnya depresi sampai tidak mau berangkat sekolah.
"Anak itu tidak mampu menahan depresinya sehingga meminta bisa melanjutkan sekolah tetapi tidak di Semarang. Akhirnya, pindah ke Lombok. Anak itu sama sekali tidak mau menginjakkan kaki lagi di Semarang," katanya.
Ia tidak menginginkan kasus "bullying" tersebut terjadi lagi karena dampaknya tidak baik bagi masa depan generasi muda, apalagi sebagian pelaku "bullying" dulunya pernah menjadi korban tindakan serupa.
"Artinya, benang merah yang menjadikan `bullying` seolah-olah tradisi atau kebiasaan yang bisa diteruskan harus diputus. Kita semua ingin Indonesia semakin hari menjadi semakin hebat," pungkas Hendi.
Senada dengan itu, psikolog di RDRM Semarang Lainatul Mudzkiyyah menjelaskan "bullying" terhadap anak-anak berpengaruh terhadap prestasi, kepercayaan diri, dan kemampuan bersosialisasi yang menjadi terhambat.
"Efek yang muncul, anak menolak berangkat ke sekolah, hingga yang terparah muncul keinginan bunuh diri. Saya pernah menemui ada anak SD yang merasakan ketidaknyamanan ketika berada di sekolah," katanya.
Namun, kata dia, orang tua memaksakan anaknya untuk terus berangkat sekolah tanpa melihat sisi psikologis buah hatinya sehingga muncul keinginan dari si anak tersebut untuk mengakhiri hidupnya.
"Ya, pindah sekolah bukan satu-satunya solusi. Tetapi, paling tidak harus ada terapi terhadap si anak. Biasanya, kami berikan terapi pikiran. Kalau pikirannya sudah positif, baru terapi perilaku," katanya.
"Data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Semarang, 84 persen siswa SD-SMP pernah jadi korban `bullying`," katanya, usai meresmikan Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) Kota Semarang, Jumat.
Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi mengungkapkan "bullying" yang dialami siswa itu bervariasi, mulai dilakukan kawan-kawannya, seperti diejek, diolok-olok, hingga tindak kekerasan yang dilakukan gurunya.
Sebagai contoh, kata dia, sekitar sebulan lalu ada orang tua yang menghadap sembari menangis karena merasa anaknya diperlakukan tidak adil oleh gurunya gara-gar terlambat mengikuti ekstrakurikuler basket.
"Orang tua itu mengetahui anaknya pulang dengan baju sobek-sobek. Ternyata, gara-gara anaknya datang terlambat, dihukum `push up` oleh gurunya, tetapi tidak mau sehingga bajunya ditarik hingga sobek," katanya.
Tak cukup itu, kata dia, ternyata oknum guru di sekolah favorit itu juga melakukan kekerasan yang dibuktikan dengan visum, dan sudah dilakukan koordinasi dengan dinas terkait, termasuk Dinas Pendidikan Kota Semarang.
Persoalannya, kata politikus PDI Perjuangan itu, "bullying" yang dilakukan tidak begitu saja selesai, sebab ternyata membekas di hati anak yang membuatnya depresi sampai tidak mau berangkat sekolah.
"Anak itu tidak mampu menahan depresinya sehingga meminta bisa melanjutkan sekolah tetapi tidak di Semarang. Akhirnya, pindah ke Lombok. Anak itu sama sekali tidak mau menginjakkan kaki lagi di Semarang," katanya.
Ia tidak menginginkan kasus "bullying" tersebut terjadi lagi karena dampaknya tidak baik bagi masa depan generasi muda, apalagi sebagian pelaku "bullying" dulunya pernah menjadi korban tindakan serupa.
"Artinya, benang merah yang menjadikan `bullying` seolah-olah tradisi atau kebiasaan yang bisa diteruskan harus diputus. Kita semua ingin Indonesia semakin hari menjadi semakin hebat," pungkas Hendi.
Senada dengan itu, psikolog di RDRM Semarang Lainatul Mudzkiyyah menjelaskan "bullying" terhadap anak-anak berpengaruh terhadap prestasi, kepercayaan diri, dan kemampuan bersosialisasi yang menjadi terhambat.
"Efek yang muncul, anak menolak berangkat ke sekolah, hingga yang terparah muncul keinginan bunuh diri. Saya pernah menemui ada anak SD yang merasakan ketidaknyamanan ketika berada di sekolah," katanya.
Namun, kata dia, orang tua memaksakan anaknya untuk terus berangkat sekolah tanpa melihat sisi psikologis buah hatinya sehingga muncul keinginan dari si anak tersebut untuk mengakhiri hidupnya.
"Ya, pindah sekolah bukan satu-satunya solusi. Tetapi, paling tidak harus ada terapi terhadap si anak. Biasanya, kami berikan terapi pikiran. Kalau pikirannya sudah positif, baru terapi perilaku," katanya.
Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Tegal: Pergerakan tanah masih bersifat dinamis berdampak ratusan rumah
04 February 2026 21:01 WIB
UMS diproyeksikan tuan rumah ABU Robocon 2027, delegasi NHK Jepang lakukan penjajakan
04 February 2026 19:43 WIB
Sejumlah rumah sakit di Temanggung belum penuhi standar penanggulangan kebakaran
04 February 2026 8:31 WIB
Pemkot Semarang turunkan tim ahli soal dugaan dampak proyek di Jalan Sultan Agung
30 January 2026 12:52 WIB
BPBD Kudus mencatat ratusan pengungsi mulai terdampak banjir pulang ke rumah
23 January 2026 20:14 WIB