Rupiah Menguat Tipis 9 Poin
Selasa, 14 Maret 2017 10:33 WIB
Petugas menunjukkan uang dolar AS dan uang rupiah di tempat penukaran uang di kantor PT Valuta Inti Prima, Jakarta, Jumat (11/11/2016). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, ANTARA JATENG - Nilai tukar rupiah dalam transaksi
antarbank di Jakartanaik sembilan poin menjadi Rp13.347 per dolar AS
pada Selasa pagi.
"Rupiah bergerak stabil dengan kecenderungan menguat bersamaan mayoritas kurs di kawasan Asia," kata Ekonom Samuel Sekuritas, Rangga Cipta.
Mayoritas kurs mata uang negara kawasan Asia menguat karena kekhawatiran terhadap dampak negatif kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve), yang berencana menaikkan suku bunga acuannya, sepertinya sudah diantisipasi oleh pelaku pasar.
"Di saat yang bersamaan pasar keuangan di dalam negeri seperti surat utang negara (SUN) dan indeks harga saham gabungan (IHSG) juga menguat," katanya.
Ia menambahkan data neraca perdagangan Indonesia yang akan dirilis akhir pekan ini diperkirakan kembali mencatatkan surplus sehingga akan menambah sentimen positif terhadap rupiah.
Namun dia menyarankan pelaku pasar tetap mewaspadai kebijakan bank-bank sentral negara maju karena volatilitas berpotensi tetap tinggi pekan ini.
"Fokus masih ke kebijakan The Fed, dan juga bank sentral Eropa (ECB) yang cenderung hawkish. Di sisi lain, penting juga ditunggu pandangan bank sentral Jepang (BoJ) terhadap perekonomian Jepang," paparnya.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada juga menyarankan pelaku pasar tetap mewaspadai potensi pelemahan mata uang domestik menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).
Nilai tukar rupiah, dia melanjutkan, dapat berfluktuasi lebih tinggi seiring maraknya spekulasi pembelian dolar AS.
"Tetap cermati dan antisipasi berbagai sentimen yang dapat berpengaruh pada berubahnya arah pergerakan rupiah," katanya.
"Rupiah bergerak stabil dengan kecenderungan menguat bersamaan mayoritas kurs di kawasan Asia," kata Ekonom Samuel Sekuritas, Rangga Cipta.
Mayoritas kurs mata uang negara kawasan Asia menguat karena kekhawatiran terhadap dampak negatif kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve), yang berencana menaikkan suku bunga acuannya, sepertinya sudah diantisipasi oleh pelaku pasar.
"Di saat yang bersamaan pasar keuangan di dalam negeri seperti surat utang negara (SUN) dan indeks harga saham gabungan (IHSG) juga menguat," katanya.
Ia menambahkan data neraca perdagangan Indonesia yang akan dirilis akhir pekan ini diperkirakan kembali mencatatkan surplus sehingga akan menambah sentimen positif terhadap rupiah.
Namun dia menyarankan pelaku pasar tetap mewaspadai kebijakan bank-bank sentral negara maju karena volatilitas berpotensi tetap tinggi pekan ini.
"Fokus masih ke kebijakan The Fed, dan juga bank sentral Eropa (ECB) yang cenderung hawkish. Di sisi lain, penting juga ditunggu pandangan bank sentral Jepang (BoJ) terhadap perekonomian Jepang," paparnya.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada juga menyarankan pelaku pasar tetap mewaspadai potensi pelemahan mata uang domestik menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).
Nilai tukar rupiah, dia melanjutkan, dapat berfluktuasi lebih tinggi seiring maraknya spekulasi pembelian dolar AS.
"Tetap cermati dan antisipasi berbagai sentimen yang dapat berpengaruh pada berubahnya arah pergerakan rupiah," katanya.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - NASIONAL
Lihat Juga
KPK hadirkan Fuad Hasan Masyhur sebagai saksi dalam sidang kuota haji hari ini
01 October 2026 8:35 WIB
Menkomdigi tekankan inovasi teknologi dan AI wajib berpusat pada manusia
30 September 2026 13:11 WIB
KPK mendalami dugaan Silmy Karim dan Bagus memberi uang setiap bimbingan S3
30 September 2026 8:44 WIB
SAR Timika menemukan 8 korban kapal LCT di Perairan Puriri dalam keadaan selamat
29 September 2026 9:16 WIB
35 kantor berita Asia Pasifik membahas penanganan disinformasi di Moskow
23 September 2026 21:11 WIB
Perum LKBN ANTARA galang kerja sama dengan tiga media Rusia berskala global
23 September 2026 9:00 WIB