Menguat, Rupiah Menjadi Rp13.295 per Dolar AS
Kamis, 26 Januari 2017 11:24 WIB
Ilustrasi - Pelajar menunjukan uang baru saat Sosialisasi Penerbitan Uang Tahun Emisi 2016 di Kota Gorontalo, Gorontalo, Rabu (18/1/2017). (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)
Jakarta, ANTARA JATENG - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar-bank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak ke posisi Rp13.295, dibandingkan sebelumnya Rp13.360 per dolar AS.
Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, mengatakan dolar AS mengalami tekanan terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah. Penurunan dolar AS itu sebagian juga disebabkan oleh faktor teknikal setelah mata uang AS berada dalam tren penguatan beberapa hari ini.
"Penguatan rupiah kembali hari ini (26/1) setelah anjloknya dolar AS di pasar global," katanya.
Namun, ia menambahkan, pergerakan rupiah masih dibayangi inflasi pada 2017. Pemerintah dan Bank Indonesia menyiapkan langkah untuk menekan inflasi, pertanda kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi pada tahun ini.
Ia mengemukakan, Bank Indonesia memperkirakan inflasi bisa naik ke atas level 4 persen secara tahunan pada 2017. Inflasi yang naik lebih cepat dari inflasi rekan dagang Indonesia, bisa menyebabkan tekanan depresiasi rupiah di masa depan.
Sementara itu, Analis Binaartha Reza Priyambada mengatakan, masih melemahnya yield obligasi Amerika Serikat membuat laju dolar AS tertahan sehingga rupiah kembali terapresiasi. Sebagian pelaku pasar uang juga tampaknya memanfaatkan penguatan dolar AS pada hari sebelumnya untuk aksi ambil untung dan beralih mengakumulasi rupiah.
"Rupiah kembali terapresiasi terhadap dolar AS. Namun pelaku pasar diharapkan tetap mencermati berbagai sentimen yang dapat mempengaruhi rupiah menjelang akan dirilisnya data ekonomi AS pada akhir pekan ini," katanya.
Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, mengatakan dolar AS mengalami tekanan terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah. Penurunan dolar AS itu sebagian juga disebabkan oleh faktor teknikal setelah mata uang AS berada dalam tren penguatan beberapa hari ini.
"Penguatan rupiah kembali hari ini (26/1) setelah anjloknya dolar AS di pasar global," katanya.
Namun, ia menambahkan, pergerakan rupiah masih dibayangi inflasi pada 2017. Pemerintah dan Bank Indonesia menyiapkan langkah untuk menekan inflasi, pertanda kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi pada tahun ini.
Ia mengemukakan, Bank Indonesia memperkirakan inflasi bisa naik ke atas level 4 persen secara tahunan pada 2017. Inflasi yang naik lebih cepat dari inflasi rekan dagang Indonesia, bisa menyebabkan tekanan depresiasi rupiah di masa depan.
Sementara itu, Analis Binaartha Reza Priyambada mengatakan, masih melemahnya yield obligasi Amerika Serikat membuat laju dolar AS tertahan sehingga rupiah kembali terapresiasi. Sebagian pelaku pasar uang juga tampaknya memanfaatkan penguatan dolar AS pada hari sebelumnya untuk aksi ambil untung dan beralih mengakumulasi rupiah.
"Rupiah kembali terapresiasi terhadap dolar AS. Namun pelaku pasar diharapkan tetap mencermati berbagai sentimen yang dapat mempengaruhi rupiah menjelang akan dirilisnya data ekonomi AS pada akhir pekan ini," katanya.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Nilai tukar rupiah melemah, pejabat Fed beri pernyataan hawkish terkait suku bunga
13 January 2026 10:32 WIB
Kwarcab Banyumas catatkan rekor MURI melalui pelantikan Pramuka Garuda Cinta Bangga Paham Rupiah
24 November 2025 13:30 WIB
DPR minta redenominasi rupiah didahului kepastian stabilitas ekonomi dan politik
11 November 2025 16:12 WIB
Sumanto pastikan tunjangan perumahan anggota DPRD Jateng puluhan juta rupiah per bulan segera dievaluasi
09 September 2025 13:06 WIB