Jenggot Bantu Hewan Deteksi Arah Angin
Senin, 29 Agustus 2016 8:36 WIB
- (Wikimedia Commons/AlexK100)
Washington, Antara Jateng - Para peneliti mendapati kemampuan binatang mendeteksi arah angin sebagian terletak pada jenggot mereka.
"Hampir semua mamalia memiliki jenggot yang tertata rapi dalam baris dan kolom di pipi mereka. Para ilmuwan telah memperlihatkan bahwa hewan laut seperti anjing laut dapat menggunakan jenggot mereka untuk melacak arus air," kata Yan Yu, mahasiswa PhD di Norwesthern University yang ikut menulis studi yang terbit di di jurnal Science Advances.
"Pada mamalia darat, jenggot sudah diketahui terlibat dalam merasakan sentuhan. Tapi tak seorang pun pernah memperhatikan apakah hewan darat juga dapat menggunakan jenggot mereka untuk merasakan arus udara," katanya.
Oleh karena itu Yu dan rekan-rekannya menyelidiki peran jenggot pada kemampuan hewan darat untuk merasakan arah angin dengan menggunakan lima tikus betina berusia sama untuk dilatih menentukan sumber angin dari kipas angin khusus di satu meja bundar.
Di sepanjang lingkar meja, lima kipas angin dipasang dalam bentuk setengah lingkaran, dan secara acak dinyalakan satu per satu untuk menghembuskan angin ke arah "pintu-awal" yang sama yang ditaruh di seberang meja.
Satu tikus harus berlari dari pintu ke arah kipas yang menghembuskan angin, dan turun ke lubang seukuran tikus tepat di depan kipas angin itu. Masing-masing lubang mengarah ke satu terowongan di bawah meja, tempat tikus tersebut mendapat penghargaan karena memilih kipas angin yang benar.
Setelah semua tikus melaksanakan tugas pada satu tingkat sekitar 60 persen benar atau lebih tinggi selama 10 hari berturut-turut, para peneliti memotong jenggot mereka dan meneliti perubahan prilaku.
Akhirnya, hasil tim itu menunjukkan bahwa pemotongan jenggot mengurangi kemampuan tikus rata-rata hampir 20 persen.
Para peneliti mengatakan penurunan performa itu menunjukkan bahwa tikus menggunakan lebih dari satu petunjuk untuk menentukan lokasi kipas angin tapi jelas mereka masih sangat mengandalkan jenggot mereka untuk melaksanakan tugas ini.
Untuk mengendalikan risiko tikus itu melihat atau mendengar suara kipas angin, penelitian tersebut dilakukan di satu ruang gelap dengan tambahan suasana bising.
Guna memeriksa kemungkinan tikus hanya bingung karena pemotongan jenggot, satu lagi kelompok tikus dilatih untuk berlari ke sumber cahaya bukan ke sumber angin. Tim tidak menemukan perubahan dalam performa tikus-tikus itu setelah jenggot mereka dipotong.
Dalam percobaan terdahulu yang disiarkan di Journal of Experimental Biology, kelompok peneliti yang sama mendapati jenggot condong ke arah angin dan makin keras angin berhembus, makin banyak jenggot yang condong atau bergetar.
"Ketika jenggot meliuk, itu menekan reseptor di pangkal jenggot," kata penulis studi yang lain, Matthew Graff, dari Norwesthern University di dalam satu pernyataan.
"Penelitian perilaku kita sekarang menunjukkan informasi mekanis ini benar-benar digunakan oleh tikus untuk menemukan sumber aliran udara."
Meski percobaan tersebut baru dilakukan pada tikus, tim peneliti percaya jenggot kucing dan anjing juga digunakan untuk merasakan aliran udara sebab mereka tersusun dengan cara yang persis sama.
"Masuk akal bagi binatang-binatang semacam itu untuk memanfaatkan informasi mekanis, mengingat merasakan arah angin penting untuk banyak perilaku, seperti menemukan makanan dan pasangan potensial, juga menghindari pemangsa," kata Yu.
"Sekarang karena kita tahu jenggot membantu binatang mendeteksi arah angin, kita bisa membuat 'jenggot' buatan yang bisa ditambahkan pada robot untuk melacak dan mengikuti bau serta menemukan peledak, tumpahan bahan kimia, dan biologi," katanya sebagaimana dilansir kantor berita Xinhua. (Uu.C003)
"Hampir semua mamalia memiliki jenggot yang tertata rapi dalam baris dan kolom di pipi mereka. Para ilmuwan telah memperlihatkan bahwa hewan laut seperti anjing laut dapat menggunakan jenggot mereka untuk melacak arus air," kata Yan Yu, mahasiswa PhD di Norwesthern University yang ikut menulis studi yang terbit di di jurnal Science Advances.
"Pada mamalia darat, jenggot sudah diketahui terlibat dalam merasakan sentuhan. Tapi tak seorang pun pernah memperhatikan apakah hewan darat juga dapat menggunakan jenggot mereka untuk merasakan arus udara," katanya.
Oleh karena itu Yu dan rekan-rekannya menyelidiki peran jenggot pada kemampuan hewan darat untuk merasakan arah angin dengan menggunakan lima tikus betina berusia sama untuk dilatih menentukan sumber angin dari kipas angin khusus di satu meja bundar.
Di sepanjang lingkar meja, lima kipas angin dipasang dalam bentuk setengah lingkaran, dan secara acak dinyalakan satu per satu untuk menghembuskan angin ke arah "pintu-awal" yang sama yang ditaruh di seberang meja.
Satu tikus harus berlari dari pintu ke arah kipas yang menghembuskan angin, dan turun ke lubang seukuran tikus tepat di depan kipas angin itu. Masing-masing lubang mengarah ke satu terowongan di bawah meja, tempat tikus tersebut mendapat penghargaan karena memilih kipas angin yang benar.
Setelah semua tikus melaksanakan tugas pada satu tingkat sekitar 60 persen benar atau lebih tinggi selama 10 hari berturut-turut, para peneliti memotong jenggot mereka dan meneliti perubahan prilaku.
Akhirnya, hasil tim itu menunjukkan bahwa pemotongan jenggot mengurangi kemampuan tikus rata-rata hampir 20 persen.
Para peneliti mengatakan penurunan performa itu menunjukkan bahwa tikus menggunakan lebih dari satu petunjuk untuk menentukan lokasi kipas angin tapi jelas mereka masih sangat mengandalkan jenggot mereka untuk melaksanakan tugas ini.
Untuk mengendalikan risiko tikus itu melihat atau mendengar suara kipas angin, penelitian tersebut dilakukan di satu ruang gelap dengan tambahan suasana bising.
Guna memeriksa kemungkinan tikus hanya bingung karena pemotongan jenggot, satu lagi kelompok tikus dilatih untuk berlari ke sumber cahaya bukan ke sumber angin. Tim tidak menemukan perubahan dalam performa tikus-tikus itu setelah jenggot mereka dipotong.
Dalam percobaan terdahulu yang disiarkan di Journal of Experimental Biology, kelompok peneliti yang sama mendapati jenggot condong ke arah angin dan makin keras angin berhembus, makin banyak jenggot yang condong atau bergetar.
"Ketika jenggot meliuk, itu menekan reseptor di pangkal jenggot," kata penulis studi yang lain, Matthew Graff, dari Norwesthern University di dalam satu pernyataan.
"Penelitian perilaku kita sekarang menunjukkan informasi mekanis ini benar-benar digunakan oleh tikus untuk menemukan sumber aliran udara."
Meski percobaan tersebut baru dilakukan pada tikus, tim peneliti percaya jenggot kucing dan anjing juga digunakan untuk merasakan aliran udara sebab mereka tersusun dengan cara yang persis sama.
"Masuk akal bagi binatang-binatang semacam itu untuk memanfaatkan informasi mekanis, mengingat merasakan arah angin penting untuk banyak perilaku, seperti menemukan makanan dan pasangan potensial, juga menghindari pemangsa," kata Yu.
"Sekarang karena kita tahu jenggot membantu binatang mendeteksi arah angin, kita bisa membuat 'jenggot' buatan yang bisa ditambahkan pada robot untuk melacak dan mengikuti bau serta menemukan peledak, tumpahan bahan kimia, dan biologi," katanya sebagaimana dilansir kantor berita Xinhua. (Uu.C003)
Pewarta : Antaranews
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Jateng bantu biaya indekos 162 mahasiswa terdampak bencana Sumatra
15 January 2026 18:48 WIB
Personel Polres Purbalingga bantu evakuasi pendaki meninggal di Gunung Slamet
15 January 2026 18:42 WIB
Perum Bulog menyalurkan 1 ton beras untuk pengungsi bencana banjir di Kudus
15 January 2026 13:31 WIB
Kabid Humas Polda Jateng turun tangan membantu mobil mogok di perlintasan KA
14 January 2026 16:57 WIB
Satpam UMS dapat apresiasi di HUT Satpam Jateng ke-45 usai bantu Polri ungkap kasus pencurian motor
13 January 2026 19:13 WIB
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Lihat Juga
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB
Dosen UIN Walisongo paparkan metode melihat hilal yang lebih efisien dan tepat sasaran
30 October 2025 12:03 WIB
Wali Kota Tegal Paparkan Inovasi Rusunawa Rendah Karbon di Forum APEKSI 2025 Surabaya
29 October 2025 8:30 WIB