Ilmuwan Identifikasi Antibodi anti-Zika pada Tikus
Kamis, 28 Juli 2016 13:29 WIB
Gambar transmisi mikroskop elektron dari noda negatif virus Zika strain Fortaleza (merah) yang diisolasi dari satu kasus mikrosefali di Brasil. (US National Institute of Allergy and Infectious Diseases/NIAID)
Washington, Antara Jateng - Para peneliti Amerika Serikat pada Rabu (27/7) mengidentifikasi antibodi yang khusus melindungi tikus dari infeksi virus Zika, temuan penting menuju pengembangan vaksin dan tes diagnostik lebih baik dan terapi berbasis terapi antibodi.
Para peneliti dari Washington University School of Medicine di St. Louis memperoleh temuan itu dengan menginfeksi tikus dengan virus Zika, yang memungkinkan sistem kekebalan binatang itu memroduksi antibodi anti-Zika.
Menurut temuan mereka yang dipublikasikan di jurnal Cell, ada enam antibodi yang ditemukan, dan empat di antaranya efektif mencegah ancaman infeksi Zika pada sel dan tubuh tikus.
"Yang penting, beberapa dari antibodi kita bisa menetralkan strain virus Zika Afrika, Asia dan Amerika pada derajat yang sama," kata Daved Fremont, profesor patologi dan imunologi yang juga penulis hasil studi itu dalam satu pernyataan.
Hasil studi itu juga menunjukkan bahwa antibodi-antibodi itu terikat secara eksklusif pada Zika dan tidak pada virus terkait, yang artinya mereka cukup spesifik untuk digunakan dalam pemeriksaan diagnostik.
Kemudian, mereka menggunakan satu teknik yang disebut kristalografi sinar-X untuk membidik situs pengikatan dan menemukan dua antibodi paling protektif terikat ke wilayah protein khusus Zika yang sama, amplop protein yang meliputi permukaan virus.
"Ini langkah pertama menuju pengoptimalan strategi vaksin dan pengembangan terapi berbasis antibodi serta meningkatkan usaha membangkitkan diagnostik yang secara khusus akan membedakan virus Zika dari flavivirus terkait lainnya," kata peneliti penyakit infeksi Michael Diamond, penulis lain dari makalah itu.
Namun para peneliti mencatat bahwa pertanyaan utama mengenai apakah antibodi penetralisir Zika bisa melindungi perempuan hamil dan janin yang sedang berkembang masih harus dijawab.
Karena perbedaan-perbedaan signifikan pada kehamilan tikus dan manusia, studi perlindungan antibodi mungkin membutuhkan percobaan-percobaan pada mamalia lain seperti primata non-manusia yang memungkinkan transfer antibodi dari ibu ke janin seperti yang terjadi pada manusia.
Hingga sekarang belum ada pengobatan khusus untuk infeksi virus Zika, dan perempuan yang terinfeksi selama hamil berisiko memiliki bayi dengan cacat lahir, demikian seperti dilansir kantor berita Xinhua.
Para peneliti dari Washington University School of Medicine di St. Louis memperoleh temuan itu dengan menginfeksi tikus dengan virus Zika, yang memungkinkan sistem kekebalan binatang itu memroduksi antibodi anti-Zika.
Menurut temuan mereka yang dipublikasikan di jurnal Cell, ada enam antibodi yang ditemukan, dan empat di antaranya efektif mencegah ancaman infeksi Zika pada sel dan tubuh tikus.
"Yang penting, beberapa dari antibodi kita bisa menetralkan strain virus Zika Afrika, Asia dan Amerika pada derajat yang sama," kata Daved Fremont, profesor patologi dan imunologi yang juga penulis hasil studi itu dalam satu pernyataan.
Hasil studi itu juga menunjukkan bahwa antibodi-antibodi itu terikat secara eksklusif pada Zika dan tidak pada virus terkait, yang artinya mereka cukup spesifik untuk digunakan dalam pemeriksaan diagnostik.
Kemudian, mereka menggunakan satu teknik yang disebut kristalografi sinar-X untuk membidik situs pengikatan dan menemukan dua antibodi paling protektif terikat ke wilayah protein khusus Zika yang sama, amplop protein yang meliputi permukaan virus.
"Ini langkah pertama menuju pengoptimalan strategi vaksin dan pengembangan terapi berbasis antibodi serta meningkatkan usaha membangkitkan diagnostik yang secara khusus akan membedakan virus Zika dari flavivirus terkait lainnya," kata peneliti penyakit infeksi Michael Diamond, penulis lain dari makalah itu.
Namun para peneliti mencatat bahwa pertanyaan utama mengenai apakah antibodi penetralisir Zika bisa melindungi perempuan hamil dan janin yang sedang berkembang masih harus dijawab.
Karena perbedaan-perbedaan signifikan pada kehamilan tikus dan manusia, studi perlindungan antibodi mungkin membutuhkan percobaan-percobaan pada mamalia lain seperti primata non-manusia yang memungkinkan transfer antibodi dari ibu ke janin seperti yang terjadi pada manusia.
Hingga sekarang belum ada pengobatan khusus untuk infeksi virus Zika, dan perempuan yang terinfeksi selama hamil berisiko memiliki bayi dengan cacat lahir, demikian seperti dilansir kantor berita Xinhua.
Pewarta : Antaranews
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Batang identifikasi penyerapan tenaga kerja lokal di KEK dan Batang Industrial Park
04 December 2025 8:49 WIB
Wakil Ketua DPRD Jateng minta pemda identifikasi persoalan produktivitas padi
20 March 2025 19:09 WIB
Budiman Sudjatmiko: BP Taskin identifikasi kantong-kantong kemiskinan
24 December 2024 16:54 WIB, 2024
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Lihat Juga
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB
Dosen UIN Walisongo paparkan metode melihat hilal yang lebih efisien dan tepat sasaran
30 October 2025 12:03 WIB
Wali Kota Tegal Paparkan Inovasi Rusunawa Rendah Karbon di Forum APEKSI 2025 Surabaya
29 October 2025 8:30 WIB