Pluto yang Dingin Rumah bagi Beragam Medan
Jumat, 18 Maret 2016 10:52 WIB
Gambar beresolusi tinggi permukaan Pluto yang ditangkap Ralph/Multispectral Visual Imaging Camera (MVIC) pada pesawat New Horizons NASA. (NASA/JHUAP-SwRI)
Jendela yang belum ada sebelumnya ke planet kerdil itu, yang mengorbit matahari seperti planet lain tapi lebih kecil, muncul lewat foto-foto beresolusi tinggi dari pesawat antariksa New Horizons milik Badan Antarika Amerika Serikat (NASA).
Roket penelitian antarplanet itu pertama kali mengunjungi Pluto dan lima bulannya Juli lalu.
Gambar-gambar itu, hasil analisis kimia, dan data lainnya menunjukkan dunia kompleks yang secara geologis aktif tiga miliar mil dari Bumi, dengan samudra bawah tanah dan gunung-gunung api yang tampak memuntahkan es menurut lima makalah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science pekan ini.
"Secara geologis itu tempat yang cukup liar," kata ilmuwan planet William McKinnon dari Washington University di St. Louis, Missouri.
Ilmuwan lainnya menyebut keragaman lansekap Pluto "menakjubkan."
Bagaimana medannya bisa beragam masih menjadi misteri bagi Pluto yang jauh, yang rata-rata suhu permukaannya minus 229 derajat Celsius.
Para ilmuwan menduga ada beberapa proses yang berlangsung, antara lain penguapan es-es volatil seperti nitrogen, karbon monoksida dan methana menjadi atmosfer Pluto yang dingin dan padat tak terkira.
Meski lebih kecil dari bulan Bumi, Pluto sepertinya masih punya cukup panas internal dari pembentukannya sekitar 4,5 miliar tahun lalu untuk membantu menjaga fitur terkemukanya, cekungan mulus berbentuk hati dengan lebar 1.000 kilometer yang disebut Sputnik Planum.
Gunung-gunung relatif muda di barat Sputnik Planum dan gundukan ke selatan lebih sulit dijelaskan.
Para ilmuwan menduga keduanya ada pada blok-blok air es meski bagaimana itu bisa ada di Pluto belum bisa diketahui.
"Kami dibuat bingung oleh hampir semuanya," kata Alan Stern, pemimpin ilmuwan dalam misi New Horizons.
Hasil-hasil studi menunjukkan bahwa bintang utama Pluto, Charon, punya kehidupan aktif tapi kehabisan panas radioaktif alami pada bebatuannya dan membeku sepanjang sekitar dua miliar tahun lalu.
Para ilmuwan sekarang menyakini Charon dan empat bulan kecil lain Pluto ada karena tabrakan antara Pluto dengan benda seukuran Pluto pada awal sejarah sistem tata surya.
Serupa dengan bulan Bumi, para ilmuwan menduga satelit alami Pluto terbentuk dari puing yang terlempar ke luar angkasa setelah tabrakan, demikian seperti dilansir kantor berita Reuters.
Roket penelitian antarplanet itu pertama kali mengunjungi Pluto dan lima bulannya Juli lalu.
Gambar-gambar itu, hasil analisis kimia, dan data lainnya menunjukkan dunia kompleks yang secara geologis aktif tiga miliar mil dari Bumi, dengan samudra bawah tanah dan gunung-gunung api yang tampak memuntahkan es menurut lima makalah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science pekan ini.
"Secara geologis itu tempat yang cukup liar," kata ilmuwan planet William McKinnon dari Washington University di St. Louis, Missouri.
Ilmuwan lainnya menyebut keragaman lansekap Pluto "menakjubkan."
Bagaimana medannya bisa beragam masih menjadi misteri bagi Pluto yang jauh, yang rata-rata suhu permukaannya minus 229 derajat Celsius.
Para ilmuwan menduga ada beberapa proses yang berlangsung, antara lain penguapan es-es volatil seperti nitrogen, karbon monoksida dan methana menjadi atmosfer Pluto yang dingin dan padat tak terkira.
Meski lebih kecil dari bulan Bumi, Pluto sepertinya masih punya cukup panas internal dari pembentukannya sekitar 4,5 miliar tahun lalu untuk membantu menjaga fitur terkemukanya, cekungan mulus berbentuk hati dengan lebar 1.000 kilometer yang disebut Sputnik Planum.
Gunung-gunung relatif muda di barat Sputnik Planum dan gundukan ke selatan lebih sulit dijelaskan.
Para ilmuwan menduga keduanya ada pada blok-blok air es meski bagaimana itu bisa ada di Pluto belum bisa diketahui.
"Kami dibuat bingung oleh hampir semuanya," kata Alan Stern, pemimpin ilmuwan dalam misi New Horizons.
Hasil-hasil studi menunjukkan bahwa bintang utama Pluto, Charon, punya kehidupan aktif tapi kehabisan panas radioaktif alami pada bebatuannya dan membeku sepanjang sekitar dua miliar tahun lalu.
Para ilmuwan sekarang menyakini Charon dan empat bulan kecil lain Pluto ada karena tabrakan antara Pluto dengan benda seukuran Pluto pada awal sejarah sistem tata surya.
Serupa dengan bulan Bumi, para ilmuwan menduga satelit alami Pluto terbentuk dari puing yang terlempar ke luar angkasa setelah tabrakan, demikian seperti dilansir kantor berita Reuters.
Pewarta : Antaranews
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Langit yang tertutup, pariwisata yang tersendat: Membaca dampak perang Timur Tengah 2026 terhadap dunia pariwisata
06 March 2026 17:00 WIB
Sebanyak 30 WNI yang tertahan di Abu Dhabi dipulangkan lewat penerbangan repatriasi
05 March 2026 13:16 WIB
Polres Purbalingga amankan tiga terduga pencuri sepeda motor yang ditangkap warga
26 February 2026 18:57 WIB
BGN minta SPPG putus kerja sama dengan mitra yang "mark up" bahan baku MBG
26 February 2026 11:52 WIB
DPD minta perketat pengawasan pascastudi penerima LPDP yang kuliah di luar negeri
25 February 2026 8:35 WIB
Polresta Banyumas mediasi kasus dugaan pemukulan seorang anak yang viral di medsos
22 February 2026 7:15 WIB
Wagub Jateng pastikan percepatan penutupan tanggul Sungai Tuntang yang jebol
18 February 2026 22:31 WIB
Terdampak tanggul jebol, polisi rekayasa jalur Semarang-Grobogan yang putus
18 February 2026 19:28 WIB
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Lihat Juga
Pangeran asal Brunei Darussalam temui Ahmad Luthfi, jajaki investasi energi terbarukan di Jateng
06 February 2026 7:55 WIB
Peneliti ungkap spesies baru Nepenthes dari Kalbar, terpantau awal via medsos
24 January 2026 14:38 WIB
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB