Mahasiswa ITS Raih Penghargaan HNMUN di AS
Selasa, 3 Maret 2015 11:02 WIB
"Dua dari 10 anggota tim, yaitu saya dan R Aditya Brahmana (jurusan Teknik Informatika ITS) berhasil merebut gelar The Best Social Venture Challenge," kata anggota tim ITS Yabes David Losong di Surabaya, Selasa.
Mahasiswa dari jurusan Teknik Mesin ITS itu mengakui tim mahasiswa ITS tidak menyangka hasil itu, karena ajang simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bergengsi itu baru pertama kalinya diikuti.
Apalagi, Aditya dan Yabes berhasil menyisihkan sekitar 3.000 mahasiswa dari 70 negara di dunia. Mereka berdua dianugerahi satu dari lima penghargaan yang diperebutkan dalam kompetisi tersebut.
Dengan perolehan itu, keduanya menempatkan nama ITS di posisi puncak di antara pemenang lainnya dalam kompetisi yang digelar di Harvard University, Boston, Amerika Serikat.
"Social Venture Challange (SVC)" itu merupakan gelar juara yang diberikan kepada tim yang memiliki proyek sosial yang memberikan dampak paling besar bagi perekonomian masyarakat.
Dalam ajang itu, keduanya mengangkat proyek sosial berupa pemberdayaan petani dan peternak di Desa Mojosari, Kabupaten Mojokerto untuk membuat vermikompos berbahan dasar cacing tanah dan limbah kotoran sapi.
"Vermikompos tersebut kami jadikan pupuk untuk meningkatkan produktivitas jagung saat kemarau," ujar mahasiswa angkatan 2011 itu tentang karya yang menjadi juara dalam salah satu cabang dari kompetisi HNMUN itu.
Menurut Yabes, juri sangat terkesan dengan proyek mereka karena berhasil mengubah hal yang jorok menurut orang banyak, menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis tinggi.
"Orang bule itu tertarik dengan hal-hal yang menjijikkan, tapi bisa menghasilkan uang. Pesaing berat kami adalah tim dari negara-negara di Amerika Latin yang sangat ambisius," katanya.
Ada tiga tim ITS yang maju di kategori SVC. Bahkan, dua di antaranya berhasil masuk ke babak final, tetapi hanya satu yang akhirnya dapat juara.
"Kami tidak main-main dalam mempersiapkan kompetisi simulasi sidang yang mendekati sidang aslinya di PBB itu, bahkan ITS HNMUN Club telah mempersiapkan diri sejak Oktober 2014," katanya.
Prestasi yang ditorehkan Tim ITS HNMUN ini menjadi bukti bahwa mahasiswa ITS tidak hanya berprestasi di bidang teknik, tetapi juga bidang sosial yang bergengsi.
"Yang jelas, prestasi ini akan menjadi pelecut semangat bagi mahasiswa ITS agar tidak alergi di dunia sosial, politik dan hubungan internasional, sebab pemikiran-pemikiran mahasiswa teknik dapat diaplikasikan dalam dunia politik. Engineering tanpa politik itu kuli," tegasnya.
Sejatinya, mekanisme kompetisi utama dalam HNMUN adalah para kontingen menjadi representasi dari suatu negara, sehingga negara tersebut akan dinilai keaktifannya dalam berdiplomasi dengan negara lain untuk memberikan resolusi terhadap permasalahan dunia yang sedang terjadi. Dalam hal ini, ITS menjadi representasi dari negara Tanzania.
Mahasiswa dari jurusan Teknik Mesin ITS itu mengakui tim mahasiswa ITS tidak menyangka hasil itu, karena ajang simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bergengsi itu baru pertama kalinya diikuti.
Apalagi, Aditya dan Yabes berhasil menyisihkan sekitar 3.000 mahasiswa dari 70 negara di dunia. Mereka berdua dianugerahi satu dari lima penghargaan yang diperebutkan dalam kompetisi tersebut.
Dengan perolehan itu, keduanya menempatkan nama ITS di posisi puncak di antara pemenang lainnya dalam kompetisi yang digelar di Harvard University, Boston, Amerika Serikat.
"Social Venture Challange (SVC)" itu merupakan gelar juara yang diberikan kepada tim yang memiliki proyek sosial yang memberikan dampak paling besar bagi perekonomian masyarakat.
Dalam ajang itu, keduanya mengangkat proyek sosial berupa pemberdayaan petani dan peternak di Desa Mojosari, Kabupaten Mojokerto untuk membuat vermikompos berbahan dasar cacing tanah dan limbah kotoran sapi.
"Vermikompos tersebut kami jadikan pupuk untuk meningkatkan produktivitas jagung saat kemarau," ujar mahasiswa angkatan 2011 itu tentang karya yang menjadi juara dalam salah satu cabang dari kompetisi HNMUN itu.
Menurut Yabes, juri sangat terkesan dengan proyek mereka karena berhasil mengubah hal yang jorok menurut orang banyak, menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis tinggi.
"Orang bule itu tertarik dengan hal-hal yang menjijikkan, tapi bisa menghasilkan uang. Pesaing berat kami adalah tim dari negara-negara di Amerika Latin yang sangat ambisius," katanya.
Ada tiga tim ITS yang maju di kategori SVC. Bahkan, dua di antaranya berhasil masuk ke babak final, tetapi hanya satu yang akhirnya dapat juara.
"Kami tidak main-main dalam mempersiapkan kompetisi simulasi sidang yang mendekati sidang aslinya di PBB itu, bahkan ITS HNMUN Club telah mempersiapkan diri sejak Oktober 2014," katanya.
Prestasi yang ditorehkan Tim ITS HNMUN ini menjadi bukti bahwa mahasiswa ITS tidak hanya berprestasi di bidang teknik, tetapi juga bidang sosial yang bergengsi.
"Yang jelas, prestasi ini akan menjadi pelecut semangat bagi mahasiswa ITS agar tidak alergi di dunia sosial, politik dan hubungan internasional, sebab pemikiran-pemikiran mahasiswa teknik dapat diaplikasikan dalam dunia politik. Engineering tanpa politik itu kuli," tegasnya.
Sejatinya, mekanisme kompetisi utama dalam HNMUN adalah para kontingen menjadi representasi dari suatu negara, sehingga negara tersebut akan dinilai keaktifannya dalam berdiplomasi dengan negara lain untuk memberikan resolusi terhadap permasalahan dunia yang sedang terjadi. Dalam hal ini, ITS menjadi representasi dari negara Tanzania.
Pewarta : Antaranews
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Undip dan ITS raih juara pada Kontes Mobil Hemat Energi 2025 di Universitas Jember
27 October 2025 10:21 WIB
Hadiri Forum ITS, Pj. Wali Kota: Tegal siap terapkan transportasi cerdas
28 May 2024 20:51 WIB, 2024
Mobil listrik buatan Universitas Budi Luhur dan ITS disiapkan terjun ke Rally Dakar
13 November 2018 8:22 WIB, 2018
Terpopuler - Pendidikan
Lihat Juga
Menristekdikti: Program "Sarjana masuk desa" Berikan Inovasi Pertanian dan Peternakan
31 January 2017 15:33 WIB, 2017
Pagelaran Wayang Kulit, PDIP Ingin Masyarakat Jakarta Junjung Tinggi Kebhinekaan
29 January 2017 7:05 WIB, 2017
Presiden ingin Sekolah Wajibkan Murid ikut Kegiatan Luar dalam Ekstrakulikuler
26 January 2017 12:50 WIB, 2017
Presiden: Kartu Indonesia Pintar yang akan Dibagikan pada 2017 Sebanyak 19 Juta
26 January 2017 12:02 WIB, 2017
Kemendikbud tidak hanya Menghabiskan Uang, tetapi bisa Menghasilkan Uang, Kata Muhajir
24 January 2017 11:23 WIB, 2017
Mendikbud: Pengalihan Penyelenggaraan SMA/SMK ke Provinsi Diperbaiki
17 January 2017 14:52 WIB, 2017
Nilai-Nilai Kebhinekaan perlu Dipelihara dan Dikembangkan seluruh Lembaga Pendidikan
17 January 2017 12:11 WIB, 2017
Menhub Ingin Pilot lulusan sarjana menambah Kedewasaan dan Wawasan Luas
13 January 2017 18:05 WIB, 2017