Presiden Ingatkan Indonesia Pernah Terjebak Obral Lisensi SDA
Senin, 29 Desember 2014 15:10 WIB
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Gubernur Papua Lukas Enembe dan Ketua Lembaga Masyarakat Adat Papua (LMA) Lenis Kogoya (kanan) meletakkan batu pertama pembangunan pasar Praha, Sentani, Jayapura, Sabtu (28/12). (ANTARA FOTO/Evarukdijati)
"Jangan mengobral-obral yang namanya lisensi atau izin-izin, kekayaan kita habis, rakyat tidak sejahtera, tidak dapat apa-apa, ini yang saya titip," kata Presiden saat berdialog dengan para gubernur, bupati, wali kota dan tokoh masyarakat se-Papua Barat di Sorong, Papua Barat, Senin pagi.
Presiden mengingatkan, Indonesia pernah terjebak dalam obral lisensi sumber daya alam.
Ia mencontohkan pada tahun 70an-80an, Indonesia mengalami lonjakan minyak. Namun kini minyak habis, sementara kesejahteraan masyarakat juga belum tercapai.
Begitu pula dengan lonjakan kayu di tahun 80 an. "Kini diulang lagi batubara," kata Presiden.
Untuk itu, Presiden mengingatkan perlunya kebijakan yang benar dan tepat agar mampu menyejahterakan.
Pertemuan dengan kepala daerah tersebut mengawali kegiatan Presiden Jokowi di hari ketiga kunjungan di tanah Papua, sebelum bertolak kembali ke Jakarta.
Sementara itu Presiden akan bertolak ke Jakarta melalui Biak. Presiden bertolak dari Sorong menuju Biak usai menemui para nelayan di Pelabuhan Rakyat, Distrik Manoi, Kelurahan Malawe, Sorong.
Presiden dalam kesempatan itu di dampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo dan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Edhy Tedjopudjianto.
Turut hadir Gubernur Papua Barat Abraham Oktavianus Atururi, 12 bupati dan wali kota, pimpinan lembaga legislatif dan yudikatif daerah serta para tokoh adat dan agama di Papua Barat.
Presiden mengingatkan, Indonesia pernah terjebak dalam obral lisensi sumber daya alam.
Ia mencontohkan pada tahun 70an-80an, Indonesia mengalami lonjakan minyak. Namun kini minyak habis, sementara kesejahteraan masyarakat juga belum tercapai.
Begitu pula dengan lonjakan kayu di tahun 80 an. "Kini diulang lagi batubara," kata Presiden.
Untuk itu, Presiden mengingatkan perlunya kebijakan yang benar dan tepat agar mampu menyejahterakan.
Pertemuan dengan kepala daerah tersebut mengawali kegiatan Presiden Jokowi di hari ketiga kunjungan di tanah Papua, sebelum bertolak kembali ke Jakarta.
Sementara itu Presiden akan bertolak ke Jakarta melalui Biak. Presiden bertolak dari Sorong menuju Biak usai menemui para nelayan di Pelabuhan Rakyat, Distrik Manoi, Kelurahan Malawe, Sorong.
Presiden dalam kesempatan itu di dampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo dan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Edhy Tedjopudjianto.
Turut hadir Gubernur Papua Barat Abraham Oktavianus Atururi, 12 bupati dan wali kota, pimpinan lembaga legislatif dan yudikatif daerah serta para tokoh adat dan agama di Papua Barat.
Pewarta : Antaranews
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Akademisi UMS ingatkan potensi El Nino "Godzilla", kemarau 2026 diprediksi lebih panjang
01 May 2026 12:00 WIB
Terpopuler - Politik dan Hankam
Lihat Juga
Zulkifli Hasan Berharap Jakarta Kembali Tenang dan Damai Setelah Pilkada
02 February 2017 6:50 WIB, 2017
Agus: Saya hanya Sampaikan "Salam Hormat" ke Pak Maruf dan Pengurus PBNU
01 February 2017 19:04 WIB, 2017
" Presiden Jokowi Ingin Bertemu Saya, Tapi Dilarang Dua-Tiga di Sekeliling Beliau," Kata SBY
01 February 2017 18:35 WIB, 2017
Tim Anies-Sandi: Kegiatan PT MWS pada Masyarakat Tentang Reklamasi Pulau G Memaksakan Ambisi
01 February 2017 17:17 WIB, 2017
Setnov: NU Salalu Hadir sebagai Organisasi yang Suarakan Perdamaian dan Kesejukan
01 February 2017 16:41 WIB, 2017
Ahok Menyayangkan ada Pihak yang Mengadu Domba bahwa Dia Menghina Integritas PBNU
01 February 2017 16:12 WIB, 2017
Din: Tudingan Ahok Terhadap Maruf Bernada Sarkastik dan Sangat Menghina
01 February 2017 15:58 WIB, 2017
SBY perlu Klarifikasi Pernyataan Kuasa Hukum Ahok yang Mengkaitkan Fatwa MUI
01 February 2017 14:56 WIB, 2017