LAPAN Dorong Pengembangan Satelit Nasional Penginderaan Jauh
Selasa, 4 November 2014 13:10 WIB
"Satelit itu menjadi satelit operasional yang sebagai pembelajaran untuk menguasai teknologi satelit. Ke depan kami berupaya menjadi negara mandiri untuk pengembangan satelit," kata Kepala LAPAN, Thomas Djamaludin, usai membuka Konferensi Penginderaan Jauh Kelautan, di Sanur, Denpasar, Selasa.
Selama ini Indonesia memanfaatkan data dari lembaga internasional untuk kepentingan penginderaan jauh dengan dibebankan biaya iuran tahunan yang tidak murah.
Sejak 2007, LAPAN berupaya menuju lembaga mandiri untuk satelit penginderaan jauh.
"Kami sudah meluncurkan satelit penginderaan jauh pada 2007 satelit ekperimen mikro yang disebut LAPAN Tubesat atau LAPAN A1," ucapnya.
Satelit penginderaan jauh yang menggunakan kamera video itu sudah berjalan selama sekitar tujuh tahun sehingga kekuatan sensor sudah berangsur-angsur menurun.
Kini, lembaga pemerintah non-departemen itu tengah menyiapkan dua satelit baru yang akan diluncurkan pertengahan dan akhir 2015.
Satelit itu yakni satelit LAPAN A2 yang bermuatan kamera penginderaan jauh, deteksi kapal laut dan komunikasi radio amatir.
Selain itu, ada lagi satelit yang siap diluncurkan akhir tahun 2015 yakni LAPAN A3 yang masih dalam tahap integrasi dan pengujian.
"Satelit umurnya tidak sampai 15 tahun jadi kami tidak bisa bergantung dengan negara lain. Berikutnya kami harapkan harus bisa menguasai satelit komunikasi dan penyiaran yang saat ini dibeli dari asing," harapnya.
Sementara itu untuk penginderaan jalur darat, LAPAN memiliki lima unit pesawat remote pengawas berawak dan tanpa awak atau LAPAN Surveilance Unmaned-LSU02 Areal Surveilance.
Penggunaan remote penginderaan daratan itu lebih banyak digunakan oleh lembaga, kementerian atau pemerintah daerah untuk kepentingan pemetaan lahan hutan, pertanian, lingkungan bencana dan perencanaan wilayah.
Selama ini Indonesia memanfaatkan data dari lembaga internasional untuk kepentingan penginderaan jauh dengan dibebankan biaya iuran tahunan yang tidak murah.
Sejak 2007, LAPAN berupaya menuju lembaga mandiri untuk satelit penginderaan jauh.
"Kami sudah meluncurkan satelit penginderaan jauh pada 2007 satelit ekperimen mikro yang disebut LAPAN Tubesat atau LAPAN A1," ucapnya.
Satelit penginderaan jauh yang menggunakan kamera video itu sudah berjalan selama sekitar tujuh tahun sehingga kekuatan sensor sudah berangsur-angsur menurun.
Kini, lembaga pemerintah non-departemen itu tengah menyiapkan dua satelit baru yang akan diluncurkan pertengahan dan akhir 2015.
Satelit itu yakni satelit LAPAN A2 yang bermuatan kamera penginderaan jauh, deteksi kapal laut dan komunikasi radio amatir.
Selain itu, ada lagi satelit yang siap diluncurkan akhir tahun 2015 yakni LAPAN A3 yang masih dalam tahap integrasi dan pengujian.
"Satelit umurnya tidak sampai 15 tahun jadi kami tidak bisa bergantung dengan negara lain. Berikutnya kami harapkan harus bisa menguasai satelit komunikasi dan penyiaran yang saat ini dibeli dari asing," harapnya.
Sementara itu untuk penginderaan jalur darat, LAPAN memiliki lima unit pesawat remote pengawas berawak dan tanpa awak atau LAPAN Surveilance Unmaned-LSU02 Areal Surveilance.
Penggunaan remote penginderaan daratan itu lebih banyak digunakan oleh lembaga, kementerian atau pemerintah daerah untuk kepentingan pemetaan lahan hutan, pertanian, lingkungan bencana dan perencanaan wilayah.
Pewarta : Antaranews
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
UMS dorong inovasi pembelajaran matematika berbasis TIK untuk guru SMK Muhammadiyah Klaten
21 January 2026 13:57 WIB
Temu wali mahasiswa PGSD UMS, dorong peran orang tua pantau prestasi akademik
15 January 2026 18:10 WIB
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Lihat Juga
Peneliti ungkap spesies baru Nepenthes dari Kalbar, terpantau awal via medsos
24 January 2026 14:38 WIB
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB
Dosen UIN Walisongo paparkan metode melihat hilal yang lebih efisien dan tepat sasaran
30 October 2025 12:03 WIB