"Berkaca pada debat perdana lalu, pelaksanaan debat kedua pada tanggal 15 Juni mendatang harus lebih baik. Harusnya, debat itu untuk ajang eksplorasi program," katanya di Semarang. ...
"Gerakan masyarakat tidak menonton tayangan televisi yang bersifat partisan bisa diiniasi oleh berbagai kalangan, mulai dari lembaga swadaya masyarakat, hingga perguruan tinggi," ...
"Masyarakat kan bisa menilai mana televisi yang condong ke pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, mana yang condong ke Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Televisi menjadi alat propaganda politik," ...
"Secara umum pasti berpengaruh, yakni persepsi politik masyarakat. Masyarakat akan menilai ada masalah dengan partai politik pengusung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa," katanya di ...
"Dari sisi elektabilitas, sosok JK bisa menguatkan elektabilitas Jokowi sebagai capres. Didukung dengan kapasitas JK dalam pemerintahan karena pernah menjabat sebagai wakil presiden," ...
  "Dua poros utama koalisi yang sudah muncul dengan kekuatan bakal calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto terlalu kuat. Terlambat jika Demokrat mau membentuk poros koalisi baru," ...
"Kalau salah memilih figur, bisa jatuh. Sekalipun calon presidennya Jokowi," katanya di Semarang, Jumat, menanggapi perkembangan koalisi partai politik menjelang Pilpres 2014. ...
 "Kembalinya PPP mendukung Prabowo sebagai bakal calon presiden sangat berarti untuk Gerindra. Posisi Gerindra untuk menarik partai politik lain berkoalisi menjadi semakin kuat," katanya di ...
"Dibandingkan jika harus menggandeng Aburizal Bakrie (Ical), peluang mengajak Hatta Rajasa lebih terbuka. Tidak terlalu 'ribet'. Tinggal cari satu parpol lagi untuk koalisi," katanya ...
"Faksionalisasi di Golkar kan besar. Ada beberapa kelompok dengan figur-figur yang kuat, seperti Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, dan Ical sendiri," katanya di Semarang, Jawa Tengah, Kamis. ...