
Gunung Merapi Kembali Bergemuruh

Menurut Tumar (45) seorang tokoh masyarakat di Desa Jrakah Selo Boyolali, bahwa kejadian suara gemuruh terdengar dari puncak Merapi tersebut dua kali yakni pukul 03.00 WIB dan pukul 07.00 WIB, tetapi warga setempat baru bangun tidur dan tidak sampai panik.
"Kejadian suara gemuruh itu, sudah biasa dirasakan oleh warga di lereng Merapi, sehingga mereka tidak sampai panik. Setelah itu, terjadi hujan abu tipis yang menyelimuti kawasan Dukuh Gesikan lereng Merabu atau sebelah barat puncak Merapi," katanya.
Menurut Tumar, kondisi puncak Merapi tidak terlihat dengan kasat mata karena tertutup awan dan kabut tebal. Warga setempat juga banyak yang tidak memperhatikan kondisi Merapi karena mereka banyak yang baru bangun tidur.
Tumar menjelaskan, warga di Dukuh Gesikan saat terjadi hujan abu tersebut, mereka sempat menunda pergi ke ladang. Setelah hujan abu reda sekitar pukul 08.30 WIB, warga mulai beraktivitas ke ladang masing-masing.
Kendati demikian, kata Tumar yang juga mantan Kepala Desa Jrakah tersebut mengimbau warga tetap waspada baik saat mereka melakukan aktivitasnya di ladang maupun rumah masing-masing.
Sementara peristiwa letupan dari puncak Gunung Merapi juga menyebabkan hujan abu tipis di kawasan Desa Balerante Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Menurut Koordinator relawan Merapi di Balerante, Suharno, bawah letupan Merapi yang terjadi Senin, pukul 07.09 WIB hanya menyemburkan abu vilkanik setinggi sekitar 1,5 kilometer berwarna hitam.
Pewarta: Bambang Dwi Marwoto
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
