Logo Header Antaranews Jateng

Erupsi Kelud, Produksi Susu Sapi Melorot

Rabu, 19 Februari 2014 20:44 WIB
Image Print
Ilustrasi (Foto ANTARA/Idhad Zakaria)

Ketua Umum Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Kuncoro di Boyolali, Rabu, mengatakan, produksi susu sapi di Boyolali dalam kondisi normal mencapai 90.000 hingga 100.000 liter per hari.

Menurut Kuncoro, dampak hujan abu Gunung Kelud yang melanda di wilayah Boyolali menyebabkan produksi susu menurun hingga 15.000 per hari atau sekitar 15 persen. Hal ini, akibat ternak sapi perah kekurangan pakan rumput atau hijau-hijauan daun lainnya yang masih tercemar abu.

Peternak sapi di Boyolali, kata dia, sangat teliti dan berhat-hati untuk memberikan pakan hijaun karena mereka takut terkena penyakit. Sehingga, mereka hanya memberikan pakan yang lain seperti konsentrat, katul dan ketela pohon.

Menurut Kuncoro, jika dipaksakan dengan memberikan pakan hijauan daun yang masih tercemar abu vulkanik bisa mengakibatkan penyakit hati serta batuk pada ternak sapi perah.

Namun, lanjut dia, sudah turunnya hujan di wilayah Boyolali beberapa hari ini, dapat mengurangi dampak tercemarnya rumput, meski belum seluruhnya terbebas dari abu vulkanik.

Menurut dia, dengan adanya hujan abu dampak letusan Gunung Kelud tersedut tidak mempengaruhi kualitas susu segar di daerah Boyolal tetap sama seperti hari-hari biasa.

"Kami memprediksi produksi susu di Boyolali akan kembali normal tahap demi tahapi sekitar sebulan ke depan, setelah abu vulkanik bersih menyelimuti daerah ini," ucapnya.

Ia menjelaskan, harga susu di Kabupaten Boyolali saat ini, berkisar antara Rp4.400 per liter hingga Rp4.600 per liternya. Produksi susu asal Boyolali didistribusikan ke industri pengolahan susu (IPS) seperti Frisian Flag atau Susu Bendera (Jakarta), Indo Milk (Jakarta) dan Industri Pengolahan Susu Citra Nasional (IPCN) di Salatiga.

"Peluang penjualan susu sapi asal Boyolali ini, sangat besar karena hampir seluruh industri pengolahan susu membutuhkan," ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap kepada peternakan sapi perah di Kabupaten Boyolali untuk lebih giat kembali membudidayakan ternaknya dan tetap menjaga kualitas susu, sehingga Boyolali predikat sebagai "Kota Susu" bisa disandang sepanjang masa.



Pewarta:
Editor: Zuhdiar Laeis
COPYRIGHT © ANTARA 2026