Logo Header Antaranews Jateng

Masyarakat Diimbau Waspadai Penyakit DBD

Jumat, 17 Januari 2014 16:56 WIB
Image Print
ilustrasi fogging

"Selama Januari 2014, tercatat ada 25 kasus DBD. Bahkan, ada yang meninggal dunia sehingga harus dilakukan antisipasi dengan cara pemutusan rantai penyebaran lewat pengasapan atau fogging," kata Kasi Pencegahan dan Kejadian Luar Biasa pada Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Subiyono, di Kudus, Jumat.

Hingga pekan ini, lanjut dia, upaya pemutusan rantai penyebaran lewat fogging sudah dilakukan sebanyak 21 kali yang tersebar di delapan kecamatan.

Di antaranya, Kecamatan Bae lima kali, Kecamatan Dawe empat kali, Kecamatan Jati tiga kali, serta Undaan, Gebog, Kaliwungu, dan Mejobo masing-masing dua kali serta Kecamatan Jekulo satu kali.

Selama ini, sudah DKK Kudus sudah menempuh berbagai cara dalam menanggulangi penyebaran nyamuk yang berpotensi menularkan penyakit DBD.

Di antaranya, lewat program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui pengurasan bak mandi atau penampungan air, menutup bak penampung air, dan mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air hujan agar tidak dijadikan tempat untuk berkembang biak jentik nyamuk yang dimungkinkan membawa virus DBD juga digalakkan.

Selain itu, dilakukan pemberantasan jentik nyamuk dengan program larvasida selektif.

Penggunaan larvasida tersebut, diharapkan digunakan pada tempat-tempat yang jarang dilihat, seperti tempat pembuangan air pada lemari pendingin maupun tempat-tempat tersembunyi lainnya yang berpotensi menampung air.

"Masyarakat juga perlu didorong agar membuat bak mandi dengan warna porselen yang lebih cerah, guna meningkatkan kesadaran mereka dalam membersihkan bak mandi maupun bak penampung air lainnya," ujarnya.

Apabila porselen yang digunakan berwarna cerah, diharapkan setiap terlihat keruh akan memunculkan kesan risi sehingga tergerak untuk membesihkan tanpa harus diingatkan secara terus menerus.

Keberadaan kader pemantau jentik maupun kelompok kerja penanggulangan DBD kecamatan dan desa juga perlu dioptimalkan.

Berdasarkan data jumlah kasus DBD selama tahun 2013 terjadi 501 kasus.

Dari jumlah tersebut, angka kesakitan atau Incidence Rate (IR) DBD 63,33 persen per 100 ribu penduduk dengan tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) sekitar 0,80 persen.

"Standar nasional IR adalah 20 persen per 100 ribu penduduk. Artinya Kudus tergolong tinggi karena IR DBD-nya mencapai 63,33 persen per 100 ribu penduduk. Sedangkan dilihat dari angka kematian yang kurang dari 1 persen, maka masyarakat sudah tanggap terhadap gejala DBD dan penanganannya termasuk pemberantasan PSN secara mandiri," ujarnya.
Dengan angka kematian yang masih rendah tersebut, kata dia, menjadi indikasi pula tata laksana rumah sakit juga tergolong baik yang ditunjang kesadaran masyarakat untuk memeriksakan anggota keluarga yang mengalami demam tinggi.



Pewarta:
Editor: hernawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026