
Para Romo Main Opera Jenaka

"Saya memang baru pertama ini menggarap acara yang konten aktornya para romo. Ya, Sekitar 90 persen pemain opera ini para romo," kata sutradara opera "Punakawan Menggugat" Djaduk Ferianto di Semarang, Rabu.
Seniman asal Yogyakarta itu mengaku opera yang dipercayakan kepadanya itu termasuk tugas berat karena keseharian para romo yang sangat dihormati kalangan umat sehingga menumbuhkan kesan serius atau kaku.
Meski demikian, ia mengatakan sebenarnya kehidupan para romo ini tentunya juga diwarnai dengan guyonan-guyonan sebagaimana masyarakat biasa sehingga cukup unik menampilkan mereka dalam pertunjukan opera.
"Sekitar 90 persen pemain opera ini dari kalangan romo, mulai penari, penyanyi, dan lakon-lakonnya. Ada pula artis, seperti Donna Arshinta, Joice Triatman. Tak ketinggalan, Didik Nini Thowok," katanya.
Djaduk mengaku lakon "Punakawan Menggugat" itu didasari atas peran para romo sebagai pembimbing, pengayom, dan sebagainya sama seperti punokawan, meski tokoh pewayangan itu digambarkan sebagai sosok yang lucu.
Akan tetapi, kata dia, peran punokawan sebagai pembimbing dan pengayom sekarang ini sudah seperti "diambil alih" profesi-profesi lain, seperti politikus dan kondisi masyarakat justru kian tidak teratur.
"Kalau dikatakan sekarang ini zaman edan, tambah kesurupan. Bisa dibayangkan, 'wis' edan, kesurupan lagi. Jadinya, para punakawan ini kemudian menggugat ke 'Jonggring Saloko' (kahyangan, red.)," kata Djaduk.
Uskup Agung Semarang Romo Monsinyur (Mgr) Yohannes Pujasumarta mengatakan lakon yang diangkat dalam pergelaran opera itu juga tidak lepas dari situasi batin dan keprihatinan terhadap kondisi bangsa sekarang ini.
"Romo bertugas sebagai imam yang mewartakan kabar gembira kepada orang-orang. Salah satunya, lewat opera ini. Sekarang ini, setidaknya ada 203 imam (romo) di Semarang," kata Romo yang juga ikut bermain di opera itu.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
