Logo Header Antaranews Jateng

Warga Dawung Magelang Gelar Grebeg Kupat

Selasa, 13 Agustus 2013 21:26 WIB
Image Print
Ilustrasi Grebeg Kupat.


Anak-anak hingga orang dewasa berkumpul di Lapangan Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, untuk menyaksikan tradisi tahunan tersebut.

Sebelum acara gerebeg kupat dimulai, seluruh warga bersalam-salaman sebagai simbol saling memaafkan. Usai bersalam-salaman, gunungan setinggi 2,5 meter yang berisi sekitar 800 ketupat, sayur mayur, dan buah-buahan dikirab keliling dusun oleh sejumlah warga.

Kirab tersebut diiringi kesenian topeng ireng dan tarian dayakan khas Magelang.

Usai dikirab, gunungan kemudian diletakkan di tengah lapangan. Tarian Prawita Lestari yang ditarikan oleh sekelompok anak perempuan mengawali prosesi gerebeg. Musik gamelan pun menghentak usai sesepuh dusun membacakan doa.

Begitu mendengar aba-aba "Gerebeg Kupat Dimulai", ratusan warga langsung menyerbu gunungan tersebut.

Mereka berebut mendapatkan ketupat sebanyak-banyaknya, karena di dalam ketupat tersebut berisi uang dan bermacam-macam kupon.

Koordinator acara Gerebeg Kupat dan Lintas Budaya Kampung, Gepeng Nugroho mengatakan, acara gerebeg kupat sarat dengan makna filosofis.

Menurut dia, kata gerebeg mengandung arti kebersamaan dan berlomba-lomba, sedangkan kata kupat, dalam bahasa Jawa berarti
ngaku lepat atau mengakui kesalahan.

"Jadi acara ini dimaksudkan untuk sama-sama mengakui kesalahan dan menghabiskannya dengan permintaan maaf," katanya.

Ia mengatakan acara gerebeg kupat diselenggarakan setelah hari kelima atau keenam Lebaran. Adapun ketupat yang mendominasi gunungan sebagai simbol kesalahan yang harus dimaafkan secara bersama-sama.

"Uang atau kupon yang ada di dalam ketupat merupakan bentuk kegembiraan di bulan Syawal ini. Kami bersenang-senang, namun tetap membagi kegembiraan pada orang lain. Uang atau kupon ini juga dikumpulkan dari warga sebagai ungkapan syukur," katanya.



Pewarta:
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026