Logo Header Antaranews Jateng

Perusahaan Asing Incar Pasar Semen Indonesia

Jumat, 19 Juli 2013 14:37 WIB
Image Print

Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia Agung Wiharto di Semarang, Kamis malam, menjelaskan pertumbuhan kebutuhan semen di Indonesia masih tinggi, mencapai lebih dari 10 persen per tahun, bahkan tahun lalu mencapai 14 persen.

Kebutuhan semen di Indonesia pada tahun ini saja mencapai lebih dari 64 juta ton, sedangkan yang bisa dipenuhi oleh industri semen Indonesia sekitar 61 juta ton. Indonesia pada tahun ini harus mengimpor tiga juta ton dan pada 2014 diperkirakan angka impornya sama dengan tahun ini.

Ia menjelaskan saat ini Siam Cement dari Thailand sudah mulai membangun pabrik berkapasitas 1,8 juta ton per tahun di Sukabumi. Beberapa industri semen dari China juga berniat investasi di bidang sama.

Investor asing tertarik membangun pabrik semen di Indonesia, menurut dia, karena pasar bahan bangunan di negeri ini masih sangat besar dan menjanjikan keuntungan yang besar pula.

Ia menyebutkan bahwa konsumsi semen per kapita Indonesia saat ini baru mencapai 223 kilogram/tahun, jauh lebih kecil dibandingkan dengan China yang mencapai hampir 1.600 kg atau Singapura yang mencapai 1.200 kg.

"Bahkan kita dengan Vietnam saja masih kalah jauh. Vietnam dan Thailand konsumsi per kapitanya mencapai 600 kilogram per tahun," katanya.

PT Semen Indonesia yang mendominasi pangsa pasar semen nasional, dengan besaran sekitar 43 persen, kata Agung, terus berupaya memperbesar kapasitas produksi dengan membangun pabrik baru, antara lain di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Grup PT Semen Indonesia saat ini membanjiri pasar semen nasional lebih dari 27 juta ton dan diperkirakan pada tahun depan mencapai 30 juta ton.

PT Semen Indonesia, katanya, berkomitmen kuat membangun pabrik semen yang ramah lingkungan. Pada 2012 perusahaan yang dipimpin Dwi Soetjipto ini meraih penghargaan tertinggi di bidang pengelolaan lingkungan.

"Pabrik semen di Rembang nanti kami juga menggunakan teknologi yang sangat ramah lingkungan dari Jerman dan Denmark meskipun harganya lebih mahal tiga kali lipat dari yang ditawarkan industri China dan India," katanya.



Pewarta:
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026