Logo Header Antaranews Jateng

Sambut Ramadhan, Warga Lakukan Ritual Padusan

Minggu, 7 Juli 2013 18:48 WIB
Image Print
ilustrasi


Prosesi ritual "Padusan" yang dilakukan setiap tahun tersebut, diawali dengan siraman kepada Mas dan Mbak Boyolali 2013 oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Boyolali Sri Ardiningsih di Umbul Ngabean Pengging, Banyudono.

Sebelum siraman, pasangan Mas dan Mbak Boyolali yang menjadi ikon dalam prosesi tersebut, mengikuti kirab bersama seratusan peserta lainnya dari Masjid Cipto Mulyo Pengging menuju Umbul Ngabean.

Peserta kirab lainnya, pasukan marching band, puluhan pesilat, peserta yang mengenakan busana adat Jawa, dan sejumlah penari.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Boyolali Mulyono Santoso menjelaskan dengan dimandikan atau "siraman" kepada Mas dan Mbak Boyolali tersebut bertanda dimulainya ritual "Padusan" di kawasan Umbul Pengging yang diikuti oleh ratusan pengunjung.

"Kegiatan padusan yang dilakukan setiap tahun menjelang menjalankan ibadah puasa ini, sangat penting. Padusan atau siraman diartikan sebagai pembersihan diri dari segala kotoran sebelum umat Islam menjalankan puasa," katanya.

Ia menjelaskan, dalam kegiatan padusan tersebut pihaknya menargetkan pendapatan sebesar Rp42,5 juta. Target itu, ditetapkan hanya dari satu lokasi padusan, yakni daerah objek wisata air Tlatar. Karena, di Pengging ini sudah dikelola oleh pihak ketiga.

Menurut dia, target tersebut mengalami kenaikan sebesar Rp5,5 juta dibanding 2012 yang hanya sekitar Rp37 juta. Tetapi, pihaknya optimistis target itu, dapat tercapai karena padusan sudah menjadi tren peningkatan pengujung.

Kepala Bidang Kebudayaan, Disbudpar Boyolali, Sutrisno, menjelaskan perbedaan siraman pada zaman Paku Buwono, ritual padusan tidak menggunakan ikon putra dan putri seperti Mas dan Mbak Boyolali.

Menurut dia, pada zaman dahulu padusan dilakukan oleh raja, permaisuri beserta anak cucunya yang kemudian menjadi tradisi hingga sekarang.



Pewarta:
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026