Logo Header Antaranews Jateng

Rupiah Tertekan 32 Poin terhadap Dolar AS

Rabu, 19 September 2012 11:36 WIB
Image Print
Mata uang rupiah (Foto ANTARA)

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Rabu pagi bergerak melemah sebesar 32 poin menjadi Rp9.539 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.507 per dolar AS. Hal ini memicu investor beraksi ambil untung (profit taking).

"Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS seiring meningkatnya ketidakpastian tentang kondisi keuangan Spanyol. Kondisi itu mendorong investor melakukan profit taking," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Rabu.

Ia mengemukakan, tekanan terhadap Spanyol untuk segera mencari dana talangan (bailout) kian meningkat setelah yield obligasi dengan tenor 10 tahun kembali naik di atas enam persen.

Kendati demikian, kata dia, sejumlah analis tetap sangsi jika bailout Spanyol akan berdampak positif bagi mata uangnya yang berisiko lantaran pemberian bantuan harus disertai dengan pemangkasan belanja yang nantinya akan semakin membebani perekonomian Spanyol.

"Dengan perekonomian Spanyol yang memiliki tingkat pengangguran 25 persen dan kemacetan kredit perumahan yang besar, maka penghematan fiskal jelas bukanlah jalan keluar dari resesi," katanya.

Pengamat pasar dari Milenium Danatama Sekuritas Abidin menambahkan, dari Asia, konflik yang terjadi antara China dan Jepang dapat mengurangi minat investor masuk terutama ke pasar Asia Pasifik.

"Konflik itu akan membuat pasar berisiko terutama di Asia Pasifik kurang diminati investor asing untuk menempatkan dananya, kondisi itu yang menjadi salah satu katalis nilai tukar domestik melemah terhadap dolar AS," ujarnya.

Ia mengatakan, konflik itu diperkirakan berlangsung lama mengingat hal itu baru terjadi, dengan begitu sentimen negatif akan bertambah selain dari Eropa.

"Selain sentimen negatif dari Eropa, kondisi di Asia akan membayangi juga," ujarnya.

Ia juga mengatakan, meredanya eforia pelonggaran kuntitatif (quantitative easing/QE) tahap ketiga yang dilakukan bank sentral AS (the Federal Reserve/the Fed) pekan lalu juga sudah mulai mereda.

"Mulai meredanya eforia QE tahap ketiga itu membuat investor uang mengambil posisi profit taking," katanya menambahkan. (*)



Pewarta:
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026