
Selama Agustus 2012, 183,5 Hektare Hutan Terbakar

Kepala Perum Perhutani Unit I Jateng Teguh Hadi Siswanto di Semarang, Selasa, mengungkapkan bahwa kebakaran hutan tersebut terjadi di lima wilayah kesatuan pemangkuan hutan (KPH).
Kebakaran hutan itu diperkirakan menyebabkan kerugian miliar rupiah.
Hal tersebut diungkapkan Teguh di sela kegiatan halalbihalal jajaran Perum Perhutani Unit I Jateng di Gedung Rimba Graha Semarang yang dihadiri oleh Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto.
Kelima KPH tersebut, yakni KPH Surakarta, KPH Kedu Utara, KPH Balapulang, KPH Banyumas Timur, dan KPH Pekalongan Barat dengan luasan bervariasi, tetapi kebakaran rata-rata terjadi di kawasan hutan lindung.
Berdasarkan data Perum Perhutani Jateng, kebakaran terpantau terjadi sejak 12 Agustus 2012 di KPH Kedu Utara Petak 4 dengan luasan 15 ha, kemudian di KPH Surakarta Petak 63p seluas lima ha pada 13 Agustus 2012.
Kebakaran hutan juga terjadi di KPH Kedu Utara Petak 10b seluas 15 ha pada 20 Agustus 2012, KPH Balapulang Petak 117 seluas 0,3 ha pada 23 Agustus 2012, dan KPH Pekalongan Barat Petak 44 seluas 150 ha (24/8).
Data terakhir, kebakaran hutan kembali menimpa KPH Kedu Utara, kali ini terjadi di Petak 6 dengan luasan mencapai 9,5 ha sehingga seluruh luasan hutan yang terbakar selama Agustus 2012 mencapai 185,3 ha.
Dirut Perum Perhutani Bambang Sukmananto mengakui bahwa musim kering seperti sekarang ini memang membuat pihaknya menetapkan "Siaga Satu" atas bencana kebakaran dan seluruh personel kian disiagakan.
"Istilahnya semuanya 'Siaga Satu', dari sisi personel harus 'stand by' dan para pejabat di lapangan disiagakan untuk mengantisipasi kebakaran hutan. Posko-posko disiapkan untuk pengawasan," katanya.
Ia mengingatakan jajarannya untuk siaga, terutama yang ada di posko-posko dalam mengantisipasi kebakaran, misalnya mengawasi ketat izin-izin pendakian dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.
"Kami ingatkan masyarakat untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, apalagi ada semak kering. Kebakaran yang terjadi belakangan ini rata-rata menimpa hutan lindung, bukan hutan produksi," kata Bambang.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
