Logo Header Antaranews Jateng

Kemampuan validasi: sebuah skill dasar di era AI

Selasa, 9 Juni 2026 15:39 WIB
Image Print
Naufal Ishartono, Ph.D. ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - Kehadiran Artificial Intelligence (AI) memberikanbanyak dampak bagi kondisi masyarakat kita saat ini. Sejak teknologi AI generatif meledak ke publik, seakan-akan batasan antara realita dan fiksi menjadi semakin kabur.

Tentunya kondisi ini menjadi sebuah contoh di mana teknologi yang seharusnya menjadi katalisator kemajuan peradaban, justru kerap menjadi pemantik kebingungan dan penyebaran hoaks di tengah masyarakat.
Tantangan literasi digital kini berada di level yang jauh berbeda, dan bagaimanakah kondisi sosial masyarakat kita berikutnya, tentunya sangat mengkhawatirkan.

Tapi kita dapat berupaya sebaik mungkin untuk meminimalisir dampak negatif yang mungkin terjadi, yang berpotensi besar mengikis nalar kritis bangsa Indonesia. Salah satu permasalahan mendasar yang menyebabkan suburnya hoaks di era AI adalah kurangnya kebiasaan untuk melakukan validasi.

Bahwa banyak orang cenderung langsung mempercayai informasi yang dilihatnya, terutama jika informasi tersebut sesuai dengan preferensi pribadinya, tanpa merasa perlu memeriksa kebenarannya. Ketika sebuah informasi, baik itu teks, gambar, atau suara hasil rekayasa AI sudah terlanjur dipercaya, maka akan ada kecenderungan untuk membagikannya secara reaktif dan menyalahkan pihak lain.

Jika kondisi penyebaran hoaks tanpa filter ini terus terjadi, maka tentunya hal tersebut yang akan menyulut pertikaian antar masyarakat. Kesadaran untuk selalu memvalidasi informasi inilah yang seharusnya ditanamkan sejak dini oleh orang tua dan guru melalui konsep pendidikan yang baik yang salah satu caranya adalah melalui pembelajaran matematika di sekolah.

Banyak yang masih berpikir bahwa matematika sekadar ilmu berhitung untuk melatih keterampilan kognitif siswa. Tentunya hal tersebut tidak seutuhnya benar, karena dengan belajar matematika pun dapat membentuk karakter dan pola pikir seseorang seperti pemikiran logis, ketelitian, sikap skeptis yang sehat, dan utamanya kemampuan validasi.

Iya, dari belajar matematika kita dapat mendidik anak-anak kita untuk tidak mudah percaya pada suatu hasil akhir tanpa membuktikan proses kebenarannya. Seperti dalam pembelajaran aljabar dasar, setelah siswa memahami operasi hitung, guru dapat memberikan soal yang menumbuhkan kesadaran untuk melakukan pembuktian.

Contohnya, saat siswa diminta mencari nilai $x$ dari persamaan 2x + 5 = 15. Setelah siswa menemukan bahwa x = 5, guru tidak membiarkan pembelajaran berhenti di situ. Berikutnya, guru meminta siswa melakukan tahap validasi: memasukkan kembali angka $5$ ke dalam persamaan awal untuk membuktikan apakah benar 2(5) + 5 = 15.

Dari proses tersebut, guru bersama siswa dapat memverifikasi kebenaran jawaban secara objektif. Lalu di akhir pembelajaran, guru dapat menyampaikan kepada siswa bahwa setiap "jawaban" atau "informasi" harus selalu diuji kembali kebenarannya dengan fakta yang ada.

Setelah itu, guru dapat memberikan pesan moral kepada siswa bahwa di dunia nyata, terutama di era AI di mana informasi palsu sangat mudah dibuat, kita tidak boleh langsung menelan mentah-mentah apa yang kita lihat. Kita harus membiasakan diri untuk selalu melakukan validasi. Dari pesan moral itulah guru dapat menanamkan fondasi nalar kritis di benak siswa tentang bagaimana menyikapi banjir informasi.

Sehingga diharapkan dari merekalah akan lahir generasi cerdas yang kebal terhadap hoaks, dan persatuan Indonesia akan semakin kuat dan erat.

*Program Studi Pendidikan Matematika UMS



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026