
Puhua School raih rekor MURI lewat 3.024 payung kaligrafi

Purwokerto (ANTARA) - Sekolah Tiga Bahasa Putera Harapan (Puhua) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, meraih rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) lewat instalasi 3.024 payung kertas berkaligrafi Mandarin (shufa), Sabtu.
"MURI memberikan penghargaan atas karya instalasi payung kaligrafi terbanyak yang memiliki nilai seni, edukasi, dan kebangsaan, yang kami catat sebagai Rekor MURI Nomor 12.701," kata Perwakilan MURI Ari Andriani saat penyerahan Piagam MURI kepada Wakil Ketua Yayasan Putera Harapan Kartika Wijaya dalam rangkaian Forum Nasional Sekolah 3 Bahasa Se-Indonesia di Puhua School Purwokerto, Banyumas, Sabtu.
Dia mengatakan ribuan payung kertas tersebut ditulis dengan kaligrafi Mandarin oleh para siswa, kemudian dirangkai menjadi instalasi visual yang merepresentasikan bentuk kepulauan Indonesia sebagai simbol persatuan dan keberagaman.
Menurut dia, setiap payung tidak hanya berfungsi sebagai elemen dekoratif, tetapi juga memuat pesan "pendidikan tanpa perbedaan" yang mencerminkan nilai inklusivitas dan semangat kebhinekaan dalam dunia pendidikan.
Ditemui usai penyerahan piagam, Andriani mengatakan capaian tersebut melampaui rekor sebelumnya yang pernah tercatat di Jawa Barat.
"Untuk melukis payung sebenarnya sudah pernah ada sekitar 2.000 payung dengan ukuran lebih besar, tetapi jumlahnya lebih sedikit. Sementara di Puhua ini menggunakan media payung kertas dengan jumlah lebih banyak, yakni 3.024," katanya.
Dia mengatakan pihak sekolah telah berkoordinasi dengan MURI sejak sekitar delapan bulan sebelumnya untuk memastikan peluang pemecahan rekor tersebut.
"Sejak delapan bulan lalu pihak sekolah menghubungi kami, menanyakan kemungkinan memecahkan rekor menulis kaligrafi dengan media payung kertas. Kami sampaikan sangat dimungkinkan selama jumlahnya melebihi rekor sebelumnya, dan akhirnya terealisasi dengan 3.024 payung kaligrafi Mandarin," katanya.
Menurut dia, karya tersebut tidak hanya berorientasi pada pencapaian rekor, juga menyampaikan pesan kuat dari para siswa.
Dia mengatakan pesan yang bisa disampaikan adalah semangat berkarya, kebersamaan, serta nilai pendidikan tanpa perbedaan yang dituangkan dalam setiap kaligrafi di payung kertas.
"Instalasi ini menjadi karya kolaboratif yang tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga menyampaikan pesan kuat tentang persatuan, identitas bangsa, serta pentingnya pendidikan yang merangkul semua kalangan," katanya.
Sementara itu, Direktur Puhua School Chen Tao mengatakan pencatatan rekor tersebut bukan sekadar capaian prestisius, melainkan bentuk komitmen sekolah dalam menanamkan nilai keberagaman dan inklusivitas dalam dunia pendidikan.
"Bagi kami, rekor ini bukan soal prestise, tetapi deklarasi bahwa keberagaman adalah kekuatan yang memajukan pendidikan Indonesia," katanya.
Instalasi tersebut terdiri atas 3.024 payung kertas berdiameter sekitar 20 centimeter yang dihiasi kaligrafi Mandarin dengan berbagai pesan, seperti “You Jiao Wulei” atau pendidikan tanpa perbedaan, “20 tahun Puhua”, serta “I Love Indonesia”. Seluruh payung disusun menjadi kolase visual berskala besar pada dua sisi dinding aula sebagai instalasi permanen.
Ia mengatakan pemilihan payung sebagai medium memiliki makna simbolik sebagai naungan dan perlindungan.
Hal itu merepresentasikan sekolah sebagai ruang aman bagi setiap peserta didik untuk belajar, berkarya, dan bertumbuh tanpa diskriminasi latar belakang agama, suku, maupun budaya.
Menurut dia, proses pembuatan instalasi berlangsung sekitar delapan bulan dan melibatkan partisipasi luas dari seluruh ekosistem sekolah, mulai dari siswa, guru, tenaga kependidikan, orang tua, hingga alumni.
“Penulisan kaligrafi dilakukan secara bertahap sejak Maret 2026 dan dilanjutkan dengan pemasangan hingga tahap akhir pada April 2026,” kata Chen Tao.

Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
