Logo Header Antaranews Jateng

ANTARA: Media-humas harus beradaptasi menghadapi tantangan era disrupsi

Rabu, 1 April 2026 16:19 WIB
Image Print
Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar, yang juga Sekretaris Umum BPP Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas), saat menjadi pembicara pada Edukasi Media dan Media Gathering SKK Migas-JOB Tomori, dan Jurnalis Kabupaten Banggai 2026, di Semarang, Rabu (1/4/2026). ANTARA/Zuhdiar Laeis

Semarang (ANTARA) - Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar mengingatkan bahwa media dan hubungan masyarakat (humas) harus mampu beradaptasi dengan tantangan di era disrupsi media yang selalu berkembang.

"Tantangan jurnalisme dalam era disrupsi media adalah dengan kehadiran "homeless-homeless" media yang merajalela itu," katanya, di Semarang, Rabu.

Hal tersebut disampaikannya saat Edukasi Media dan Media Gathering SKK Migas-JOB Tomori, dan Jurnalis Kabupaten Banggai 2026, yang berlangsung di Semarang.

"Homeless" media adalah akun media sosial, seperti Instagram, TikTok, X, WhatsApp yang menyebarkan berita secara cepat tanpa memiliki website mandiri, berfokus pada konten lokal/viral, efisien, dan fleksibel, serta sering kali tidak terikat kode etik pers.

Benny yang juga Sekretaris Umum BPP Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) mengatakan bahwa pembelaan terhadap media mainstream harus jadi kepedulian bersama, baik negara, organisasi profesi wartawan, dan media.

"Diimbangi dan juga ditingkatkan, tidak saja pemberitaannya yang semakin intensif, tapi juga kapasitasnya, kualitas dan liputan itu sendiri," katanya.

Menurut dia, "homeless" media hanya bermain pada isu viral diangkat menjadi "bola liar", sedangkan media mainstream memiliki konsistensi liputan dan sumber terpercaya.

"Ketika itu itu dijadikan sebuah standar yang sama, baik di pusat baik di daerah, maka itu akan menjadi sebuah kekuatan kembali (bagi media mainstream, red.)," katanya.

Media mainstream, kata dia, harus terus mengembangkan kemampuan, melalui pelatihan, peningkatan, instalasi, hingga kolaborasi dalam jurnalisme investigasif dan jurnalisme thinking.

Selain media, ia mengatakan bahwa humas juga harus lebih aktif dalam membangun strategi komunikasi di tengah era disrupsi, yakni kemampuan untuk bisa dipercaya, kemampuan merespon dengan cepat, kemudian bisa menyampaikan kebenaran secara proporsional.

"Kemampuan untuk memahami krisis harus lebih sering karena krisis sekarang tidak bisa lagi 10 tahun baru datang, tapi bisa setiap detik di era globalisasi yang menciptakan kompleksitas dan ketidakpastian," katanya.

Jadi, kata dia, humas harus jauh lebih aktif membangun strategi, membangun relasi dan membangun kolaborasi karena di era sekarang tidak ada satu rumus pun yang siap, kecuali rumus yang dicoba terus-menerus.

Dalam kesempatan itu, Benny juga menyampaikan peran ANTARA sebagai aktor ekosistem informasi negara, yakni menjadi cek fakta melalui berita yang komprehensif, melakukan investigasi dan analisis, komparasi isu, hingga diseminasi kebijakan pemerintah ke daerah.

"Ketika berita itu disampaikan dengan jauh lebih indepth, jauh lebih memiliki komparasi, itu menunjukkan sebuah peran ANTARA yang menjadi rujukan," katanya.

Baca juga: Wakil Ketua Komisi VII dukung pembukaan biro Perum LKBN ANTARA di luar negeri



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026