
Nilai Ramadhan relevan bagi upaya perdamaian dunia

Purwokerto (ANTARA) - Akademisi Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto Muridan mengatakan nilai-nilai yang diajarkan selama bulan Ramadhan tetap relevan sebagai landasan moral dalam mendorong terciptanya perdamaian dunia.
“Puasa Ramadhan sejatinya merupakan proses pendidikan moral yang melatih manusia menahan diri, mengendalikan amarah, serta merasakan penderitaan orang lain,” kata Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Saizu itu di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu.
Menurut dia, pengalaman spiritual tersebut mendorong tumbuhnya empati serta kepedulian terhadap sesama, sehingga nilai-nilai Ramadhan tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi, melainkan berkembang menjadi etika sosial yang memperkuat solidaritas dan harmoni dalam kehidupan bersama.
Ia mengatakan perayaan Idul Fitri yang ditandai dengan tradisi saling memaafkan dan mempererat silaturahim setelah Ramadhan menjadi simbol penting dalam memulihkan hubungan sosial yang mungkin sempat renggang.
“Tradisi saling memaafkan menunjukkan bahwa rekonsiliasi selalu mungkin terjadi ketika manusia bersedia merendahkan hati dan membuka kembali ruang kebersamaan,” katanya.
Ia mengatakan spiritualitas Islam juga memiliki dimensi kemanusiaan yang kuat, tercermin melalui praktik zakat, sedekah, serta meningkatnya kepedulian sosial selama Ramadhan.
Menurut dia, kesalehan dalam Islam tidak hanya diukur dari hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan kebaikan dalam kehidupan bersama.
Dalam perspektif ilmu sosial, kata dia, hubungan antara pengalaman spiritual dan tanggung jawab sosial dapat dipahami melalui gagasan sociological imagination atau imajinasi sosiologis yang diperkenalkan oleh sosiolog C Wright Mills dalam bukunya The Sociological Imagination.
“Gagasan tersebut menjelaskan bahwa pengalaman pribadi seseorang tidak pernah sepenuhnya terpisah dari persoalan sosial yang lebih luas, karena kehidupan individu selalu berkaitan dengan realitas masyarakat secara keseluruhan,” katanya.
Ia menilai pesan moral Ramadhan menjadi semakin relevan di tengah realitas global yang masih diwarnai konflik, pertentangan, dan ketegangan.
Dalam situasi tersebut, kata dia, puasa mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kemampuan untuk menahan diri dari kebencian dan permusuhan.
Ia mengatakan Idul Fitri juga dimaknai sebagai momentum kembali kepada fitrah manusia yang cenderung pada kebaikan, saling menghargai, serta menjaga harmoni dalam kehidupan bersama.
Menurut dia, perdamaian dunia tidak selalu lahir dari keputusan politik besar, tetapi juga dapat berawal dari perubahan sikap manusia dalam kehidupan sehari-hari, seperti kemampuan memaafkan, menahan ego, serta memandang orang lain sebagai sesama manusia.
“Oleh karena itu, Idul Fitri tidak hanya menjadi penanda berakhirnya Ramadhan, tetapi juga awal dari komitmen baru untuk membawa nilai kesabaran, empati, dan kasih sayang dalam kehidupan sosial yang lebih luas,” kata Muridan.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
