
Petani Merapi kembali Panen Salak

Petani warga Dusun Pondok, Desa Srumbung, Kecamatan Srumbung, Sri Sudarmi di Magelang, Selasa, mengatakan, dalam dua pekan terakhir petani mulai panen salak, namun belum bisa optimal.
Di Kabupaten Magelang terdapat 2.500 hektare atau sekitar enam juta tanaman salak yang terancam mati akibat abu vulkanik Gunung Merapi.
Sudarmi mengatakan, pascaerupsi Merapi 2010, petani tidak panen salak karena tanaman rusak akibat tertimpa abu vulkanik. Setelah pelepah tanaman salak dibersihkan dan dirawat dari awal kini petani bisa panen salak lagi.
"Sekitar 1,5 tahun kami menunggu untuk panen salak pascaerupsi. Alhamdulillah sekarang bisa memetik buah salak lagi sehingga dapat menambah penghasilan kami," katanya.
Ia menuturkan, pada panen perdana ini buah salak masih relatif kecil dibanding sebelum erupsi dan jumlah panenan masih sedikit.
"Kalau sebelum erupsi bisa empat hari sekali panen, namun saat ini sekitar 10 hari sekali baru panen karena buahnya belum banyak," katanya.
Petani yang lain, Muslim, menuturkan, pascaerupsi 2010 petani harus memangkas pelepah tanaman salak yang tertimpa abu vulkanik agar tumbuh tunas baru.
"Kalau tidak dilakukan pemangkasan justru tanaman akan mati karena tanaman tertutup abu Merapi," katanya.
Ia menyebutkan, pada panen perdana ini harga salak di tingkat petani antara Rp4.250 hingga Rp5.000 perkilogram.
"Harga tersebut sudah lumayan bagus karena kualitasnya belum sebagus waktu sebelum erupsi. Hasil panen kali ini sangat membantu kami, apalagi akan memasuki tahun ajaran baru anak sekolah," katanya.
Pewarta: Heru Suyitno
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
