Logo Header Antaranews Jateng

Persadia sebut pola hidup masyarakat modern perparah kasus diabetes di Indonesia

Minggu, 30 November 2025 18:28 WIB
Image Print
Peringatan Hari Diabetes Nasional di De Tjolomadoe, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (30/11/2025). ANTARA/Aris Wasita

Karanganyar (ANTARA) - Pengurus Besar Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) menyebut pola hidup masyarakat modern memperparah kasus diabetes di Indonesia.

Ketua Umum PB Persadia Dr dr K Heri Nugroho HS SpPD, K-EMD FINASIM pada Peringatan Hari Diabetes Sedunia yang berlangsung di De Tjolomadoe, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu mengatakan berdasarkan data kesehatan nasional, sekitar 10 persen masyarakat Indonesia hidup dengan diabetes dan 20 persen lainnya telah masuk kategori obesitas.

Peningkatan angka obesitas yang menjadi pemicu awal diabetes kini mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan. Ia menilai pola hidup masyarakat modern menjadi faktor utama yang memperparah situasi.

“Diabetes terus meningkat dari tahun ke tahun. Semuanya berawal dari gaya hidup tidak sehat dan obesitas. Satu dari sepuluh orang Indonesia mengidap diabetes dan satu dari lima sudah masuk kategori obesitas. Ini situasi serius bagi kesehatan bangsa,” katanya.

Menurut dia, penumpukan lemak di area perut merupakan kondisi paling berbahaya. Ia mengatakan lingkar perut yang melebihi 90 cm pada laki-laki dan 80 cm bagi perempuan menjadi indikator utama obesitas sentral.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, dikatakannya, usia penderita diabetes kini makin muda.

“Remaja, mahasiswa, dan anak-anak sudah mulai masuk risiko diabetes karena kebiasaan kuliner, kurang olahraga, serta konsumsi makanan berlebihan,” katanya.

Ia mengatakan diabetes merupakan induk dari berbagai penyakit lain, karena jika tidak dikendalikan akan mengakibatkan komplikasi.

Beberapa penyakit yang berpotensi muncul karena diabetes, di antaranya penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal kronis.

Terkait hal itu, ia mengatakan angka kasus diabetes akan turun jika angka kasus obesitas juga turun. Selanjutnya, secara otomatis beban pembiayaan kesehatan juga akan berkurang.

Pada kesempatan yang sama, People & Organisation Director Novo Nordisk Indonesia Adhika Widya Sena mengatakan penanganan diabetes tidak hanya dengan pengobatan tetapi yang utama juga perubahan perilaku masyarakat.

“Banyak orang diabetes tidak merasa dirinya sakit. Oleh karena itu, edukasi penting dilakukan,” katanya.

Di sisi lain, rendahnya kesadaran masyarakat untuk memantau kondisi tubuh merupakan tantangan besar dalam pencegahan diabetes.

“Kalau obesitas terlihat, diabetes tidak selalu terlihat. Oleh karena itu, kita harus mulai dari kesadaran diri, cek berat badan, cek indeks massa tubuh, cek gula darah kalau punya risiko. Di sinilah perubahan dimulai,” katanya.

Dalam acara tersebut, pihaknya juga mengenalkan platform digital yang dapat membantu masyarakat menghitung BMI, mengukur risiko diabetes, hingga mengakses tenaga kesehatan secara daring maupun luring.

“Kami ingin masyarakat bisa mengetahui angka tubuhnya sendiri dan bertindak sebelum terlambat. Satu klik saja di novocare.id, sudah mendapat gambaran risiko serta dukungan yang dibutuhkan,” katanya.

Ia menambahkan fokus perusahaan kini meluas, tidak hanya pada diabetes tetapi juga obesitas sebagai faktor utama yang sering mendahuluinya.

“Selama 22 tahun kami berkolaborasi dengan kementerian, tenaga medis, dan asosiasi kesehatan. Obesitas kini menjadi ancaman terbesar sebelum seseorang menjadi diabetes. Maka mencegah obesitas berarti menyelamatkan generasi mendatang dari risiko diabetes,” katanya.



Pewarta:
Editor: Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026