
Pemkab Kudus kerahkan masyarakat bersihkan gorong-gorong antisipasi banjir

Kudus (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah mengerahkan berbagai elemen masyarakat untuk melakukan kerja bakti membersihkan saluran gorong-gorong di kawasan Desa Jati Wetan, kabupaten setempat sebagai antisipasi menghadapi potensi banjir pada puncak musim hujan.
"Kondisi gorong-gorong yang berada di crossing Jalan Agil Kusumadya cukup memprihatinkan. Banyaknya tanaman liar dan endapan yang menumpuk dikhawatirkan menghambat aliran air menuju kolam retensi," kata Bupati Kudus Sam'ani Intakoris yang memimpin kegiatan kerja bakti tersebut di Kudus, Jumat.
Ia menambahkan pembersihan dilakukan secara gotong-royong bersama berbagai pihak, mulai dari Dinas PUPR, PKPLH, Balai Besar Wilayah Sungai, PSDA, BPBD, Kencana, TNI, Polri, organisasi masyarakat, BSN, Panjibangsa, serta pemerintah Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati.
"Kita bersama-sama bersihkan sungai ini, karena kita mengantisipasi banjir yang bisa terjadi di luar prediksi. Ketika nanti debit air meningkat, kita ingin agar air langsung mengalir ke kolam retensi di Tanggulangin," ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kondisi wilayah Jati Wetan berubah setelah adanya normalisasi Sungai Wulan. Endapan dan material pengerukan sebagian dipindah ke kolam retensi alami yang selama ini berfungsi sebagai kantong air.
"Bekas kerukan sungai banyak digeser ke kolam retensi alami. Ketika nanti kolamnya terisi material disposal, airnya akan ke mana? Ini yang kita antisipasi supaya begitu terjadi hujan lebat, alirannya langsung lancar ke kolam retensi Tanggulangin," paparnya.
Ia menilai kondisi sejumlah saluran di Jati Wetan kini sudah semakin baik berkat kolaborasi berbagai pihak. Namun, seluruh elemen tetap diminta siaga mengingat potensi cuaca ekstrem pada awal tahun.
"Januari-Februari 2026, diprediksi puncak hujan cukup ekstrem. Semua harus siap siaga, termasuk BPBD dan Kencana," katanya.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kudus Harry Wibowo menjelaskan bahwa pembersihan dilakukan menggunakan ekskavator milik PUPR serta dua truk dari PKPLH untuk mengangkut material. Selain itu, beberapa armada pickup, pompa air, ganco, serta perlengkapan lapangan disiapkan oleh relawan dan Balai Besar Wilayah Sungai.
Ia juga menyampaikan air yang masuk ke saluran tersebut merupakan limpasan dari ruko, rumah, dan perkantoran di sepanjang kawasan Desa Jati Wetan, termasuk sebagian dari kompleks perusahaan kertas terbesar di Kudus. Sehingga, pihaknya juga meminta perusahaan tersebut ikut memberikan dukungan melalui program CSR untuk membantu membersihkan saluran.
"Hujan pertama kemarin memang belum menimbulkan banjir. Tapi, saat hujan mulai awal November 2025, air sempat hampir mencapai jalan, sudah nyaris meluap," ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat Bupati Kudus menginstruksikan pembersihan intensif pada gorong-gorong, mengingat saluran besar di lokasi itu merupakan satu-satunya yang mampu menampung debit air cukup besar. Sementara saluran lainnya berukuran lebih kecil, sehingga kurang optimal.
"Setelah pembangunan jalan nasional maupun area terminal, saluran yang besar hanya tinggal satu ini. Maka, kita optimalkan agar bisa mereduksi genangan di sebelah barat jalan," ujarnya.
Ia menambahkan sebelum normalisasi Sungai Wulan, kawasan sekitar Jati Wetan merupakan tempat parkir air alami. Namun, setelah dilakukan normalisasi besar-besaran, area tersebut dipakai sebagai lokasi pembuangan material pengerukan, sehingga kapasitas penyimpanan airnya berkurang.
"Dengan normalisasi Sungai Wulan oleh BBWS, tampungan air sungai jadi lebih besar. Air yang dulu parkir di area sekitar sini diharapkan mengalir masuk ke sungai. Tapi, air hujan masih berpotensi menggenang, sehingga kita antisipasi dengan pembersihan saluran," ujarnya.
Target pembersihan kali ini mencakup saluran crossing dan dari barat ke timur sepanjang 600-700 meter. Hampir seluruh segmen dipenuhi rumput, tanaman enceng gondok, endapan lumpur, serta sampah rumah tangga.
Pemerintah Kabupaten Kudus memastikan kegiatan pembersihan saluran serupa akan terus dilakukan selama musim hujan berlangsung. Evaluasi rutin dilakukan untuk memastikan aliran air tetap lancar dan risiko banjir, terutama di kawasan rawan seperti Jati Wetan yang juga berpotensi mengganggu kelancaran Jalur Pantura dapat ditekan semaksimal mungkin.
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
