Semarang (ANTARA) - Ketua DPRD Jateng Sumanto mengajak pemuda dan pelajar memiliki kemampuan deteksi dini guna mengantisipasi timbulnya konflik sosial sehingga menciptakan kondisi yang stabil serta mampu mengantisipasi berbagai bentuk ancaman, tantangan, serta gangguan.
Sumanto di Semarang, Senin mengatakan, Jateng merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi terjadinya konflik sosial karena keberagaman masyarakat baik suku, agama dan ras.
"Untuk mencegah terjadinya konflik sosial, perlu adanya upaya dari pemerintah maupun masyarakat," kata Sumanto.
Menurutnya, stabilitas nasional dan daerah sangat penting agar pembangunan bisa berjalan optimal. Karena itu, mitigasi isu yang berpotensi menimbulkan konflik sosial penting untuk dilakukan.
"Mitigasi isu ini dalam pelaksanaannya perlu kerja sama, soliditas dan sinergitas antara pemerintah pusat, daerah serta seluruh elemen masyarakat," ujarnya.
Mantan Ketua DPRD Kabupaten Karanganyar tersebut menambahkan, ada sejumlah cara untuk menangani konflik sosial yakni dengan pencegahan berupa menginventarisasi potensi konflik dan mengawal skala prioritas yang dapat menimbulkan perpecahan.
Namun, ia melanjutkan, jika konflik sudah terjadi, penghentian harus cepat dilakukan. "Pemulihan setelah konflik dengan melakukan rekonsiliasi melalui mediasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi juga menjadi langkah jika konflik berhasil dihentikan," kata dia.
"Saya berharap para pemuda dan pelajar dapat bersinergi dengan pemerintah dan aparat keamanan dengan memiliki kemampuan deteksi dini, dalam merespon setiap dinamika yang terjadi. Dengan begitu, setiap potensi yang mengarah kepada konflik dapat segera teratasi dengan baik," katanya.

Menurut Sumanto, kehidupan berbangsa saat ini tengah menghadapi ancaman serius dengan potensi konflik-konflik dalam masyarakat, baik yang bersifat vertikal maupun horizontal. Sumber konflik tersebut bisa berasal dari perbedaan nilai-nilai dan ideologi, maupun intervensi kepentingan luar negeri yang dapat membahayakan kedaulatan negara.
"Berbagai potensi konflik tersebut apabila didukung oleh kekuatan nyata yang terorganisir tentunya akan menjadi musuh yang potensial bagi NKRI," ujarnya.
Ia menambahkan, keanekaragaman suku, agama, ras, dan budaya Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa pada satu sisi
merupakan suatu kekayaan bangsa yang dapat memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan.
Namun, ia mengingatkan, di sisi yang lain, kondisi tersebut dapat membawa dampak buruk bagi kehidupan nasional.
"Apabila terdapat ketimpangan pembangunan, ketidakadilan dan kesenjangan sosial, ekonomi, kemiskinan serta dinamika kehidupan politik yang tidak terkendali. Jadi ini perlu diantisipasi sejak awal," kata Sumanto.
Baca juga: Sumanto ajak masyarakat pahami sejarah dan cerita wayang kulit

