
Warga Olah Sampah jadi Kerajinan

"Pengelolaan sampah ini diawali keprihatinan warga sekitar dengan masalah sampah. Sebab, semakin lama sampah terus menumpuk karena tak ada lahan untuk pembuangan," kata Ketua KSM Ngudi Kamulyan Semarang Yoyok, di Semarang, Kamis.
Ditemui di sela kegiatan mengolah sampah menjadi kompos, Yoyok mengakui wilayah RW II Kelurahan Sampangan itu memang perumahan yang memiliki keterbatasan lahan pembuangan sampah sehingga akhirnya sampah terus menggunung.
Menurut dia, permasalahan itulah yang kemudian memunculkan insiatif warga untuk mengolah sampah secara mandiri menjadi barang yang memiliki nilai tambah, dimulai dari kegiatan pengelolaan sampah dalam skala kecil.
"Semakin lama, kegiatan pengelolaan sampah berkembang tak hanya mengolah sampah lingkungan setempat, yakni RW II, namun sampah-sampah dari tempat-tempat lain ikut dikumpulkan untuk kemudian diolah oleh warga," katanya.
Ia menjelaskan, pengolahan sampah dibedakan dua, yakni sampah organik yang diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik diolah menjadi aneka kerajinan tangan yang bernilai jual tinggi, seperti tas.
Berkaitan dengan itu, warga juga membangun pos pengelolaan sampah yang dimaksudkan mencegah sampah dari lingkungan setempat keluar ke tempat lain dan sampah yang terkumpul bisa dipilah sesuai jenisnya.
Pengolahan sampah menjadi barang bernilai jual itu, kata dia, sepenuhnya dilakukan warga RW II Kelurahan Sampangan Semarang yang dilakukan sejak 2004 dalam skala kecil, bekerja sama dengan Universitas Diponegoro Semarang.
"Pada 2008, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Semarang memberi bantuan mesin, seperti mesin pencacah sampah, pengangkut sampah, dan peralatan lain yang mendukung kegiatan pengolahan sampah," katanya.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
