"E-bike to work" mulai disosialisasikan ke masyarakat

id e bike to work,sepeda listrik

"E-bike to work" mulai disosialisasikan ke masyarakat

Manajer Pemasaran PT. BF Goodrich Investment Indonesia Dian Swastia Jaya (kanan). (ANTARA/HO-Shinta Arum)

Semarang (ANTARA) - Salah satu program ramah lingkungan, berupa penggunaan sepeda listrik dalam bekerja atau "electric bike to work" pada kehidupan sehari-hari, mulai disosialisasikan ke masyarakat Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

"'E-bike to work' diadaptasi dari kampanye 'bike to work', perbedaannya ini menggunakan kendaraan berdaya listrik untuk kegiatan sehari-hari," kata Manajer Pemasaran PT. BF Goodrich Investment Indonesia Dian Swastia Jaya di Kabupaten Semarang, Jumat.

Ia menjelaskan bahwa tujuan dari sosialisasi "e-bike to work" ini adalah untuk mengedukasi dan mengajak masyarakat menggunakan sepeda listrik dalam beraktivitas sehingga bisa mengurangi polusi udara yang disebabkan penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak.

Dirinya mengaku sudah memulai kampanye "e-bike to work" dengan cara menggunakan sepeda listrik untuk mobilitas berangkat ke kantor.

Selain itu, seluruh karyawan di PT. BF Goodrich Investment Indonesia juga menggunakan sepeda listrik untuk beraktivitas di kantor.

"Rencana selanjutnya kami ingin melibatkan komunitas 'e-bike' di Kota Semarang untuk memopulerkannya," ujarnya.

Baca juga: Sepeda listrik ini bisa menjangkau 257,4 km untuk sekali "charge"

Menurut Dian, cara kerja dari sepeda atau motor listrik sangat sederhana melalui tiga komponen penting, yaitu baterai, dinamo, dan pengontrol. Baterai akan dikonversikan ke dinamo melalui "controller" yang akan mengatur besar arus untuk memutar dinamo dengan magnet induksi.

Kendaraan listrik, katanya, dibuat untuk melakukan aktivitas sehari-hari dengan jarak dekat dengan kecepatan maksimal 60 kilometer per jam.

"Pemerintah juga sudah memperbarui fasilitas transportasi umum untuk mengurangi kemacetan, kendaraan listrik hadir dengan tujuan yang serupa, apalagi juga sudah ramah lingkungan. Jadi, kendaraan ini hadir untuk melengkapi tranportasi umum, bukan mengganti kendaraan konvensional," katanya.

Ia menyebut masyarakat sudah mengetahui keuntungan dari sepeda listrik yang ramah lingkungan, namun saat ini belum menjadi prioritas atau belum populer.

"Untuk penggunaan lebih besar dibutuhkan gerakan bersama dari masyarakat dengan melihat efisiensi dari kendaraan listrik," kata Dian.

Manajer Operasional PT. BF Goodrich Investment Indonesia Hengki Febrianto mengatakan bahwa peminat dari kendaraan listrik sudah tersebar di Indonesia dan dari berbagai kalangan yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Baca juga: Lincah, sepeda motor listrik lokal penantang Gesits
Pewarta :
Editor: Wisnu Adhi Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar