Sering dibodohi, petani Temanggung minta pembelian tembakau secara tunai

id pembelian tembakau tunai

Sering dibodohi, petani Temanggung minta pembelian tembakau secara tunai

Petani memanen tembakau di kaki Gunung Putri, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (13/8). Petani setempat dalam satu musim panen tembakau hanya menghasilkan 10 ton tembakau per tahun dari luas lahan dua hektare atau 12 ribu pohon tembakau. Hasil panen mereka dijual ke pabrik rokok yang ada di wilayah Jateng serta Jatim dengan harga jual Rp60-100 ribu tembakau kering, dan Rp55.000 ribu untuk tembakau daun. ANTARA JABAR/Adeng Bustomi/agr/18

Temanggung (ANTARA) - Kalangan petani tembakau mendukung pernyataan Bupati Temanggung M Al Khadiq yang meminta semua pelaku pertembakauan, terutama pedagang atau tengkulak hingga pabrikan membeli tembakau petani secara kontan atau tunai.

Petani warga Kledung Dwi Susilo di Temanggung, Selasa, mengatakan pembelian secara kontan menguntungkan petani, karena selama ini petani merasa dibodohi dalam penjualan tembakau. Pembelian yang dilakukan hanya dengan menjanjikan harga, tidak langsung menerima uang.

"Sistem pembelian seperti ini sudah lama dipraktikkan oleh pedagang dan tengkulak tembakau di Temanggung. Petani selalu dirugikan dengan sistem ini, karena harga masih bisa berubah, kadang tanpa alasan yang jelas mereka mengurangi harga dari harga kesepakatan awal," katanya.

Baca juga: Temanggung akan tertibkan izin gudang tembakau

Selain harga dikurangi, katanya, berat tembakau juga dipotong. Sistem jual beli seperti ini, petani tidak pernah diuntungkan, apalagi jika sudah mendekati akhir panen tengkulak tembakau semaunya sendiri menentukan harga tembakau.

Padahal, katanya, di akhir panen ini justru kualitas tembakau semakin bagus, namun dengan berbagai macam alasan tengkulak berusaha menurunkan harga pembelian serendah-rendahnya.

"Setiap panen tembakau seperti ini, alasannya pabrik tidak mau membeli tembakau lagi, maka harganya selalu murah," katanya.

Baca juga: Sistem "grader" rugikan negara dan petani tembakau

Petani lainnya Isnaeni mengatakan tata niaga tembakau memang perlu diubah, sistem yang ada saat ini merugikan petani.

"Bagaimana tidak, mulai dari ongkos transportasi dari gudang milik tengkulak hingga biaya angkut di gudang dan biaya 'tumplek' tembakau semua di tanggung oleh petani, belum lagi masih ditambah dengan potongan berat tembakau, kondisi seperti ini sudah terjadi bertahun-tahun," katanya.

Ia menuturkan petani mendukung pernyataan bupati, mudah-mudahan imbauan bupati itu bisa diaplikasikan oleh semua pelaku tembakau dari pedagang, tengkulak hingga pabrikan sehingga sama-sama diuntungkan.

Selain itu petani juga berharap, pada panen raya tembakau tahun ini pabrikan bisa membeli langsung tembakau dari petani sehingga mata rantai perdagangan tembakau bisa lebih pendek. 

Baca juga: Awali panen, masyarakat lereng Sindoro ritual "wiwit metik sata"

 
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar