
41 Desa di Boyolali Rawan Kekeringan

Boyolali (Antaranews Jateng) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali telah memetakan sebanyak 41 desa yang tersebar di enam kecamatan Kabupaten Boyolali berpotemsi daerah rawan kekeringan saat musim kemarau tiba.
"41 desa itu, di Kecamatan Juwangi, Kemusu,Wonosegoro, Karanggede, dan Ngandong di Boyolali utara, sedangkan bagian selatan di Kecamatan Musuk lereng Gunung Merapi," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Kantor BPBD Boyolali, Purwanto, di Boyolali, Jumat.
Menurut Purwanto berdasar hasil rapat koordinasi yang dilakukan di Provinsi, Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi, musim kemarau tahun ini, bersifat kemarau basah dan berlangsung antara Juli hingga September mendatangi.
Purwanto mengatakan pihaknya akan menyiagakan status Siaga Bencana Kekeringan melalui Surat Keputusan Bupati, sebagai langkah antisipasi datanganya musim kemarau di wilayah ini.
"Kami dampak kekeringan warga akan kekurangan air bersih, dan antisipasinya menyiagakan status Siaga Bencana Kekeringan," katanya.
Ia mengatakan ada sebanyak 41 desa di enam kecamatan yang selalu terdampak saat musim kemarau, hal ini seperti pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Enam kecamatan yang rutin terdampak akan dikoordinasikan segera untuk penanganan, contohnya dengan droping air bersih.
Pihaknya dalam membantu droping ait bersih ke daerah kekuarang air bersih sebagai koordinator. Anggaran untuk bantuan droping air bersih bersumber dari bagian Setda Boyolali dan instansi lain seperti PMI, kepolisian, TNI, serta pihak swasta yang peduli.
Selain itu, Pemerintah daerah dalam penanganan daerah rawan kekeringan seperti Kecamatan Musuk lereng merapi dengan pembuatan sumur dalam atau embung untuk mengadaan air bersih di sekitar lokasi.
Camat Kemusu Kabupaten Boyolali Supana mengatakan musim kekeringan biasanya melanda di wilayahnya puncaknya sekitar Agustus. Bulan itu, biasanya sumur-sumur milik warga sudah mulai kering, dan mereka harus mengambil air di titik mata air yang jaraknya cukup jauh dari pemukiman.
"Warga kadang-kadang pengadaan air dengan pembuatan sumur di dasar sungai yang mengering, air bisa keluar tetapi tidak bisa maksimal," katanya.
Namun, warga kadang sudah menggali sumur sangat dalam, air bersih tidak bisa ditemukan.
Menurut dia, daerah yang rawan kekeringan di wilayahnya seperti Desa Kedungrejo karena tidak ada sumber mata air yang memadai untuk kebutuhan warga. Sudah pernah diusulkan pembuatan embung, tetapi terkendala penyediaan lahan.
Selain itu, Desa Kendel dan Kedungmulyo juga termasuk wilayah yang sangat rawan kekeringan. Warga kedua daerah itu, hanya mengandalkan bantuan air bersih baik dari Pemkab maupun pihak swasta.
Pewarta: Bambang Dwi Marwoto
Editor:
Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
