Angin sejuk Ramadhan

id ramadhan,bulan puasa,tarawih

Angin sejuk Ramadhan

Ilustrasi - Sejumlah umat memasuki masjid di salah satu perumahan di Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, untuk shalat tarawih. (Foto: Hari Atmoko)

Puasa Ramadhan telah dijalani umat Islam selama sekitar seminggu terakhir dan akan terus dilakoni hingga penghujung bulan puasa mendatang, disusul perayaan suka cita mereka yang juga bakal dilakukan umat lainnya secara lintas agama, melalui Lebaran Idul Fitri, 1 Syawal 1439 Hijriah.

Ketekunan bertakzim dalam seluruh agenda doa pribadi dan ibadah berjamaah, gairah spiritual mendaraskan lembar demi lembar Al Quran, serta kumandang gema rohani islami secara langsung di berbagai masjid dan surau, serta melalui berbagai media publik, seakan mendalamkan pemaknaan umat Islam dalam melakoni ibadah puasa.

Belum lagi, pada hari ke-17 Ramadhan mendatang, umat beroleh anugerah istimewa berupa peringatan turunnya Kitab Suci Al Quran, dalam perayaan Nuzululquran. Peristiwa pada fase pertengahan ibadah puasa itu menyungguhkan bahwa Ramadhan sebagai bulan penuh rahmat.

Begitu juga dengan jalan berpuasa hingga hari ke-21 atau memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, yang dalam budaya masyarakat Islam Jawa disebut sebagai "selikuran" (duapuluh satu), dimaknai sebagai fase pembebasan dari api neraka.

Segala lelakon umat Islam dalam ibadah puasa selama bulan Ramadhan, bagaikan embusan angin yang menyejukkan jiwa dan memancarkan ketenteraman bagi lingkungan masyarakat.  

Kesejukan jiwa menyentuh raga dan kemudian menggerakkan segala bagian tubuh manusia untuk berbuat kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun sesama di sekitarnya. Wujudnya bisa saja berupa semangat kasih sayang yang bertebaran dan energi kemurahan hati yang terdistribusi secara meluas.

Puasa Ramadhan menjadikan setiap anak manusia merasakan sentuhan embusan angin sejuk yang membuat hidupnya menjadi tenteram dan damai. Oleh karena puasa yang sedang dilakoni umat Islam itu pula, langit pun terasa bagai memainkan irama cahaya damai.

Kalau dalam jagat ragawi kehidupan masyarakat selama Ramadhan ini terjadi berbagai perbedaan pemenuhan kebutuhan ketimbang hari-hari biasa, sudah selayaknya direspons secara wajar, karena hal itu demi menyokong angin sejuk puasa berembus, mengantarkan setiap insan mencapai kegembiraan berlebaran.

Sebut saja, misalnya berbagai harga kebutuhan pokok yang mengalami peningkatan dan mobilitas warga yang lebih dinamis ketimbang biasanya. Ihwal tersebut tidak lepas dari kehendak memenuhi capaian bahagia lahir-batin, setelah nanti menuntaskan masa takzim berpuasa Ramadhan.

Toh, situasi peningkatan harga sembako tidak dibiarkan bergulir begitu saja hingga tataran liar atau hanya menjadikan segelintir orang atau kalangan tertentu meraih keuntungan "pribadi". Pemerintah mengeluarkan segala daya upaya untuk mengendalikannya supaya tetap dalam batas wajar dan terjangkau daya beli masyarakat.

Berbagai upaya tersebut, antara lain melalui pemantauan lebih intensif di berbagai pasar dan pusat-pusat perbelanjaan atas penjualan berbagai barang kebutuhan pokok, pemberian jaminan ketercukupan stok dan kelancaran distribusi, serta penyelenggaraan berbagai pasar murah, termasuk penyaluran bantuan paket-paket sembako secara tepat sasaran dengan melibatkan atau mendorong hal serupa dilakukan pihak-pihak lain secara mandiri.

Selama bergulir Ramadhan ini pula, pemerintah menyiapkan sarana dan prasarana untuk masyarakat mudik Lebaran, berupa segala transportasi umum dan pribadi. Selain itu, dilakukan pemasangan dan perbaikan rambu-rambu lalu lintas dengan kesiapan penempatan para petugas gabungan yang akan melakukan pengaturan arus kendaraan di berbagai ruas jalan.

Begitu pula, perbaikan berbagai ruas jalan dilakukan pemerintah agar setiap orang bisa melintasi untuk kembali ke kampung halaman masing-masing dengan lancar, tertib, aman, dan nyaman. Tradisi mudik ke kampung halaman pascapuasa Ramadhan simbol setiap manusia dibawa mudik kepada kehidupan utuh jiwa-raga dan kesuciannya yang berlandaskan kekuatan hati nurani.

Segala kesiapan yang tampak kasat mata selama Ramadhan tidak lepas dari upaya mendukung semangat kerohanian melalui jalan puasa itu, berkomunikasi intensif dengan suara batin setiap insan, agar mereka mencapai puncak arus perjalanan spiritualnya dalam wujud Hari Raya Lebaran.

Oleh karena begitu bermaknanya bulan Ramadhan, maka jangan lewatkan angin sejuk kerohanian itu terus mengembuskan energi hidup tenteram dan damai!

 
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar