Logo Header Antaranews Jateng

Pemugaran Liyangan terkendala batu rusak

Jumat, 6 April 2018 14:39 WIB
Image Print
Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah mencocokkan batu-batu di Situs Liyangan di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung dalam studi teknis pemugaran situs peninggalan zaman Mataram Kuno tersebut. (Foto: Heru Suyitno)

Temanggung (Antaranews Jateng) - Banyaknya batu yang rusak atau hilang di Situs Liyangan di Desa Purbosari, Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah menjadi salah satu kendala bagi tim studi teknis pemugaran situs peninggalan zaman Mataram Kuno tersebut.

Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung, Didik Nuryanto di Temanggung, Jumat, mengatakan tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah telah melakukan studi teknis pemugaran Situs Liyangan.

Ia mengatakan studi teknis pemugaran dilakukan tim BPCB di lapangan pada 12-31 Maret 2018, khususnya untuk pagar candi induk yang membujur ke utara dengan panjang 139,60 meter dan tinggi 164 centimeter.

Ia menuturkan banyak batu yang hilang atau rusak diduga akibat erupsi Gunung Sindoro. Situs Liyangan ditemukan pada kedalaman 10 hingga 12 meter terpendam material pasir dan batu.

Ia mengatakan dalam studi teknis pemugaran dilakukan penyusunan batu, sehingga diketahui kekurangan batu akibat hilang atau rusak.

"Dilakukan penyusunan percobaan batu andesit yang ada. Kaidah penyusunan harus sama teknik dan bahannya," tuturnya.

Selain banyak batu yang hilang, katanya susunan batu yang tidak simetris juga cukup menyulitkan dalam merekonstruksi bangunan batu tersebut.

"Apalagi susunan batu tersebut polos tidak ada reliefnya, sehingga lebih sulit untuk menyatukan batu yang tidak utuh lagi tersebut," ucapnya.

Ia mengatakan setelah dilakukan studi teknis pemugaran, nantinya dilanjutkan pemugaran, namun pihaknya belum mengatahui kapan waktunya.

Dalam pemugaran, katanya kalau memang bagian batu ada yang hilang atau rusak dan tidak bisa dusatukan lagi maka akan diganti dengan batu yang sejenis.



Pewarta:
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026