Logo Header Antaranews Jateng

Jateng tak perlu beras impor

Sabtu, 20 Januari 2018 16:55 WIB
Image Print
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kanan) berbincang dengan seorang pedagang beras di Pasar Legi Solo, Sabtu (20/1). (Foto: Aris Wasita)
Sebentar lagi kami akan panen. Wilayah Grobogan sudah ada yang panen, lalu Kudus dan Sragen sudah ada yang panen. Saat ini memang sedang mulai. Bulog sudah siap membeli gabah dari petani

Solo (Antaranews Jateng) - Gubernur Provinsi Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan wilayahnya tidak perlu beras impor karena sebentar lagi memasuki musim panen.

"Kami tidak perlu beras impor, kasih saja ke daerah lain yang membutuhkan," kata Ganjar di sela inspeksi ke Pasar Legi Solo, Sabtu.

Untuk memastikan beras impor tidak masuk ke Jawa Tengah, ia akan meningkatkan pengawasan baik melalui pelabuhan maupun pintu masuk yang lain.

Menurut dia, pencegahan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi jatuhnya harga beras mengingat sebentar lagi petani akan melakukan panen pertama pada 2018.

"Sebentar lagi kami akan panen. Wilayah Grobogan sudah ada yang panen, lalu Kudus dan Sragen sudah ada yang panen. Saat ini memang sedang mulai. Bulog sudah siap membeli gabah dari petani," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Ganjar juga memperkenalkan beras kualitas medium yang disalurkan oleh Bulog melalui pedagang pasar. Untuk beras kualitas medium tersebut harganya Rp9.350/kg.

"Harga ini lebih rendah dibandingkan harga beras lain saat ini yang masih cukup tinggi. Jadi kalau ada konsumen yang bilang kenapa sekarang harga beras mahal, kami arahkan untuk beli beras dari Bulog ini," katanya.

Kepala Perum Bulog Subdivre III Surakarta Titov Agus Sabela mengatakan saat ini stok beras Bulog mencapai kurang lebih 13.000 ton. Jumlah itu cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah setempat hingga Maret 2018.

"Kalau mengenai operasi pasar dengan melibatkan pedagang yang dilakukan oleh Bulog, sejak awal bulan Januari hingga saat ini volume beras yang sudah disalurkan sebanyak 3.000 ton," katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah Yuni Astuti memprediksi pada Januari 2018, lahan sawah yang akan panen seluas 108.000 hektare dengan produktivitas sekitar 7-9 ton/hektare.

"Selanjutnya memasuki bulan Februari 2018 akan ada sekitar 300.000-an hektare sawah yang panen. Produksinya untuk gabah kering panen sekitar 8-9 ton/hektare," katanya.

Ia mengatakan untuk daerah-daerah di Jawa Tengah yang sudah memasuki musim panen di antaranya Demak, Kudus, Grobogan, dan Sragen.

"Hari Rabu (24/1) minggu depan rencananya Pak Menteri (Menteri Pertanian, red.) akan melakukan panen ke daerah-daerah ini," katanya.



Pewarta:
Editor: M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026