Logo Header Antaranews Jateng

Phapros Bangun Pabrik "Scaffold Hydroxyapetite" di Bandung

Selasa, 22 Agustus 2017 18:50 WIB
Image Print
Bandung - Direktur Utama PT Phapros Barokah Sri Utami meletakkan batu pertama fasilitas produksi "scaffold hydroxyapetite" di kawasan pabrik PT Mitra Rajawali Banjaran (MRB), di Bandung, Selasa (22/8) (Foto: ANTARAJATENG.COM/Dokumen Phapros)

Semarang, ANTARA JATENG - PT Phapros Tbk dan PT Mitra Rajawali Banjaran sebagai anak perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) membangun fasilitas produksi "scaffold hydroxyapetite" di Bandung.

"`Scaffold hydroxyapetite` bisa dimanfaatkan sebagai komponen implantasi penopang tulang dan gigi," kata Direktur Utama PT Phapros, sebagaimana keterangan tertulis yang diterima Antara, di Semarang, Selasa.

Hal tersebut diungkapkan Emmy, sapaan akrab Barokah usai peletakan baru pertama pembangunan fasilitas produksi "scaffold hydroxyapetite" di pabrik PT Mitra Rajawali Banjaran (MRB), di Banjaran, Bandung.

Menurut dia, "scaffold hydroxyapetite" merupakan hasil hilirisasi riset produk alat kesehatan dalam negeri yang diriset oleh Dr. dr. Ferdiansyah dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soetomo, Surabaya.

"Fasilitas produksi yang saat ini dibangun memang kapasitasnya masih medium, tetapi ke depannya akan terus dikembangkan seiring tumbuhnya pasar alat-alat kesehatan yang cukup tinggi," katanya.

Pertumbuhan pasar alat-alat kesehatan di Indonesia mencapai 13 persen, kata dia, sehingga fasilitas tersebut akan terus berkembang, baik dari sisi kapasitas maupun penambahan varian produk tersebut.

Ia mengakui selama ini produk "scaffold hydroxyapetite" yang beredar di pasaran sebagai "bone filler" 100 persennya masih impor dari berbagai negara, seperti Italia, Jerman, dan Korea.

"Ini akan menjadi produk alat kesehatan `scaffold hydroxyapetite` lokal yang pertama di Indonesia. Kami targetkan fasilitas produksi ini bisa beroperasi penuh pada semester II/2018," katanya.

Pada tahun ketiga nanti, kata Emmy, Phapros menargetkan omzet yang diraup dari produksi dan penjualan produk alat kesehatan "scaffold hydroxyapetite" itu bisa mencapai Rp10 miliar.

Mengenai kerja sama itu, pada awal 2017 sudah disepakati dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Phapros dan MRB terkait penggunaan aset "idle" MRB untuk produksi "scaffold hydroxyapetite".

Komisaris Utama Phapros, sekaligus Direktur Keuangan RNI, M Yana Aditya mengatakan kerja sama antara Phapros dan MRB itu merupakan bentuk sinergi anak perusahaan RNI dalam mendukung upaya kemandirian alat kesehatan nasional.

"Kerja sama ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 6/2016 tentang percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Kami gagas kolaborasi Phapros yang punya modal dan teknologi, dengan MRB yang punya lahan dan aset," katanya.

Tak hanya memanfaatkan aset "idle" milik MRB, Phapros juga akan melakukan transfer keilmuan kepada sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki MRB mengenai hal-hal teknis kaitannya produksi "scaffold hydroxyapetite".



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026