Logo Header Antaranews Jateng

Pendidikan Karakter Harus Berbasis Pancasila

Selasa, 18 Juli 2017 21:28 WIB
Image Print
Anggota DPR RI Eva K. Sundari ketika tampil sebagai narasumber pada Rakor Kemenko PMK bertema "Pendidikan Karakter Pancasila dan Revolusi Mental" di Kota Kediri, Selasa (18/7/17). (Foto: ANTARAJATENG.COM/dok. Eva K. Sundari)
Pendidikan karakter berbasis Pancasila akan bisa mewujudkan siswa yang berintegritas, beretos kerja tinggi, dan berjiwa gotong royong.

Kediri, Jatim, ANTARA JATENG - Pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 harus berbasis Pancasila, kata anggota DPR RI Eva Kusuma Sundari dalam Rakor Kemenko PMK bertema "Pendidikan Karakter Pancasila dan Revolusi Mental" di Kota Kediri, Selasa (18/7/17).

Hal ini, kata Eva K. Sundari, karena Pancasila adalah jiwa dan kepribadian Indonesia sehingga karakter yang terbentuk adalah mencerminkan sila-sila dalam Pancasila.

Eva menegaskan bahwa pendidikan karakter bukan checks kosong, melainkan harus karakter Pancasila karena koruptor juga berkarakter, jihadis pro-ISIS juga berkarakter. Akan tetapi, keduanya justru merugikan bangsa dan negara.

Rakor yang dihadiri oleh seluruh kepala SMP dan SMA se-Kota Kediri itu juga menampilkan narasumber, yakni Dr. Femmy Eka Kartika Putri, M.Ps. (Asisten Deputi Pendidikan Kemenko PMK), Dr. Awalludin Tjalla (Direktur Pusat Kurikulum dan Buku Kemendikbud), dan Satriyani, M.P. (Kepala SMP Pawyatan Daha 1 Kediri).

"Pendidikan karakter berbasis Pancasila akan bisa mewujudkan siswa yang berintegritas, beretos kerja tinggi, dan berjiwa gotong royong. Ketiga hal itulah muatan revolusi mental," kata Dr. Femmy.

Femmy berharap, Kota Kediri memelopori implementasi Kurikulum 2013 mengingat sudah ada best practice dari SMP Pawyatan Daha 1 Kediri yang menonjolkan nilai nasionalisme, sila 3 dari Pancasila.

Pancasila yang merangkul kebinekaan dalam kesetaraan harus diwujudkan dengan merayakan keberagaman pula dalam sistem pendidikan. Masing-masing sekolah bisa mengembangkan ciri khas yang merupakan keunggulan sekolah tersebut sesuai dengan situasi dan lingkungan setempat. Dengan demikian, Pancasila menjadi aktual, relevan, dan kontektual, serta mampu menjadi living ideology (ideologi yang hidup).

"Keberagaman itu output-nya sama, yaitu siswa yang berdaulat sehingga punya life skills untuk menolak drugs, radikalisme, pornografi. Berdikari serta berkepribadian dalam kebudayaan," kata Eva lagi.

Menurut Eva, idealnya pendidikan sekolah terintegrasi dengan pembinaan lingkungan serta keluarga sehingga tantangannya adalah bagaimana sekolah mampu melibatkan keduanya untuk mewujudkan pendidikan karakter berbasis Pancasila kepada siswa-siswinya.



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026